Gunung Es Raksasa A-23A Mendadak Berwarna Biru, Mengapa?

Sebuah bongkahan es raksasa di Antartika—lebih luas dari sebuah kota besar—tiba-tiba tampak “membiru” dari luar angkasa. Kondisi ini terjadi pada iceberg A-23A, salah satu gunung es terbesar dan paling lama “bertahan hidup” yang pernah dipantau ilmuwan.

Pada akhir Desember 2025, satelit Terra milik NASA dan NOAA menangkap pemandangan tak biasa: permukaan A-23A dipenuhi genangan air lelehan berwarna biru, seperti bubur es yang menutupi bagian atasnya.

Fenomena “membiru” ini bukan sekadar perubahan warna kosmetik. Bagi peneliti, itu adalah tanda peringatan bahwa A-23A sedang memasuki fase rapuh—dan mungkin tinggal hitungan hari atau pekan sebelum benar-benar hancur terurai saat melintasi perairan yang lebih hangat di Samudra Atlantik Selatan.

**Dari Raksasa 38.850 Km Persegi Menyusut Drastis**

A-23A memiliki sejarah panjang. Gunung es ini terlepas dari Filchner Ice Shelf di Antarktika pada 1986. Saat “lahir” sebagai gunung es mandiri, bentuknya yang relatif datar membuatnya mudah dikenali, dan ukurannya kala itu mencengangkan: lebih dari 38.850 km persegi, hampir setara luas Provinsi Jawa Tengah.

Namun, waktu dan suhu yang meningkat bekerja tanpa ampun. Menurut perkiraan terbaru dari United States National Ice Center, luas A-23A kini tinggal sekitar 1.181 km persegi—kira-kira mendekati luas Kota Jakarta.

Perubahan drastis ini makin terasa pada Juli, Agustus, dan September 2025, ketika A-23A mengalami beberapa pecahan besar. Ketika memasuki periode musim panas Belahan Bumi Selatan yang relatif lebih hangat menjelang Desember, proses “pengeroposan” gunung es pun melaju.

**Alasan di Balik Warna Biru**

Warna biru pada A-23A terutama terkait dengan air lelehan yang menggenang di permukaannya. Saat suhu udara dan paparan matahari meningkat, lapisan atas es mencair dan membentuk kolam-kolam lelehan.

Air ini tampak kebiruan karena kombinasi ketebalan, kejernihan, dan cara cahaya dipantulkan atau diteruskan oleh air dan es di bawahnya—mirip bagaimana gletser dan es padat sering tampak kebiruan ketika sangat rapat dan minim gelembung.

Yang membuatnya penting: kolam-kolam ini bukan hanya “genangan”. Ia bisa menjadi mesin penghancur.

**Kolam Lelehan sebagai Mesin Penghancur**

Ilmuwan menilai kolam “blue mush” yang luas menandakan A-23A mengalami disintegrasi berkelanjutan. Mekanismenya sederhana tapi destruktif: air yang mengisi retakan menambah beban, lalu tekanan tersebut memaksa retakan terbuka semakin lebar.

Peneliti dari University of Colorado Boulder, Ted Scambos, menjelaskan bahwa berat air yang “duduk” di dalam celah-celah es dapat mendorong retakan melebar seperti baji.

Ia juga menyoroti sebuah pola menarik: garis putih tipis di tepi gunung es seolah membatasi air lelehan biru agar tidak langsung tumpah. Pola ini disebut “rampart-moat”—terjadi ketika bagian tepi gunung es lebih cepat meleleh di garis permukaan air laut, membuat “pelat” es sedikit melengkung ke atas.

Hasilnya tampak seperti ada “tanggul” (rampart) dan “parit” (moat) yang menahan air di permukaan.

**Jejak Arsip Geologi yang Bergerak**

Selain genangan biru, citra satelit juga menunjukkan pola garis-garis biru dan putih pada permukaan A-23A. Menurut ilmuwan pensiunan dari University of Maryland Baltimore County, Chris Shuman, pola itu kemungkinan besar berasal dari striations—semacam goresan atau lapisan—yang terbentuk ratusan tahun lalu ketika es di Antarktika terseret melintasi batuan dasar (bedrock).

Yang mengejutkan, jejak itu masih terlihat jelas meski sudah terjadi banyak hal: tumpukan salju yang jatuh selama bertahun-tahun, serta pelelehan dari bawah akibat interaksi dengan air laut. Artinya, A-23A seperti membawa “arsip geologi” yang bergerak—rekaman fisik dari perjalanan panjang es Antarktika.

**Tanda-tanda Kehancuran Total**

Tanda lain bahwa A-23A sedang sekarat adalah kemungkinan terjadinya “blowout”. Dalam konteks gunung es, blowout terjadi ketika berat air yang menggenang di atas menciptakan tekanan cukup besar hingga menembus tepi gunung es—seolah ada “lubang” yang membuat air keluar mendadak.

Pada citra, area putih di sisi kiri A-23A diduga berkaitan dengan peristiwa semacam ini. Jika benar terjadi, blowout dapat mempercepat keruntuhan struktur karena membuat aliran air dan tekanan bekerja seperti palu yang terus memukul titik lemah.

Gabungan tanda-tanda ini—kolam lelehan luas, retakan yang dipaksa terbuka, pola rampart-moat, serta potensi blowout—membuat para peneliti memperkirakan A-23A mungkin tinggal menunggu waktu untuk terfragmentasi total.

Shuman bahkan menyatakan ia tidak berharap A-23A bertahan melewati musim panas austral (musim panas di Belahan Bumi Selatan). Ini masuk akal karena musim panas membawa langit lebih cerah, udara lebih hangat, dan suhu air laut yang lebih tinggi—kombinasi yang mempercepat pelelehan dan perpecahan.

**Dampak Perubahan Iklim**

Wilayah tempat A-23A melintas sering dijuluki para ahli sebagai “graveyard” (kuburan) gunung es: area perairan yang cukup hangat dan dinamis sehingga banyak gunung es besar akhirnya hancur di sana.

Di atas itu, perubahan iklim mempercepat proses. Ketika suhu udara dan lautan makin sering memecahkan rekor, gunung es yang memasuki wilayah hangat akan lebih cepat kehilangan “ketahanan strukturalnya”.

A-23A adalah contoh dramatis bagaimana bongkahan es raksasa pun memiliki batas. Meski A-23A kemungkinan segera “tamat”, ia bukan satu-satunya tokoh besar dalam panggung es Antarktika.

Masih ada gunung es raksasa lain yang berada di pesisir Antarktika atau bergerak perlahan: A-81, B22A, dan D15A—masing-masing berukuran lebih dari 500 mil persegi. Jika mereka mulai melakukan perjal


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Nat Geo Mengapa? 1.111 Pertanyaan dan Jawaban

Ashadi Siregar: Penjaga Akal Sehat dari Kampus Biru

Seri Nat Geo: Mengapa Tidak? 1.111 Jawaban Beraneka Pertanyaan