Di Balik Ketertarikan pada Angka, Energi, dan Metafisika

Menjelang Imlek 2025 yang menandai masuknya Tahun Ular, ramalan demi ramalan kembali ramai diperbincangkan. Media sosial, grup percakapan keluarga, hingga obrolan santai di jam istirahat kantor dipenuhi tafsir tentang shio: siapa yang diprediksi sehat tapi tersendat kariernya, siapa yang perlu berhati-hati dalam relasi, dan siapa yang disebut akan mengalami keberuntungan tahun depan.

Bagi sebagian orang, ramalan ini sekadar bacaan musiman. Namun bagi yang lain, ia menjadi rujukan dalam mengambil keputusan—dari menunda langkah besar hingga mengatur jarak dalam hubungan.

**Bahasa Angka dan Energi dalam Keseharian**

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Dalam keseharian, bahasa tentang angka, energi, dan vibrasi semakin sering terdengar. Bukan hanya di media sosial, tetapi juga dalam percakapan sehari-hari—di ruang tunggu, di meja makan, di ruang kolektif, bahkan di lingkungan yang penghuninya tampak rasional dan terdidik.

Ada yang menunda keputusan karena “angka hidupnya belum mendukung”. Ada yang menjaga jarak karena “energinya tidak cocok”. Ada pula yang yakin bahwa peristiwa besar di dunia sejatinya dikendalikan oleh skenario tersembunyi kelompok elit yang tak terlihat.

Fenomena ini menarik bukan semata karena benar atau salahnya kepercayaan tersebut, melainkan karena pertanyaan yang menyertainya: apa yang sebenarnya sedang dicari manusia di balik ketertarikan pada angka, energi, dan metafisika? Mengapa, di tengah kemajuan sains dan teknologi, bahasa-bahasa semacam ini justru terasa semakin relevan?

**Perspektif Psikologis atas Kepercayaan**

Pendekatan psikologi humanistik lebih tertarik memahami mengapa seseorang mempercayai sesuatu daripada sibuk menilai apa yang ia percayai. Dari sudut pandang ini, ketertarikan pada numerologi, energi, shio, weton, zodiak, atau bahkan gagasan konspiratif dapat dibaca sebagai gejala psikologis yang manusiawi.

Kita hidup di zaman yang sarat ketidakpastian. Perubahan sosial berlangsung cepat, krisis datang silih berganti, dan informasi mengalir tanpa henti—sering kali saling bertabrakan. Sains membantu menjelaskan banyak hal tentang dunia, tetapi tidak selalu menjawab pertanyaan yang lebih personal dan eksistensial: apa makna semua ini bagi hidup saya?

Di sisi lain, sains sendiri berkembang dan merevisi kesimpulannya seiring temuan baru. Perdebatan yang silih berganti—misalnya antara diet karnivor dan vegetarian—menjadi contoh sederhana bahwa pengetahuan ilmiah pun bersifat dinamis.

Dalam ruang kosong yang cenderung menetap inilah, kepercayaan metafisis sering menemukan tempatnya.

**Tradisi Lokal sebagai Bahasa Makna**

Dalam praktik sehari-hari, kebutuhan akan makna ini tampak lintas budaya. Di sebagian keluarga Jawa, weton hari lahir masih diperhitungkan ketika menimbang kecocokan relasi atau mengambil keputusan penting. Bukan selalu untuk meramal masa depan, melainkan sebagai bahasa kehati-hatian agar hidup terasa lebih selaras.

Dalam konteks lain, shio kerap digunakan sebagai cara ringkas menjelaskan diri—”saya shio ini, jadi wataknya begitu”—sebuah narasi sederhana yang memberi rasa konsistensi. Sementara itu, zodiak sering hadir sebagai bahasa emosi yang diterima secara sosial, memungkinkan orang menjelaskan sensitivitas atau kebutuhan afektif tanpa harus membuka pengalaman batin secara telanjang.

Meski berbeda tradisi, ketiganya menyentuh kebutuhan yang serupa: membantu manusia membaca diri dan relasinya dengan dunia.

**Ketika Kepercayaan Menjadi Kaku**

Namun, di titik ini keraguan mulai muncul. Bukan pada keberadaan tradisi atau simbol itu sendiri, melainkan pada cara kita kadang memperlakukannya seolah tak pernah perlu dipertanyakan.

Dari sudut pandang psikologi kognitif, kecenderungan ini bukanlah hal yang aneh. Otak manusia memang dirancang untuk mencari pola dan keteraturan. Kita terbiasa menghubungkan peristiwa, menandai kebetulan, dan memberi makna pada rangkaian kejadian, bahkan ketika keterkaitan itu belum tentu nyata.

Dalam situasi penuh ketidakpastian, pola—apa pun bentuknya—memberi rasa aman. Angka, energi, dan bentuk metafisika lain kerap menjadi wadah bagi kebutuhan psikologis ini.

**Dimensi Emosi dan Sosial**

Kepercayaan tersebut tidak hanya bekerja di level pikiran, tetapi juga emosi. Dunia modern kerap membuat individu merasa kecil dan tak berdaya. Banyak keputusan besar terasa jauh dari jangkauan personal. Dalam kondisi seperti ini, sistem kepercayaan yang menawarkan rasa kendali—meski bersifat simbolik—dapat terasa menenangkan.

Dimensi sosial turut memperkuatnya. Kepercayaan yang dibagikan bersama menciptakan rasa kebersamaan dan identitas. Ada kenyamanan dalam merasa menjadi bagian dari kelompok yang “lebih peka” atau “lebih sadar”. Dalam batas tertentu, ini adalah kebutuhan manusiawi untuk merasa terhubung dan diakui.

**Garis Batas yang Penting**

Namun, di sinilah garis batas menjadi penting. Tidak semua kepercayaan metafisis bermasalah. Banyak orang tetap berfungsi dengan baik, terbuka berdialog, dan mampu membedakan keyakinan personal dari realitas bersama.

Persoalan muncul ketika keyakinan menjadi kaku, menutup kemungkinan koreksi, dan menggantikan tanggung jawab pribadi. Ketika setiap kegagalan selalu diserahkan pada energi buruk, angka sial, atau skenario tersembunyi, kepercayaan berhenti menjadi sumber makna dan justru menjauhkan manusia dari refleksi diri.

Masalahnya bukan pada keyakinan itu sendiri, melainkan pada ketidakmampuannya berdialog dengan realitas. Keyakinan yang sehat bersifat lentur, membantu memahami kehidupan secara reflektif, bukan menghindarinya.

**Pertanyaan yang Lebih Jujur**

Barangkali, pertanyaan yang lebih jujur bukanlah apakah angka, energi, atau metafisika itu benar secara ilmiah. Pertanyaan yang lebih penting adalah kebutuhan psikologis apa yang sedang kita titipkan pada semua itu. Apakah kita sedang mencari makna, rasa kendali, identitas, atau


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Pergulatan Transisi Energi Berkeadilan: Satu Isu Beragam Dilema

Perencanaan Pembangunan, Keuangan, dan Transisi Energi Daerah