El Nino 2026 Lebih Parah dari 1877? Peneliti BRIN: Jangan Panik Dulu, Data Bicara Lain

Klaim bahwa El Nino 2026 akan melampaui bencana iklim terbesar dalam sejarah manusia ramai beredar. Peneliti Ahli Utama BRIN membedah klaimnya berdasar data.

Sejumlah peneliti dan lembaga meteorologi dunia memperingatkan bahwa fase El Nino yang sedang terbentuk saat ini berpotensi menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah, memicu kekhawatiran akan terjadinya volatilitas serta tekanan berat pada stabilitas ekonomi dan pangan global.

Berdasarkan catatan sejarah, dampak El Nino dengan intensitas tinggi pernah mengubah jalannya peradaban manusia, mulai dari krisis politik di Mesir kuno, runtuhnya peradaban Moche di Peru sekitar 1.000 tahun lalu, hingga memicu kegagalan panen yang berkontribusi pada Revolusi Perancis di akhir tahun 1700-an.

Salah satu catatan kelam terjadi pada tahun 1877-1878, ketika fenomena Super El Nino kuat memicu kelaparan hebat di wilayah tropis dan menewaskan puluhan juta jiwa. Disebutkan, sejumlah model prediksi menunjukkan potensi kenaikan suhu permukaan laut hingga 3 derajat Celsius, sebuah angka yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Namun, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional, Eddy Hermawan, memiliki pembacaan berbeda. Ia meminta publik tidak terburu panik.

**Data 1877 Itu Dari Mana?**

Poin pertama yang langsung disorot Eddy adalah soal dari mana data historis pembanding tahun 1877 itu berasal.

“Kalau data itu sebanyak itu, terus terang saya tidak tahu sumbernya dari mana,” ujarnya kepada Kompas.com melalui telepon. “Badan-badan resmi seperti Climate Prediction Center pun datanya tidak sampai tahun itu. Paling jauh rata-rata hanya sampai 1950.”

Ini bukan soal meragukan sains secara keseluruhan. Eddy hanya mengingatkan bahwa catatan tahun 1877 berasal dari era dengan pengamatan yang masih terbatas, sehingga tingkat ketidakpastiannya cukup tinggi.

Ia juga menyentil satu hal yang sering luput dari perdebatan ini: kondisi Bumi di abad ke-19 sangat berbeda dari sekarang.

“Tahun 1877, tanamannya masih hijau, lautnya masih bagus, tidak ada kerusakan di mana-mana. Emisinya mungkin masih nol. Jangan bandingkan dengan sekarang, kerusakan lingkungan dan emisi ada di mana-mana.”

**El Nino 2026, Apakah Menjadi “Godzilla”?**

Untuk memahami kenapa El Nino 2026 mungkin tidak separah yang diramalkan, Eddy menjelaskan dua syarat utama yang harus terpenuhi agar sebuah El Nino bisa disebut ekstrem. Dalam istilah populer, fenomena ini kerap dijuluki “El Nino Godzilla.”

Untuk disebut El Nino Godzilla, syaratnya dua: Pertama, amplitudo. Nilai anomali suhu permukaan laut di kawasan Pasifik ekuatorial harus melampaui angka 2. Kedua adalah durasi: kondisi El Nino itu harus bertahan minimal 13 bulan.

Ia merujuk pada dua El Nino terkuat dalam era modern yang masing-masing mencatat kenaikan suhu Nino 3.4 hingga 2,4 derajat Celsius pada periode puncaknya.

“Referensi utama saya adalah apa yang terjadi di 1997 dan 2015. Dua kejadian itu sudah ada publikasinya, bukan sekadar dari media,” kata Eddy.

Pertanyaannya: apakah 2026 akan memenuhi kedua syarat itu?

**Peran Kunci yang Sering Terlupakan: Indian Ocean Dipole**

Di sinilah analisis Eddy menjadi semakin menarik. Ia menunjukkan bahwa dinamika atmosfer Indonesia tidak hanya ditentukan oleh El Nino di Pasifik. Ada faktor lain yang lebih dekat dan tak kalah penting: Indian Ocean Dipole.

IOD adalah fenomena variasi suhu permukaan laut di Samudra Hindia. Letaknya justru sangat dekat dengan wilayah barat Indonesia. Meski skalanya lebih kecil dari El Nino, pengaruhnya terhadap cuaca di kepulauan ini sangat nyata.

“El Nino Godzilla lahir bilamana Nino 3.4-nya di atas dua dan didukung oleh IOD yang berfase positif,” jelas Eddy.

Ia memberi contoh konkret. Pada 1997, IOD mencapai nilai 1,8 di bulan Oktober. Pada 2015, IOD hanya 0,8. Hasilnya pun berbeda. Tahun 1997 jauh lebih parah dari 2015.

Lalu bagaimana dengan 2026?

“Data terkini dari BOM Australia menunjukkan IOD tidak ada indikasi ingin bermain di fase positif. Begitu pula model dari JAMSTEC Jepang, tidak menunjukkan indikasi ke arah positif,” kata Eddy berdasarkan data per Mei 2026.

Kesimpulannya tegas. “Setinggi apapun amplitudonya sampai tiga, kalau tidak didukung oleh IOD, maka itu akan gagal menjadi El Nino Godzilla.”

**Bukan Godzilla, Tapi Jangan Abai**

Berdasarkan dua faktor itu, Eddy menyimpulkan bahwa El Nino 2026 kemungkinan besar tidak akan menjadi monster yang diramalkan sebagian pihak.

“Secara total, yang di atas dua itu hanya 13 persen saja. Yang dominan, 27 persen, justru berada di moderat, antara nilai 1 hingga 1,5,” paparnya.

Sebagian besar model yang ia telaah menempatkan El Nino 2026 di kisaran lemah hingga moderat.

Memprediksi kondisi El Nino secara akurat sedini ini memang secara historis sulit. Ilmuwan biasanya membutuhkan beberapa bulan lagi sebelum yakin meramalkan peristiwa kuat atau super. Eddy sendiri menggunakan data per Mei 2026 dan mengingatkan bahwa dinamika laut bergerak lambat, berbeda dari perubahan cuaca harian yang bisa berubah dalam hitungan jam.

“Pesan utama saya: jangan panik,” kata Eddy. “Tapi bukan berarti abai. Pantau terus perkembangannya.”

**Yang Perlu Diwaspadai Tetap Ada**

Meski bukan Godzilla, El Nino moderat tetap membawa risiko nyata bagi Indonesia. Musim kemarau yang lebih panjang tetap mungkin terjadi. Dampaknya terhadap pertanian, ketersediaan air bersih, dan risiko


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Talking to My Daughter about the Economy

Seri Misteri Favorit: Misteri Pondok Air Hitam

Jangan Buka Cafe Sebelum Baca Buku Ini