Bumi Diprediksi Kembali Jadi Superkontinen 250 Juta Tahun Lagi

Dalam 250 juta tahun ke depan, benua-benua di Bumi diperkirakan akan kembali bersatu menjadi satu daratan raksasa. Simulasi terbaru menunjukkan kondisi superpanas dan kekeringan ekstrem bisa membuat sebagian besar wilayah tak lagi layak huni bagi mamalia.

**Gambaran Atlas Dunia Masa Depan**

Bayangkan membuka atlas dunia di masa mendatang. Samudra Atlantik tidak lagi selebar sekarang, Laut Mediterania menghilang, dan Prancis tidak lagi berada di tepi Eropa Barat seperti hari ini. Sebaliknya, negara itu berada di dekat pertemuan Eropa dan Afrika, di pinggiran daratan raksasa yang baru: sebuah superkontinen.

Itulah gambaran yang muncul dari penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature. Studi ini memproyeksikan bahwa sekitar 250 juta tahun mendatang, seluruh benua di Bumi dapat menyatu kembali menjadi satu daratan besar.

**Mekanisme Penyatuan Benua**

Di bawah setiap samudra, kerak Bumi terpecah menjadi lempeng tektonik—lempengan batu raksasa yang bergerak perlahan, hanya beberapa sentimeter per tahun. Ketika kerak samudra mendingin, ia menjadi lebih padat dan tenggelam ke zona subduksi—palung panjang tempat satu lempeng menyelusup ke bawah lempeng lain.

Proses ini menarik bagian lempeng lainnya, membuat benua terus bergerak hingga akhirnya bertabrakan dan menyatu. Selama jutaan tahun, tabrakan ini menutup lautan lama dan membentuk daratan baru.

**Perubahan Geografis Drastis**

Dalam simulasi yang dilakukan oleh tim dari University of Bristol, Prancis diperkirakan akan bergerak lebih ke utara, mendekati Lingkar Arktik dibandingkan posisinya saat ini. Afrika dan Eropa akan saling bertumbukan hingga Laut Mediterania lenyap.

Maroko, Aljazair, dan Tunisia tidak lagi dipisahkan oleh laut dari Prancis, melainkan menjadi satu daratan utuh. Hilangnya Laut Mediterania membawa dampak besar karena laut selama ini berfungsi sebagai “penyerap panas” alami.

**Ancaman bagi Kehidupan Mamalia**

Penelitian ini tidak hanya memetakan posisi benua, tetapi juga menjalankan simulasi iklim untuk melihat bagaimana mamalia akan bertahan. Hasilnya mengkhawatirkan.

Model komputer menunjukkan bahwa stres panas dapat memusnahkan sebagian besar mamalia darat di wilayah interior superkontinen.

Dr. Alexander Farnsworth, peneliti utama dari Inggris barat daya, menjelaskan: “Superkontinen di masa depan akan menjadi tempat yang sangat sulit untuk dihuni oleh mamalia. Sebagian besar daratan akan terlalu panas dan kering untuk mendukung kehidupan hewan besar.”

**Indikator Suhu Bola Basah**

Salah satu indikator penting adalah suhu bola basah—gabungan antara panas dan kelembapan. Ketika suhu bola basah melewati ambang tertentu, tubuh tidak lagi mampu mendinginkan diri lewat keringat.

Dalam kondisi tersebut, bahkan berteduh pun tidak cukup untuk menyelamatkan diri.

**Peran Aktivitas Vulkanik**

Proses pembentukan superkontinen juga akan memicu aktivitas vulkanik besar-besaran. Retakan panjang di kerak Bumi dan rantai gunung api baru akan meningkatkan pelepasan gas dari batuan cair, termasuk karbon dioksida.

Tambahan CO2 ini memperkuat efek rumah kaca, menjebak lebih banyak panas di atmosfer selama ribuan tahun. Tak hanya itu, Matahari juga diperkirakan akan menjadi sekitar 2,5 persen lebih terang dibandingkan sekarang.

**Fenomena Kontinentalitas**

Superkontinen berarti sebagian besar daratan berada jauh dari laut. Fenomena ini dikenal sebagai kontinentalitas—ketika wilayah pedalaman mengalami fluktuasi suhu lebih ekstrem karena jauh dari pengaruh moderasi samudra.

Udara kering pun mendominasi, karena uap air sudah “jatuh” sebagai hujan sebelum angin mencapai bagian terdalam daratan. Model menunjukkan bahwa di sebagian besar wilayah superkontinen, suhu musim panas dapat melampaui 40 derajat Celsius untuk periode panjang setiap tahunnya.

**Zona Perlindungan di Pesisir**

Meski sebagian besar daratan menjadi panas dan kering, wilayah pesisir dan lintang tinggi masih relatif lebih sejuk. Udara laut membantu menstabilkan suhu dan menjaga siklus air tetap berlangsung melalui awan, sungai, dan tanah.

Dalam proyeksi ini, Prancis bagian utara berada dekat zona yang lebih “ramah” tersebut. Inggris, Portugal, dan sebagian Afrika Utara juga berada di tepi yang lebih sejuk—meski bentuk garis pantainya akan sangat berbeda dari sekarang.

**Keterbatasan Model Prediksi**

Para ilmuwan mengingatkan bahwa model ini tetap memiliki keterbatasan. Tidak ada yang bisa benar-benar “menyaksikan” pergerakan lempeng selama ratusan juta tahun. Perubahan kecil dalam jalur tumbukan lempeng bisa menghasilkan bentuk superkontinen yang berbeda.

Detail seperti danau, selat sempit, atau lapisan es juga dapat memengaruhi suhu lokal.

**Relevansi bagi Penelitian Modern**

Meski membahas masa depan 250 juta tahun lagi, studi ini memberi pelajaran penting bagi sains modern. Eksperimen jangka panjang seperti ini membantu ilmuwan menguji model iklim dalam kondisi ekstrem, sehingga pemodelan perubahan iklim saat ini bisa menjadi lebih akurat.

Penelitian ini juga relevan bagi pencarian planet layak huni di luar Tata Surya. Sebuah planet mungkin berada di zona jarak yang tepat dari bintangnya, tetapi tetap terlalu panas di bagian pedalamannya karena distribusi daratan dan laut.

**Pelajaran dari Sejarah Geologi**

Geologi menentukan di mana daratan dan samudra berada. Gas rumah kaca dan cahaya Matahari menentukan seberapa panas dan kering wilayah tersebut.

Dalam konteks ini, “pentingnya” Prancis di masa depan bukan karena batas negara, melainkan karena letak lintang dan kedekatannya dengan laut.

**Dampak Jangka Panjang**

Jika seluruh benua kembali menyatu, maka jalur pendinginan alami dan distribusi air di Bumi akan berubah total. Geografi akan menjadi penentu utama wilayah mana yang tetap layak huni.

Penelitian lanjutan di masa depan dapat memperhalus proyeksi ini dengan memasukkan lebih banyak detail tentang sistem Bumi.

**


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Ensiklopedia Saintis Junior: Laut

Laut Bercerita