Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Laut Mindanao, Filipina, pada Senin (8/6) bukan sekadar bencana negeri tetangga. Bagi Indonesia yang berada di kawasan tektonik paling aktif di bumi, peristiwa ini adalah pengingat keras bahwa ancaman serupa bisa datang kapan saja.
Dosen Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Ir. Gayatri Indah Marliyani, S.T., M.Sc., Ph.D., IPM., menjelaskan bahwa gempa Mindanao terjadi akibat aktivitas tektonik di zona subduksi—daerah tempat satu lempeng tektonik menunjam ke bawah lempeng lainnya. Proses ini merupakan fenomena umum di kawasan pertemuan lempeng seperti Filipina dan Indonesia.
“Proses penunjaman ini berlangsung sangat lambat, hanya beberapa sentimeter per tahun, tetapi energi terus terakumulasi selama puluhan hingga ratusan tahun,” jelasnya, Kamis (11/6/2026).
Ketika tegangan yang tersimpan melampaui kekuatan batuan, bidang patahan akan patah dan bergerak secara tiba-tiba—itulah yang kita rasakan sebagai gempa bumi. Pada mekanisme sesar naik yang terjadi di Mindanao, salah satu blok batuan terdorong terhadap blok lainnya akibat gaya kompresi.
**Kapan Gempa Laut Bisa Memicu Tsunami?**
Tidak semua gempa di laut otomatis menghasilkan tsunami. Gayatri menjelaskan bahwa ada kombinasi faktor yang menentukan potensinya.
“Kombinasi antara magnitudo besar, sumber gempa di laut, kedalaman relatif dangkal, dan mekanisme sesar naik merupakan kondisi yang perlu diwaspadai terhadap potensi tsunami,” sebutnya.
Ketika sesar naik terjadi di bawah laut dan menyebabkan pengangkatan atau penurunan dasar laut secara tiba-tiba, kolom air di atasnya turut terdorong sehingga dapat membangkitkan gelombang tsunami.
Ia juga mengingatkan bahwa magnitudo saja tidak cukup untuk menentukan ada atau tidaknya tsunami—mekanisme patahan dan besarnya perubahan dasar laut juga menjadi faktor penentu.
**Mengapa Getaran Terasa hingga Sulawesi?**
Banyak yang bertanya-tanya mengapa gempa yang berpusat di Filipina bisa dirasakan hingga wilayah Sulawesi, Indonesia. Gayatri meluruskan bahwa hal ini bukan karena sumber gempa berasal dari patahan yang memanjang hingga Sulawesi.
Ia menjelaskan bahwa getaran dapat dirasakan hingga Sulawesi karena energi gelombang seismik dari gempa besar mampu menjalar ratusan hingga ribuan kilometer dari sumbernya.
“Semakin besar magnitudo gempa, semakin luas wilayah yang dapat merasakan guncangannya,” ujarnya.
Sumber gempa, tegasnya, murni berasal dari pergerakan lempeng tektonik yang memang aktif di kawasan Laut Mindanao—bukan dari sesar darat yang terhubung langsung ke wilayah Indonesia.
**Pelajaran untuk Indonesia di Cincin Api Pasifik**
Gayatri menegaskan bahwa gempa Mindanao tidak berarti akan langsung memicu gempa besar di Indonesia, karena setiap sumber gempa memiliki karakteristik dan siklusnya masing-masing. Namun peristiwa ini tetap punya makna penting bagi Indonesia.
Indonesia memiliki banyak sumber gempa besar—dari zona subduksi di Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, Maluku, dan Sulawesi, hingga sesar-sesar aktif di daratan. Sebagai sesama penghuni Cincin Api Pasifik, Indonesia menghadapi ancaman yang serupa, bahkan lebih kompleks.
“Yang lebih penting adalah menjadikan peristiwa ini sebagai momentum untuk meningkatkan kesiapsiagaan,” katanya.
**Jangan Tunggu Air Surut: Prinsip Evakuasi Tsunami**
Bagian yang paling kritis dari penjelasan Gayatri adalah soal respons masyarakat di lapangan. Ia mengingatkan bahwa masyarakat pesisir tidak boleh menunggu tanda-tanda visual seperti air laut surut atau datangnya gelombang sebelum bergerak mengungsi—karena pada saat itu waktu evakuasi sudah sangat terbatas.
“Bagi masyarakat yang merasakan gempa kuat dan lama di wilayah pesisir, prinsip yang perlu diingat adalah ‘gempa kuat, segera menjauh dari pantai’,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk segera menuju jalur evakuasi dan tempat evakuasi vertikal yang tersedia, serta mengutamakan informasi dari sumber resmi seperti BMKG, BNPB, BPBD, dan pemerintah daerah.
Penyebaran informasi yang belum terverifikasi, ingatnya, berpotensi menimbulkan kepanikan dan mengganggu proses evakuasi.
Sebagai penutup, Gayatri menekankan bahwa gempa bumi dan tsunami adalah bagian dari dinamika alam yang tidak bisa dicegah—tetapi dampaknya bisa diminimalkan. Ia merekomendasikan edukasi kebencanaan, latihan evakuasi, pembangunan infrastruktur tahan gempa, serta penguatan sistem peringatan dini sebagai langkah-langkah yang perlu terus dilakukan secara konsisten.
“Yang terpenting adalah membangun budaya sadar bencana. Kewaspadaan tidak berarti hidup dalam ketakutan. Dengan pengetahuan yang baik dan respons yang tepat, risiko dapat dikurangi dan lebih banyak nyawa dapat diselamatkan ketika bencana terjadi,” pungkasnya.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait:
Buku Teks tentang Penilaian Skala Besar Pencapaian Pendidikan