Guinness World Records (GWR) secara resmi mencatat lukisan cap tangan prasejarah di Gua Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, sebagai karya seni non-figuratif tertua di dunia. Hasil penelitian arkeologi dan arkeometri memastikan lukisan dari era Paleolitikum ini berusia minimal 67.800 tahun.
Temuan revolusioner ini telah dipublikasikan dalam jurnal Nature dan merupakan hasil kerja kolaborasi internasional yang dipimpin Dr. Adhi Agus Oktaviana dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bersama Prof. Adam Brumm dan Prof. Maxime Aubert dari Griffith University, Australia.
**Kontak Mengejutkan dari Media Sosial**
Cerita di balik penobatan bergengsi ini dimulai secara tak terduga. Pihak Guinness World Records justru menghubungi tim peneliti Indonesia melalui Instagram untuk memberikan sertifikat kategori “oldest rock painting non-figurative art”.
“Tim Guinness World Records yang kontak kita lewat Instagram pertama, lalu menanyakan kapan mau diberi sertifikat tentang lukisan cadas non-figuratif tertua,” ungkap Adhi kepada Kompas.com, Kamis (28/5/2026).
Adhi mengaku tim peneliti sama sekali tidak menyangka akan mendapat pengakuan dari lembaga rekor dunia tersebut. “Kami senang karena selama ini jarang ada pengakuan internasional dari publik seperti ini,” tambahnya.
**Deretan Prestasi Arkeologi Indonesia**
Sebelum meraih rekor dunia GWR, riset seni cadas Sulawesi sudah berulang kali merebut perhatian global. Tim yang sama telah mengungkap berbagai temuan spektakuler, mulai dari lukisan adegan berburu di Liang Tedong berusia 45.500 tahun hingga lukisan gua naratif di Liang Karangpuang yang berusia 51.000 tahun.
Prestasi tim arkeologi ini terbukti melalui Penghargaan Achmad Bakri ke-18 pada 2022 dan penghargaan dari Shanghai Archaeology Forum di China pada 2023.
**Perjalanan Riset Sejak 2012**
Pencarian lukisan purba di Sulawesi telah berlangsung sejak 2012, dimulai dari semenanjung barat daya kemudian bergeser ke tenggara dan menyeberang ke Pulau Muna. Adhi bergabung sebagai peneliti utama seni cadas lapangan sejak 2013.
Tantangan terbesar terletak pada pengumpulan dana penelitian dan kerja laboratorium bertahun-tahun bersama pakar geokronologi untuk mengembangkan metode penanggalan akurat guna mengukur usia lapisan kalsit di atas lukisan.
Prof. Adam Brumm menekankan pentingnya kerja sama multidisiplin dalam proyek ini. “Keterampilan dan keahlian dari berbagai ilmuwan yang berbeda sangat diperlukan untuk mengungkap data arkeologi baru dan memecahkan misteri masa lalu yang kuno,” katanya.
**Jejak Migrasi dan Kecerdasan Manusia Purba**
Temuan cap tangan berusia minimal 67.800 tahun memberikan perspektif baru tentang kedalaman akar budaya seni dalam spesies Homo sapiens. Seni cadas ini menjadi petunjuk penting jalur migrasi manusia modern awal ketika pertama kali memasuki wilayah Nusantara.
Karya ini membuktikan nenek moyang di masa lampau telah memiliki tingkat kognisi tinggi yang memungkinkan mereka merekam aktivitas dan cerita sehari-hari di dinding gua.
Tim peneliti berharap dapat terus mencari contoh seni purba lainnya di Sulawesi. Namun, mereka memperingatkan situs-situs bernilai sejarah tinggi ini kini terancam rusak akibat faktor alami batuan yang mengelupas dan vandalisme pelancong tidak bertanggung jawab. Digitalisasi situs kini didorong agar warisan dunia ini tidak hilang ditelan waktu.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: