Ditemukan Fosil Buaya Berkaki Panjang yang Hidup 200 Juta Tahun Lalu

Ilmuwan menemukan spesies baru buaya purba yang hidup sekitar 200 juta tahun lalu pada periode Trias. Fosilnya ditemukan di Gloucester, Inggris, dan mengungkap fakta mengejutkan: nenek moyang buaya ternyata bukan penghuni sungai atau rawa seperti yang kita kenal sekarang, melainkan pelari cepat di daratan.

Spesies ini termasuk dalam kelompok crocodylomorpha, garis evolusi luas yang mencakup buaya modern. Namun, bentuk tubuhnya sangat berbeda dari buaya masa kini. Ia memiliki kaki panjang dan ramping serta tubuh ringan—ciri yang membuatnya lebih mirip “anjing greyhound versi reptil” daripada predator semi-akuatik.

**Adaptasi Sempurna untuk Kehidupan Darat**

Pada zaman Trias, wilayah yang kini menjadi bagian dari Inggris berada di dataran tinggi yang dikelilingi hamparan panas dan kering. Di tengah vegetasi lebat, buaya purba ini kemungkinan berburu reptil kecil, amfibi, dan mamalia awal.

Struktur tubuhnya menunjukkan adaptasi penuh terhadap kehidupan darat. Tidak seperti buaya modern yang bertubuh tambun dengan kaki pendek dan kuat untuk berenang, spesies ini justru memiliki tungkai panjang dan postur tegak—menandakan kemampuan berlari cepat melintasi lanskap kering.

**Nama yang Penuh Makna**

Nama spesies ini unik dan penuh makna: Galahadosuchus jonesi. Bagian pertama namanya merujuk pada Galahad, ksatria legendaris dalam mitologi Arthur yang dikenal karena sikap tegaknya—sebuah penghormatan pada postur tubuh hewan ini.

Sementara bagian kedua diberikan untuk menghormati seorang guru yang menginspirasi peneliti utama studi tersebut.

“Kami menamainya berdasarkan guru fisika saya di sekolah menengah,” ujar Ewan Bodenham, mahasiswa PhD di Natural History Museum London dan University College London sekaligus penulis utama penelitian ini.

**Tribut untuk Guru yang Menginspirasi**

Ewan menambahkan, “Pak Jones adalah guru yang sangat baik, bukan hanya karena mampu menjelaskan dengan jelas, tetapi karena terlihat benar-benar tertarik pada sains. Itu sangat menginspirasi saya.”

Menurut Ewan, gurunya juga selalu menantang murid-muridnya untuk berkembang. “Ia tidak membiarkan saya cepat puas. Ia sangat pandai menantang orang dan membantu siswa menjadi versi terbaik dari diri mereka. Di atas segalanya, ia adalah sosok yang lucu, tulus, dan baik.”

**Perangkap Alami yang Mengawetkan Fosil**

Fosil buaya purba ini ditemukan di endapan celah batu (fissure deposits) di kedua sisi Selat Bristol, wilayah selatan Wales dan barat daya Inggris. Retakan dan gua alami di kawasan tersebut dahulu berfungsi sebagai “perangkap” alami.

Hewan yang mati di permukaan tanah terbawa masuk dan tertimbun sedimen, sehingga jasadnya terawetkan selama jutaan tahun.

**Membandingkan dengan Spesies Serupa**

Di lokasi yang sama, para peneliti sebelumnya juga menemukan spesies lain bernama Terrestrisuchus, salah satu cabang awal kelompok crocodylomorpha. Sama seperti spesies baru ini, Terrestrisuchus memiliki kaki panjang dan sepenuhnya hidup di darat.

Proyek doktoral Ewan memang berfokus pada hubungan evolusi buaya-buaya awal ini. “Proyek PhD saya meneliti hubungan evolusi buaya-buaya awal,” jelasnya.

**13 Perbedaan Anatomi Signifikan**

“Kami melakukan deskripsi anatomi secara rinci terhadap spesimen ini, lalu membandingkannya dengan buaya awal lainnya untuk menentukan apakah ini hanya contoh lain dari Terrestrisuchus atau benar-benar spesies baru.”

Hasilnya cukup meyakinkan. Tim peneliti menemukan 13 perbedaan anatomi penting antara fosil baru ini dan Terrestrisuchus. Perbedaan tersebut dinilai cukup signifikan untuk menetapkannya sebagai spesies yang sepenuhnya baru.

**Hidup Sebelum Kepunahan Massal**

Penemuan ini menambah daftar keanekaragaman hayati yang hidup di wilayah tersebut pada akhir periode Trias. Masa itu terjadi tepat sebelum peristiwa kepunahan massal Trias-Jura, yang dipicu oleh peningkatan aktivitas vulkanik besar-besaran sehingga mengubah iklim global.

Dengan mendokumentasikan spesies yang hidup sebelum kepunahan massal tersebut, para ilmuwan dapat memahami bagaimana makhluk hidup bereaksi terhadap perubahan lingkungan ekstrem.

**Pemahaman Baru tentang Evolusi Buaya**

Penelitian ini tidak hanya memperkaya pemahaman tentang evolusi buaya, tetapi juga memberi gambaran lebih luas tentang ekosistem purba sebelum salah satu bencana terbesar dalam sejarah Bumi.

Temuan buaya berkaki panjang ini menjadi pengingat bahwa evolusi tidak selalu berjalan lurus. Nenek moyang buaya ternyata pernah menjadi pelari darat yang gesit, jauh berbeda dari citra predator sungai yang kita kenal sekarang.

Penemuan Galahadosuchus jonesi membuktikan betapa beragamnya bentuk kehidupan di masa lalu dan bagaimana spesies beradaptasi dengan lingkungannya. Dari pelari darat yang lincah hingga menjadi predator semi-akuatik seperti sekarang, perjalanan evolusi buaya ternyata penuh dengan kejutan.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Evolusi: Dari Teori ke Fakta

Genom: Kisah Spesies Manusia dalam 23 Bab