Hutan hujan Amazon kembali memperlihatkan kekayaan hayatinya yang mengagumkan. Para ilmuwan baru saja mengidentifikasi dua spesies burung baru yang sebelumnya dianggap bagian dari satu spesies yang sama.
Penemuan ini membuktikan bahwa bahkan di antara hewan yang sudah lama dipelajari, masih banyak keragaman yang belum terungkap.
Dua spesies baru tersebut adalah Cercomacra mura dan Cercomacra raucisona, yang termasuk kelompok burung kecil pemakan serangga dari keluarga Thamnophilidae, yang dikenal sebagai antbird atau burung pemakan semut.
Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Vertebrate Zoology.
**Penampilan Mirip, Genetik Berbeda**
Penelitian ini berfokus pada gray antbird (Cercomacra cinerascens), burung kecil yang hidup di hutan Amazon dan tersebar luas di berbagai negara Amerika Selatan seperti Brasil, Bolivia, Kolombia, Ekuador, Peru, hingga Venezuela.
Burung ini biasanya hidup di lapisan bawah hutan yang lebat dan cenderung sulit diamati.
Secara penampilan, perbedaan antarpopulasinya sangat halus: jantan umumnya berwarna abu-abu gelap dan betina berwarna cokelat keabu-abuan. Perbedaan warna bulu yang sangat tipis membuat para ahli burung (ornitolog) selama bertahun-tahun menganggap semua populasi tersebut sebagai satu spesies yang sama.
Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat.
**Kombinasi Museum, Rekaman Suara, dan AI**
Tim peneliti yang dipimpin oleh Vagner Cavarzere dari Universidade Estadual Paulista (UNESP), Brasil, melakukan analisis menyeluruh terhadap kelompok burung ini.
Mereka meneliti 682 spesimen burung dari koleksi museum dan 347 rekaman suara kicauan burung dari berbagai wilayah Amazon.
Selain itu, para ilmuwan juga menggunakan BirdNET, sistem kecerdasan buatan yang dilatih untuk mengenali dan menganalisis suara burung.
Menurut para peneliti, suara memainkan peran penting dalam identifikasi spesies burung. “Burung sangat bergantung pada komunikasi vokal yang penting untuk mengenali spesies,” jelas para peneliti.
“Nyanyian mereka bertindak sebagai tanda akustik yang menjadi kunci kuat untuk membuka keragaman yang tersembunyi.”
Teknologi AI membantu mengubah suara burung menjadi data numerik sehingga pola kicauan dapat dibandingkan secara sistematis.
**Sungai Amazon sebagai Penghalang Alami**
Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan jelas antara populasi burung yang dipisahkan oleh sungai-sungai besar di Amazon.
Burung yang hidup di utara sungai seperti Pastaza, Marañón, Solimões, dan Amazon memiliki pola suara dan warna bulu yang berbeda dibandingkan populasi di selatan.
Para ilmuwan menyimpulkan bahwa sungai-sungai besar tersebut telah bertindak sebagai penghalang alami selama ribuan tahun, membuat populasi burung berkembang secara terpisah.
“Sungai-sungai ini berfungsi sebagai penghalang alami jangka panjang,” kata para peneliti. “Populasi burung berkembang secara terpisah selama ribuan tahun hingga menjadi spesies unik seperti yang kami deskripsikan sekarang.”
**Dua Spesies Baru dari Amazon Selatan**
Dari penelitian tersebut, ilmuwan akhirnya mendeskripsikan dua spesies baru:
**1. Cercomacra mura**
Spesies ini ditemukan di wilayah hutan antara Sungai Ucayali dan Sungai Madeira di Amazon barat. Nama mura diberikan untuk menghormati Suku Mura, masyarakat adat yang tinggal di wilayah tersebut.
**2. Cercomacra raucisona**
Spesies ini hidup di wilayah antara Sungai Madeira dan Sungai Tapajós. Namanya berasal dari bahasa Latin yakni raucus yang artinya serak dan sonus yang artinya suara. Nama tersebut menggambarkan ciri khasnya: kicauan dua nada yang terdengar serak.
**Dari Satu Menjadi Lima Spesies**
Penelitian ini tidak hanya menemukan dua spesies baru. Para ilmuwan juga menaikkan status beberapa bentuk yang sebelumnya dianggap subspesies menjadi spesies penuh.
Akibatnya, kelompok Cercomacra cinerascens yang sebelumnya dianggap satu spesies kini diketahui terdiri dari lima spesies berbeda, masing-masing memiliki ciri suara khas, wilayah geografis tersendiri, dan hampir tidak ada bukti kawin silang antarspesies.
**Keragaman Tersembunyi yang Terungkap**
Penemuan ini menjadi pengingat bahwa keanekaragaman hayati Amazon masih jauh dari sepenuhnya dipahami, bahkan pada kelompok hewan yang sudah lama diteliti.
Teknologi modern seperti kecerdasan buatan kini membantu ilmuwan menemukan “keragaman tersembunyi” yang sebelumnya tidak terlihat.
“Dengan menggabungkan kecerdasan buatan, bioakustik, dan koleksi museum, kita dapat mengungkap keragaman yang sebelumnya tidak terlihat,” kata para peneliti.
“Mengakui keberadaan spesies-spesies ini adalah langkah pertama dan paling penting untuk memastikan perlindungan mereka di dunia yang berubah cepat.”
Penelitian ini sekaligus menunjukkan bahwa identifikasi spesies bukan sekadar soal klasifikasi, tetapi juga fondasi penting untuk konservasi keanekaragaman hayati di planet ini.
Dengan kemajuan teknologi dan metode penelitian yang semakin canggih, para ilmuwan optimistis akan menemukan lebih banyak spesies baru di masa depan, terutama di kawasan Amazon yang masih menyimpan banyak misteri kehidupan.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: