Hari Sepeda Sedunia, Hari Sepeda Sedunia, Tahukah Anda Kerangka Awalnya Lahir akibat Letusan Gunung Tambora?

Setiap tanggal 3 Juni, masyarakat global serentak merayakan Hari Sepeda Internasional. Di balik statusnya yang kini menjadi simbol gaya hidup sehat dan transportasi ramah lingkungan, kendaraan roda dua ini menyimpan masa lalu yang penuh penolakan.

Jika melihat ke belakang, alat transportasi ini rupanya hampir punah di awal kemunculannya karena dianggap menyiksa fisik pengendara hingga dilarang melintasi trotoar kota.

Asal-usul sepeda memang diselimuti misteri dan tidak bisa diklaim oleh satu penemu tunggal. Namun, jejak leluhur dari penemuan yang mengubah dunia ini sudah dapat dilacak sejak akhir abad ke-18.

**Evolusi Sepeda dari Masa ke Masa**

Berikut rekam jejak sejarah sepeda:

**Celerifere (1791)**
Berdasarkan laporan Hubpages, sepeda pertama dibuat oleh Monsieur Sivrac dari Paris pada 1791. Kendaraan yang seluruhnya dari kayu ini memiliki roda besar di bagian depan dan roda kecil di bagian belakang. Tidak ada pedal, setang, atau bagian lain seperti sepeda modern saat ini.

Kendaraan ini dinamai Celerifere (say-lay-ri-fair). Sepeda ini tidak bisa dibelokkan dan hanya bisa dikendarai lurus saja. Sepeda pertama ini merupakan mesin revolusioner, kemungkinan mesin pengendara tunggal pertama yang tidak ditarik oleh hewan.

Jika ingin berbelok, pengendaranya harus mengangkat atau menyeret roda depan ke samping.

**Draisienne (1816)**
Berdasarkan laporan Smithsonian, inovasi besar lahir pada tahun 1816 berkat Baron von Drais dari Jerman. Musim panas tahun 1815 terjadi penurunan suhu global dan kelaparan di seluruh Eropa dan Amerika Utara sebagai akibat letusan gunung berapi Gunung Tambora di Indonesia.

Drais tidak bisa lagi bergantung pada kuda dan hewan ternaknya. Ia menciptakan Draisienne, kendaraan roda dua yang bagian depannya sudah bisa dibelokkan, lengkap dengan pelana empuk.

Penemuan ini meledak dalam hal popularitas, dengan cepat menjadi dambaan kalangan masyarakat kelas atas di seluruh kota terbesar Eropa. Di Paris, kendaraan ini dipatenkan dengan nama Velocipede—istilah yang terus bertahan sebelum kata “sepeda” resmi lahir sekitar tahun 1869.

**Bone Shaker (1863-1865)**
Teknologi terus berkembang hingga tahun 1863-1865, ketika pedal mulai dipasang pada poros roda depan di bengkel Pierre Michaux di Paris. Inovasi ini sempat memicu demam velocipede luar biasa di Amerika Serikat pada awal tahun 1869, terutama di kalangan mahasiswa universitas elite seperti Harvard dan Yale.

Namun, kegilaan itu mati mendadak hanya dalam hitungan bulan. Penyebabnya, desain velocipede saat itu sangat berat, kaku, tanpa peredam, dan memaksa pengendara mengayuh sekaligus mengendalikan roda depan yang sama.

Mengendarainya butuh tenaga ekstra dan koordinasi tubuh yang melelahkan.

**Era Sepeda Tinggi (1875)**
Pukulan telak yang membuat penemuan ini sempat mati suri di dekade 1870-an adalah lahirnya hukum kota. Pemerintah-pemerintah kota saat itu mulai mengeluarkan larangan keras bagi velocipede untuk melintas di trotoar pejalan kaki karena dianggap membahayakan.

Berdasarkan laporan The Bicycle of America, di masa yang sama, era sepeda roda tinggi (Highwheel) dimulai pada dekade 1870-an ketika James Starley memproduksi “penny-farthing” secara komersial.

Roda depan yang besar berfungsi sebagai rasio roda gigi: roda yang lebih besar berarti lebih banyak jarak yang dapat ditempuh dalam setiap putaran pedal. Pedal yang masih terpasang langsung ke roda ini memberikan sensasi berkendara yang jauh lebih mulus daripada pendahulunya.

**Safety Bicycles (1886)**
Penyempurnaan lebih lanjut dari sepeda memicu inovasi berikutnya pada tahun 1886, atau lebih tepatnya kembali ke desain terdahulu. Seiring dengan keberhasilan Revolusi Industri, lahirlah logam-logam yang lebih kuat.

Berbeda dengan penggerak langsung (direct drive) yang efisiensinya hanya bergantung pada ukuran roda penggerak, penerapan penggerak rantai (chain drive) memungkinkan peningkatan efisiensi tenaga.

Sepeda pengaman ini juga dapat diproduksi secara massal sehingga menjadi terjangkau bagi pekerja rata-rata. Sepeda tidak lagi menjadi barang mewah milik masyarakat kelas atas, karena orang-orang dari setiap lapisan kelas sosial kini dapat merasakan kebebasan dan kegembiraan bersepeda.

Kini, berabad-abad setelah momentum stagnasi tersebut, sepeda telah berevolusi menjadi kendaraan yang ergonomis dan modern. Momentum Hari Sepeda bukan sekadar perayaan mengayuh pedal bersama, melainkan pengingat bahwa teknologi yang hari ini dinikmati dengan nyaman, dulunya adalah perjuangan mekanis yang sempat diusir dari jalanan kota.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Ensiklopedia Aku Ingin Tahu: Kendaraan