Dampak Eating Disorder, Risiko Gagal Jantung dan Osteoporosis Naik 2 Kali Lipat

Gangguan makan tidak hanya berdampak pada kebiasaan konsumsi dan kondisi psikologis, tetapi dapat merusak organ vital dalam tubuh. Riset terbaru yang diterbitkan dalam BMJ Medicine mengungkap bahwa tubuh menyimpan dampak negatif kondisi ini selama bertahun-tahun, dengan risiko penyakit serius seperti gagal jantung dan osteoporosis meningkat drastis.

Karena itu, penderita gangguan makan memerlukan pengawasan medis berkelanjutan.

**Efek Negatif Bertahan Meski Tampak Pulih**

Banyak yang mengasumsikan bahwa risiko fisik akan menurun seiring pemulihan, namun penelitian baru membuktikan bahwa tubuh tetap menyimpan efek buruk tersebut jauh setelah gangguan tampak terkendali.

Dikutip dari Earth.com, penelitian ini menunjukkan luasnya dampak jangka panjang gangguan makan terhadap kesehatan. Studi ini menganalisis rekam medis dari 24.709 orang di Inggris selama periode sepuluh tahun.

**Peningkatan Risiko Penyakit Fisik dan Mental**

Data penelitian menunjukkan bahwa dampak eating disorder terhadap kesehatan fisik dan mental melonjak tajam, bahkan setelah diagnosis, dan risikonya bertahan selama bertahun-tahun:

**Gangguan Organ Vital**
Dalam tahun pertama pasca diagnosis, penderita 6 kali lebih berpeluang didiagnosis gagal ginjal dan hampir 7 kali lebih mungkin mengalami penyakit hati. Setelah lima tahun, risiko ini masih 2,5 hingga hampir 4 kali lebih tinggi, dengan 110 dan 26 kasus tambahan per 10.000 orang pada tahun ke-10.

**Osteoporosis dan Penyakit Kardiovaskular**
Risiko mengalami pengeroposan tulang meningkat 6 kali lipat. Sementara itu, risiko gagal jantung meningkat dua kali lipat dan diabetes meningkat tiga kali lipat.

**Gangguan Kesehatan Mental**
Risiko depresi 7 kali lebih tinggi pada tahun pertama diagnosis (596 kasus tambahan per 10.000 orang), sedangkan risiko menyakiti diri sendiri lebih dari 9 kali lebih tinggi (309 kasus tambahan per 10.000 orang). Risiko ini menurun namun tidak hilang setelah lima tahun.

**Tingkat Mortalitas dan Risiko Bunuh Diri**

Dampak paling signifikan dari eating disorder terlihat pada angka kematian. Risiko kematian karena sebab apa pun dalam 12 bulan pertama diagnosis lebih dari 4 kali lebih tinggi. Untuk kematian tidak wajar, termasuk bunuh diri, risikonya 5 kali lebih tinggi.

Risiko ini menurun tetapi tetap tinggi. Sepuluh tahun setelah diagnosis, risiko bunuh diri masih hampir 3 kali lebih tinggi, yang bertanggung jawab atas 169 kematian tambahan per 100.000 orang.

**Kebutuhan Perawatan Jangka Panjang**

Para peneliti menekankan bahwa pemulihan tidak dapat diperlakukan sebagai pencapaian singkat. Perawatan yang dibutuhkan harus berkelanjutan dan terintegrasi.

“Data kami menjelaskan dampak jangka panjang yang substansial dari gangguan makan dan menekankan potensi peluang bagi perawatan primer untuk memiliki peran yang lebih besar dalam menawarkan dukungan dan pemantauan jangka panjang bagi individu yang sedang pulih dari gangguan makan,” kata para peneliti.

**Pentingnya Edukasi Medis**

Para ahli juga menyoroti kurangnya pendidikan medis yang memadai mengenai topik gangguan makan.

“Pendidikan kedokteran harus lebih menekankan pada pengenalan dan pengelolaan gangguan makan, untuk membekali penyedia layanan primer, spesialis, dan profesional kesehatan terkait dengan alat untuk mengidentifikasi tanda-tanda peringatan dini dan memantau risiko berkelanjutan yang terkait dengan gangguan makan,” tulis para ahli.

**Implikasi untuk Sistem Kesehatan**

Temuan ini menggarisbawahi perlunya perubahan paradigma dalam penanganan gangguan makan. Sistem kesehatan perlu mengintegrasikan pemantauan jangka panjang sebagai bagian standar dari protokol perawatan.

**Peran Keluarga dan Komunitas**

Keluarga, dokter, dan komunitas harus memastikan pemulihan tidak dianggap sebagai pencapaian singkat. Ini adalah perjalanan yang panjang, dan tubuh membutuhkan perhatian serta perawatan yang konsisten.

**Deteksi Dini dan Intervensi**

Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya deteksi dini gangguan makan dan intervensi yang tepat waktu. Semakin cepat kondisi ini diidentifikasi dan ditangani, semakin baik prognosis jangka panjang pasien.

**Pendekatan Multidisiplin**

Penanganan gangguan makan memerlukan pendekatan multidisiplin yang melibatkan psikiater, ahli gizi, dokter umum, dan tenaga kesehatan mental lainnya untuk memastikan perawatan komprehensif.

**Dukungan Berkelanjutan**

Sistem dukungan berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan pemulihan jangka panjang. Hal ini mencakup terapi psikologis, pemantauan medis rutin, dan dukungan sosial yang memadai.

Penelitian ini memberikan bukti kuat bahwa gangguan makan memiliki konsekuensi kesehatan yang jauh lebih kompleks dan bertahan lama daripada yang sebelumnya dipahami, menuntut pendekatan perawatan yang lebih holistik dan berkelanjutan.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Seri Nat Geo: Serba Gagal

Naik Haji di Masa Silam