Ada sebuah rekor yang tidak ingin kita lihat dipecahkan—dan Gurun Sahara tampaknya bertekad untuk terus mempertahankannya, bahkan memperluasnya. Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dari University of Maryland dan dipublikasikan pada 29 Maret 2018 dalam jurnal Journal of Climate mengungkap fakta yang mengkhawatirkan: Gurun Sahara telah meluas sekitar 10 persen dalam satu abad terakhir.
Gurun terpanas terbesar di dunia itu kini bahkan lebih besar dari sebelumnya—dan tren ini kemungkinan tidak hanya terjadi di Afrika.
**Apa yang Dimaksud “Gurun”?**
Sebelum melangkah lebih jauh, ada satu hal menarik yang perlu diluruskan. Sahara memang gurun terbesar, tetapi bukan gurun terluas di Bumi. Gelar itu justru dipegang oleh Antartika dan Arktik—karena keduanya adalah gurun dingin, wilayah gersang yang hampir tidak menerima curah hujan sama sekali.
Sahara adalah gurun panas terbesar di dunia. Untuk bisa disebut gurun, sebuah wilayah harus menerima curah hujan tidak lebih dari 100 milimeter per tahun. Dengan standar itulah para peneliti mengukur perubahan yang terjadi.
**Satu Abad Data Hujan**
Ini adalah penelitian pertama yang secara khusus memeriksa tren curah hujan di Sahara dalam rentang satu abad penuh. Para ilmuwan menganalisis data curah hujan dari seluruh penjuru Afrika yang dicatat antara 1920 hingga 2013—sebuah kumpulan data yang sangat panjang dan berharga.
Hasilnya mengejutkan: semakin banyak wilayah di sekitar Sahara yang kini memenuhi kriteria gurun. Sekitar 10 persen lebih banyak wilayah di sekitar Sahara kini resmi masuk kategori gurun dibandingkan satu abad lalu.
Dari ekspansi itu, para ilmuwan memperkirakan sekitar dua pertiga disebabkan oleh perubahan iklim alami, sementara sepertiga sisanya kemungkinan besar disebabkan oleh perubahan iklim akibat aktivitas manusia.
**Sahel: Zona Penyangga yang Terancam**
Di perbatasan selatan Sahara terdapat wilayah yang dikenal sebagai Sahel—sebuah padang rumput semi-kering yang berfungsi sebagai zona penyangga antara kerasnya Sahara dan sabana subur di Afrika bagian selatan, khususnya Sudan dan Chad.
Kini, zona penyangga itu semakin tertekan. Salah satu bukti paling kasat mata adalah nasib Danau Chad—danau besar yang kini terus menyusut akibat kombinasi fluktuasi iklim dan penggunaan airnya untuk irigasi pertanian. Minimnya curah hujan memperparah kondisi tersebut.
“Cekungan Chad berada di wilayah di mana Sahara telah merayap ke selatan. Dan danau itu sedang mengering,” jelas Sumant Nigam, penulis senior studi tersebut. “Ini adalah jejak yang sangat nyata dari berkurangnya curah hujan, bukan hanya secara lokal, tetapi di seluruh kawasan.”
**Mengapa Gurun Bisa Meluas?**
Untuk memahami mengapa gurun bisa bertambah luas, kita perlu mengenal sebuah fenomena atmosfer bernama sel Hadley (Hadley cell). Cara kerjanya begini: udara panas naik di kawasan tropis dekat khatulistiwa, lalu bergerak ke arah kutub. Ketika udara itu turun kembali di kawasan subtropis, ia menghangat dan mengering—dan terciptalah kondisi yang sempurna untuk gurun.
Perubahan iklim membuat jalur subtropis ini semakin melebar. Artinya, wilayah di mana gurun bisa terbentuk atau berkembang juga semakin luas—tidak hanya di Afrika, tetapi di seluruh dunia.
Para peneliti menegaskan bahwa Sahara kemungkinan besar bukan satu-satunya gurun yang sedang mengalami ini. Gurun-gurun di seluruh dunia hampir pasti sedang mengalami perubahan iklim yang serupa dan terus bertumbuh.
**Sinyal Peringatan Global**
Meskipun penelitian ini berfokus pada Afrika, pesannya bersifat global. Ketika gurun meluas, lahan yang bisa digunakan untuk pertanian dan tempat tinggal manusia menyempit. Sumber air menghilang. Ekosistem yang sudah rapuh semakin tertekan.
Danau Chad yang menyusut bukan sekadar masalah lokal—ia adalah cermin dari apa yang terjadi ketika hujan berkurang, suhu naik, dan manusia terus menambah beban pada sistem iklim yang sudah bekerja keras menjaga keseimbangan Bumi.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: