Efek “Batman” yang Bikin Penumpang Lebih Baik Hati di Kereta yang Penuh Sesak

Pemandangan tak lazim terjadi di kereta bawah tanah Milan ketika seorang pria berkostum lengkap ala Batman menaiki gerbong yang padat. Para penumpang tiba-tiba menjadi lebih peduli pada sesama. Dalam situasi tersebut, sekitar 67 persen penumpang memilih berdiri untuk memberi tempat duduk kepada seorang perempuan yang tampak sedang hamil.

Fenomena ini menjadi temuan menarik dalam sebuah penelitian terbaru yang menguji pertanyaan sederhana: bisakah satu kejutan kecil menggugah orang dari “autopilot” dan membuat mereka lebih peka terhadap orang lain?

**Eksperimen Langsung di Lapangan**

Penelitian dilakukan langsung di kereta bawah tanah Milan pada jam sibuk, menggunakan pendekatan dunia nyata (quasi-experimental design). Para psikolog ingin melihat apa yang terjadi ketika rutinitas para komuter terganggu oleh sesuatu yang tidak terduga.

Penelitian dipimpin oleh Francesco Pagnini, Profesor Psikologi Klinis di Università Cattolica del Sacro Cuore (UCDSC), yang selama ini meneliti hubungan antara kesadaran saat ini (mindfulness) dengan kesehatan dan pilihan sehari-hari.

Dua skenario dibuat untuk eksperimen ini:
– Seorang perempuan dengan perut hamil palsu masuk bersama seorang pengamat diam
– Perempuan yang sama masuk bersama seorang “Batman” yang berdiri sekitar tiga meter darinya tanpa melakukan interaksi apa pun

Setiap percobaan hanya dilakukan ketika semua kursi terisi dan hanya ada beberapa orang yang berdiri.

**Kehadiran Batman Meningkatkan Kebaikan**

Hasilnya mengejutkan: kehadiran Batman membuat penumpang tiga kali lebih mungkin memberikan tempat duduk. Menggunakan analisis logistic regression, para peneliti mencatat odds ratio sekitar 3,4 untuk kondisi dengan Batman.

Menariknya lagi, 44 persen dari mereka yang memberikan kursinya mengaku tidak menyadari kehadiran Batman sama sekali. Artinya, pengaruh Batman bekerja tidak hanya pada orang yang melihat kostumnya.

Ada efek yang lebih luas: kehadiran sosok tak biasa itu tampaknya mengganggu pola rutinitas seluruh gerbong, membuat semua orang lebih waspada terhadap lingkungan sekitar.

**Hubungan Mindfulness dan Perilaku Menolong**

Para psikolog sudah lama mempelajari konsep mindfulness—perhatian penuh pada apa yang terjadi saat ini tanpa menghakimi. Sebuah tinjauan besar terhadap 31 studi menemukan bahwa mindfulness terkait dengan peningkatan kecil hingga sedang dalam perilaku menolong.

Bahkan, penelitian pada ribuan mahasiswa kedokteran menunjukkan bahwa mereka yang lebih mindful cenderung lebih suka membantu, terutama jika memiliki nilai moral yang kuat.

Temuan ini mendukung ide bahwa kesadaran dan nilai hidup dapat bekerja bersama, menciptakan ruang bagi tindakan prososial.

**Gangguan Kecil yang Memecah Kebiasaan**

Namun dalam kereta Milan tidak ada meditasi, aplikasi mindfulness, ataupun instruksi khusus. Hanya ada kejutan kecil yang memecah kebiasaan.

“Temuan kami serupa dengan penelitian sebelumnya yang menghubungkan kesadaran momen kini (mindfulness) dengan meningkatnya prososialitas,” ujar Pagnini.

**Social Priming dalam Kehidupan Nyata**

Para peneliti menekankan bahwa efek Batman mirip dengan konsep social priming—di mana isyarat halus dapat memunculkan gagasan tertentu dan memengaruhi perilaku. Penelitian klasik menunjukkan bahwa mahasiswa yang diingatkan tentang sosok superhero cenderung merelakan dua kali lebih banyak waktu untuk kegiatan sosial dibanding kelompok kontrol.

Batman di kereta mungkin bekerja dengan cara serupa: memunculkan simbol perlindungan, keberanian, atau kewajiban moral untuk membantu yang lemah.

**Teknik Persuasi yang Tidak Biasa**

Taktik ini juga berkaitan dengan pique technique, strategi persuasi yang menggunakan hal-hal aneh untuk mengganggu respons otomatis. Ibarat seseorang meminta uang “3,17 dolar”—jumlah yang aneh membuat orang berhenti sejenak dan berpikir ulang.

**Efek Penularan Sosial**

Peneliti juga mempertimbangkan social contagion, yaitu penyebaran perilaku di antara kelompok. Jika satu orang bangkit dan memberikan kursinya, orang lain cenderung mengikuti.

Dalam eksperimen Milan, bahkan penumpang yang tidak melihat Batman mungkin melihat seseorang berdiri, lalu merasa terdorong melakukan hal yang sama. Tindakan kecil ini dapat menciptakan ripple effect dalam ruang sosial yang terbatas seperti gerbong kereta.

**Implikasi untuk Desain Kota**

Temuan ini membuka peluang kreatif bagi desainer kota dan pengelola transportasi. Poster atau pengumuman sering diabaikan, tetapi kejutan kecil yang aman dan positif dapat menarik perhatian lebih efektif.

Beberapa ide yang mungkin:
– Penampilan seniman jalanan
– Aksi seni singkat dalam bus atau kereta
– Instalasi visual yang unik

Semuanya dapat membantu orang mengangkat kepala dari ponsel dan memperhatikan siapa yang butuh bantuan. Namun, strategi ini harus diuji cermat agar mendorong kebaikan, bukan kebingungan.

**Potensi Kecil dengan Dampak Besar**

Penelitian ini tidak menyarankan semua orang mengenakan kostum superhero saat pergi bekerja. Tetapi eksperimen ini menunjukkan bahwa gangguan kecil dalam rutinitas dapat membuka ruang bagi kebaikan, mengingatkan bahwa banyak orang sebenarnya siap membantu—hanya saja perlu sedikit “sentakan” untuk menyadarinya.

**Kesimpulan Studi**

Seperti disimpulkan dalam studi yang terbit di npj Mental Health Research: satu penumpang berkostum dapat mengubah suasana sosial satu gerbong, meski hanya sebentar, dan membuat kebaikan terasa seperti pilihan yang paling wajar.

**Relevansi untuk Transportasi Publik**

Temuan ini relevan bagi pengelola transportasi publik yang ingin mendorong perilaku positif di antara penumpang. Intervensi sederhana yang tidak mengganggu namun menarik perhatian dapat menjadi alternatif efektif dibanding himbauan konvensional.

**Dampak Psikologis Kostum**

Kostum superhero dalam konteks ini berfungsi sebagai simbol yang kuat, memicu asosiasi dengan nilai-nilai heroik dan altruisme. Hal ini menunjukkan kekuatan simbol visual dalam memengaruhi perilaku sosial secara tidak langsung.

**Pertanyaan untuk Riset Lanjutan**

Penelitian ini membuka pertanyaan baru: apakah efek serupa dapat dicapai dengan kostum atau simbol lain? Dan berapa


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Kaum Demokrat Kritis: Analisis Perilaku Pemilih Indonesia