Ratusan juta tahun lalu, sebuah peristiwa besar mengubah sejarah bumi ketika makhluk air untuk pertama kalinya merangkak keluar dari samudra dan menjelajahi daratan kering. Kisah penaklukan daratan oleh hewan vertebrata ini merupakan salah satu babak penting dalam sejarah planet kita, meski sebagian besarnya masih misterius.
Kini, teka-teki tersebut mulai terjawab berkat seekor ikan purba berkepala keras.
Makhluk tersebut adalah Koharalepis jarviki, spesies ikan punah yang hidup 380 juta tahun lalu pada Periode Devon—sebuah era yang dijuluki sebagai “Zaman Ikan”. Sebagai ikan predator bersirip daging, para ilmuwan meyakini bahwa spesies ini termasuk di antara kelompok ikan pertama yang memulai transisi adaptasi dari penghuni lautan menjadi makhluk darat.
Sisa-sisa fosilnya ditemukan beberapa dekade lalu di lokasi yang mungkin terdengar tidak biasa, yaitu di Pegunungan Lashly, Antartika. Ketika K. jarviki masih berenang di lautan dan kemungkinan merangkak di tepian pantai, wilayah tersebut bukanlah daerah terpencil yang dipenuhi gunung salju dan lapisan es seperti sekarang, melainkan masih menjadi bagian dari superkontinen kuno Gondwana.
Hingga saat ini, para ilmuwan baru menemukan satu-satunya spesimen fosil dari spesies ini. Beruntung, fosil tunggal tersebut berada dalam kondisi yang sangat luar biasa dengan bagian tengkorak yang sebagian besar masih utuh.
Dalam sebuah studi terbaru, tim ilmuwan dari Flinders University di Australia memeriksa kembali spesimen berharga ini dengan memfokuskan perhatian pada bagian tulang internal tengkorak.
“Kami memilih untuk fokus pada Koharalepis karena ini adalah satu-satunya fosil di seluruh famili yang mempertahankan tulang internal tengkorak, yang memberi kami wawasan berharga tentang batok otak dan neuroanatominya,” ujar penulis utama studi tersebut, Corinne Mensforth, yang merupakan kandidat PhD dari Laboratorium Paleontologi di Flinders University.
**Adaptasi Kehidupan Permukaan**
Untuk melihat anatomi tersebut dengan detail yang luar biasa, para peneliti menembakkan sinar neutron ke bagian tengkorak fosil. Langkah ini berhasil mengungkap petunjuk baru tentang bagaimana cara ikan-ikan purba melakukan lompatan evolusi ke darat.
“Kami menemukan bukti bahwa otak Koharalepis mirip dengan otak ikan-ikan yang menjembatani transisi vertebrata dari air ke darat. Kami juga menemukan adaptasi terhadap kehidupan di dekat permukaan air, termasuk lubang di bagian atas tengkorak untuk asupan udara tambahan dan organ di dalam otak yang mendeteksi cahaya serta ritme sirkadian,” jelas Mensforth.
Mensforth menambahkan bahwa Koharalepis dapat tumbuh hingga mencapai ukuran sekitar satu meter. Hewan ini merupakan predator pengintai yang memangsa hewan-hewan lain yang berukuran lebih kecil di lingkungannya.
“Koharalepis yang tumbuh hingga sekitar satu meter adalah predator pengintai yang memangsa hewan lain yang lebih kecil di lingkungannya, dan dengan mata yang relatif kecil, ia pasti sangat mengandalkan indra lainnya untuk menangkap mangsa,” tambah Mensforth.
**Evolusi yang Terjadi Berulang Kali**
Fosil purba seperti ini bukanlah satu-satunya petunjuk yang dimiliki umat manusia untuk melacak sejarah invasi vertebrata ke daratan. Hubungan hidup terdekat yang masih ada dengan para kolonis darat kuno ini adalah ikan paru. Sesuai namanya, ikan air tawar ini memiliki sistem pernapasan unik yang memungkinkannya untuk menghirup udara di luar air.
Dengan mengurutkan genom dari makhluk air yang unik ini, para ilmuwan dapat memperoleh wawasan tambahan mengenai bagaimana proses transisi ke tanah kering tersebut terungkap.
Meski begitu, para ahli meyakini transisi besar ini tidak terjadi dalam satu peristiwa tunggal. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa transisi dari akuatik (air) ke terestrial (darat) kemungkinan telah terjadi hingga puluhan kali di beberapa spesies yang berbeda.
Fakta ilmiah ini mengindikasikan bahwa kisah evolusi makhluk hidup di bumi ternyata jauh lebih rumit daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Studi komprehensif mengenai fosil ikan purba ini telah resmi diterbitkan dalam jurnal ilmiah Frontiers in Ecology and Evolution.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait:
Pergulatan Transisi Energi Berkeadilan: Satu Isu Beragam Dilema
Perencanaan Pembangunan, Keuangan, dan Transisi Energi Daerah