Film klasik Frankenstein kini diadaptasi ulang dengan nuansa drama oleh sutradara Guillermo del Toro, meski karya asli Mary Shelley tahun 1831 bergenre gothik. Del Toro menghadirkan interpretasi kelam tentang kemanusiaan tanpa unsur horor yang mendominasi.
Narasi bermula dari Victor Frankenstein, seorang ilmuwan yang terobsesi melawan kematian sebagai cara mengobati duka atas kepergian ibunya. Berbekal pengetahuan, segala upaya dilakukan untuk menciptakan keabadian. Terciptalah makhluk hidup dari materi mati yang kemudian berubah menjadi monster penuh amarah akibat kesepian dan ditinggalkan.
**Dari Fiksi Menuju Realitas**
Dalam dunia fiksi ilmiah, gambaran film Frankenstein perlahan mewujud dalam kehidupan nyata. Penyuntingan genetika untuk membentuk generasi unggul layaknya manusia super kini bukan lagi hal mustahil.
Data genom dapat disalin dan diedit, memperbaiki kelemahan serta membentuk kesempurnaan. Keturunan manusia di masa depan dengan ilmu modern dapat diatur sesuai kehendak orang tua. Kondisi ini seolah membuka kotak Pandora akan hasrat terdalam manusia untuk menjadi superhuman yang tak tertandingi.
Dunia terguncang ketika lahirnya bayi kembar Lulu dan Nana dengan gen yang telah disunting He Jiankui di Tiongkok pada 2018. Dunia memasuki era evolusi terencana atau “directed evolution”.
**Pertanyaan Filosofis Fundamental**
Pertanyaan mendasar kembali muncul tentang bagaimana lompatan teknologi mampu melampaui batasan filosofis. Selama ini manusia berperan sebagai pencipta untuk berbagai alat bantu, bukan untuk membentuk makhluk serupa.
Timbangan etisnya bukan lagi soal “bisakah kita melakukannya?”, tetapi “apakah kita boleh melakukannya?”.
**Pergeseran Hakikat Manusia**
Dalam buku “Homo Deus” (2017), Yuval Noah Harari membahas pergeseran manusia dari Homo sapiens yang cerdas dengan kemampuan berpikir menuju pencipta kehidupan atau “playing as god”, berbekal bioteknologi dan revolusi genetika.
Terjadi perubahan ontologis tentang hakikat keberadaan manusia. Pada era sebelumnya, manusia adalah makhluk yang dilahirkan dan menerima kehidupan sebagai anugerah. Kini menjadi objek yang dibuat.
**Ancaman Relasi Tidak Setara**
Filsuf Jerman Jürgen Habermas menyatakan ketika orang tua mulai mendesain gen anak, tercipta relasi tidak setara. Posisi eksistensi anak bukan lagi sebagai individu otonom, melainkan produk program aspirasi orang tua.
Situasi ini mengancam etika spesies ketika intervensi teknis pada tubuh manusia merusak dasar kesetaraan moral.
**Risiko Kesenjangan Sosial**
Risiko lebih luas bukan pada tingkat individu, melainkan level sosial. Jika teknologi penyuntingan gen dilepas ke mekanisme pasar bebas dengan pendekatan supply-demand, tidak semua pihak mampu mengakses. Kesenjangan akan semakin terbuka.
Ketimpangan akan melembaga ketika kelompok tertentu mampu membeli gen pintar, sehat, dan memiliki kekuatan fisik sempurna.
**Ancaman Fondasi Demokrasi**
Francis Fukuyama (2002) mengkhawatirkan kerusakan fondasi demokrasi liberal yang berpijak pada kesetaraan martabat manusia. Hal ini membangun kasta biologis baru, semacam “aristokrasi genetik” dengan ketidaksetaraan tertulis permanen dalam kode DNA.
Teknologi dan pengetahuan bertransformasi dari euforia menjadi distopia.
**Hilangnya Etika Keterberian**
Michael Sandel mengajukan argumen humanis tentang hilangnya “ethics of giftedness”. Menjadi manusia adalah kemampuan menerima hidup sebagai anugerah yang tidak sepenuhnya bisa dikontrol, baik maupun buruk.
Ambisi serupa Victor Frankenstein untuk menyunting gen mewakili nafsu kuasa dominan. Ketika anak dilihat sebagai produk yang perlu disempurnakan, kita kehilangan kerendahan hati. Kasih tanpa syarat berubah menjadi cinta bersyarat.
**Arah Moralitas yang Tepat**
Revolusi genetika sebagai bagian kemajuan modern menjadi keniscayaan yang tidak bisa dihentikan, tetapi harus diarahkan. Pembedanya terletak pada tujuan yang selaras moralitas.
Rekayasa genetika untuk terapi pengobatan masih dapat diterima secara rasional, tetapi penggunaannya untuk menciptakan suprahuman harus dilarang keras.
**Konsep Übermensch yang Sesungguhnya**
Bagi Nietzsche, Übermensch atau manusia super adalah konsep filosofis tentang individu yang telah melampaui moralitas konvensional dan kelemahan manusia biasa untuk mencapai potensi tertinggi kemanusiaannya, bukan indikasi kesempurnaan fisik.
**Pelajaran dari Mitos Prometheus**
Kisah Prometheus menjadi mitos Yunani paling kuat menjelaskan asal usul pengetahuan dan penderitaan. Prometheus mencuri api (ilmu pengetahuan) dari Gunung Olympus. Zeus mengutuknya dengan dirantai di gunung Kaukasus, tersiksa karena setiap hari seekor elang memakan hatinya yang kemudian tumbuh kembali.
**Keseimbangan Sains dan Moralitas**
Kemajuan sains yang tidak diimbangi adopsi moralitas akan membawa kehancuran kompleks. Hanya dalam batas-batas moralitas dan hati yang teguh seperti Prometheus, pengetahuan mendapatkan imbangan setaranya yakni nurani kemanusiaan.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: