Intip “Toilet Kuno” Abad Pertengahan, Arkeolog Temukan Buku Catatan dari 800 Tahun Lalu

Sebuah kecerobohan di toilet hampir 800 tahun yang lalu kini menjadi berkah luar biasa bagi ilmu pengetahuan modern. Para arkeolog di kota Paderborn, Jerman, berhasil mengevakuasi sebuah buku catatan kuno berbalut lilin yang terjatuh ke dalam lubang jamban abad pertengahan dan bertahan dalam kondisi utuh sempurna.

Buku catatan setebal 10 halaman yang memuat tulisan tangan Latin kursif tersebut diperkirakan milik seorang pedagang kaya era abad pertengahan. Buku ini diduga kuat terlepas dan jatuh secara tidak sengaja sekitar delapan abad yang lalu—kemungkinan besar terjadi saat sang pemilik sedang menyeka diri menggunakan kain sutra mewah di toilet tersebut.

Penemuan luar biasa ini terjadi di kota Paderborn, Jerman bagian utara, selama berlangsungnya proyek konstruksi sebuah bangunan baru. Berdasarkan keterangan resmi yang dirilis oleh Asosiasi Regional Westphalia-Lippe (LWL) pada Mei lalu, tim arkeolog berhasil menggali lima titik toilet abad pertengahan yang berada dalam kondisi tersegel rapat dan kedap udara.

Kondisi lingkungan yang anaerobik (tanpa oksigen) inilah yang menjadi faktor kunci mengapa berbagai benda organik di dalamnya—yang dalam kondisi normal seharusnya sudah membusuk dan hancur termakan zaman—justru terawetkan dengan sangat baik.

**Berawal dari Gumpalan Tanah Berbau**

Keberadaan artefak berharga ini awalnya tidak langsung disadari. Saat tim laboratorium melakukan proses pembersihan rutin terhadap barang-barang yang ditemukan di situs tersebut, para ahli menyadari bahwa apa yang semula tampak seperti gumpalan tanah biasa yang tidak menarik ternyata merupakan sebuah wadah kulit kecil yang dilengkapi dengan penutup.

“Bahkan setelah berabad-abad berada di dalam tanah, temuan toilet ini masih memiliki aroma yang agak tidak sedap,” kata Susanne Bretzel, seorang konservator di LWL dalam pernyataan resminya.

Buku catatan berukuran saku ini memiliki dimensi sekitar 8,6 kali 5,5 sentimeter. Buku kecil tersebut disimpan dengan aman di dalam wadah kulit yang ukurannya sedikit lebih besar, lengkap dengan hiasan bermotif fleur-de-lis (bunga lili).

Dari total halaman yang ada pada buku kayu tersebut, delapan halaman di antaranya memiliki dua sisi yang dapat ditulis, sementara dua halaman lainnya hanya memiliki satu sisi. Seluruh permukaan halaman ini dilapisi oleh lilin, sebuah medium yang lazim digunakan pada zaman dahulu untuk menulis dengan bantuan alat gores khusus bernama stilus.

**Tantangan Menerjemahkan Tulisan Kuno**

Di dalam lembaran-lembaran lilin tersebut, para ahli mendeteksi adanya banyak baris teks bertuliskan bahasa Latin kursif. Namun, proses pembacaan tidaklah mudah karena sebagian teks ditulis menimpa baris tulisan sebelumnya dan memiliki arah yang berbeda-beda.

“Kata-kata individual memang dapat dikenali, tetapi proses transkripsi akan memakan waktu lama, karena beberapa kata mungkin telah rusak,” jelas Barbara Rüschoff-Parzinger, seorang arkeolog sekaligus kepala urusan kebudayaan di LWL.

Berdasarkan analisis karakteristik jenis tulisan tangan yang digunakan, para peneliti mengestimasi bahwa buku catatan ini aktif digunakan dalam rentang waktu antara abad ke-13 hingga akhir abad ke-14.

**Menguak Identitas sang Pemilik**

Selain mengkaji lembaran buku, para ahli juga menaruh perhatian besar pada wadah kulit penyimpannya. Buku ini ditemukan berada di dalam tas kulit yang dihiasi embos berbentuk motif bunga lili, mengindikasikan bahwa buku ini merupakan barang berharga milik anggota masyarakat kelas atas.

Pada Abad Pertengahan, simbol bunga lili melambangkan kekuasaan kerajaan dan kemuliaan ilahi. Kendati demikian, siapa sosok asli pemilik buku catatan ini masih diselimuti misteri.

“Seorang pedagang Paderborn mungkin adalah pemiliknya. Dia mungkin mencatat transaksi bisnis dan pemikirannya,” ungkap Sveva Gai, arkeolog kota LWL di Paderborn.

Gai menambahkan bahwa berbeda dengan mayoritas masyarakat pada periode tersebut yang buta aksara, kaum pedagang saat itu umumnya berpendidikan serta memiliki kemampuan membaca dan menulis. Hal inilah yang memosisikan mereka ke dalam kelompok elite sosial.

**Sutra sebagai Pengganti Tisu Toilet**

Indikasi bahwa pemilik buku ini berasal dari kalangan berstatus sosial tinggi semakin diperkuat oleh penemuan artefak pendukung lainnya di dalam lubang toilet kuno tersebut, seperti barel kayu, sebuah pisau, barang pecah belah dari tembikar, potongan keranjang, hingga serpihan kain sutra.

“Sisa-sisa kain sutra dari toilet tersebut sebagian robek menjadi potongan-potongan persegi panjang, beberapa di antaranya ditenun dengan sangat halus dan berhias,” papar Susanne Bretzel. “Mungkin ini digunakan seperti tisu toilet.”

Melalui penelitian lanjutan, para ilmuwan optimis mereka dapat melacak identitas spesifik dari pedagang malang yang tidak sengaja menjatuhkan buku berharganya ke dalam lubang sanitasi tersebut.

“Setelah toilet ini dapat dipetakan ke sebidang tanah tertentu, penelitian arsip dapat digunakan untuk mengidentifikasi penghuni lahan tersebut. Kemudian, dalam skenario terbaik, dokumen itu akan memungkinkan kita menghubungkan papan lilin tersebut dengan nama orang tertentu,” pungkas Sveva Gai.

Seluruh rangkaian proses konservasi mutakhir ini diperkirakan akan memakan waktu hingga satu tahun penuh. Setelah proses tersebut rampung, buku catatan beserta wadah kulit bersejarah ini dijadwalkan akan dipamerkan secara resmi kepada publik di Museum LWL di Paderborn.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Berbagi Senyum: Kisah-kisah yang menguatkan dari halaman belakang rumah Andi Sahrandi

Catatan Perjalananku ke Yogyakarta 1825: Perang Jawa di Mata Pelukis A.A.J. Payen