Jejak DNA Leonardo da Vinci Diduga Ditemukan di Salah Satu Gambarnya

Bayangkan sebuah sketsa tua di atas kertas yang rapuh, tak ternilai, dan sudah berpindah tangan selama berabad-abad. Kini, benda semacam itu bukan hanya “dokumen sejarah”, tetapi juga berpotensi menjadi kapsul biologis yang menyimpan jejak kehidupan pembuatnya.

Inilah konsep besar di balik kabar terbaru dari sekelompok peneliti yang tergabung dalam Leonardo da Vinci DNA Project. Dalam sebuah artikel pracetak yang belum melalui proses telaah sejawat, mereka melaporkan kemungkinan berhasil mengambil sampel DNA yang diduga berasal dari Leonardo da Vinci dari sebuah karya gambar, serta membandingkannya dengan DNA dari dokumen lain yang terkait keluarga sang seniman.

Hasilnya belum konklusif, namun teknik yang digunakan dinilai sebagai terobosan penting untuk riset seni-budaya berbasis sains.

**Dari Seni Tradisional ke “Arteomics”**

Benda-benda warisan budaya seperti gambar, manuskrip, surat arsip, atau dokumen tua selama ini dipelajari terutama melalui gaya visual, pigmen, jenis kertas, watermark, dan sejarah kepemilikan. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa objek semacam itu juga dapat menyimpan material biologis, termasuk DNA.

Dalam konteks Leonardo da Vinci, gagasan ini terdengar masuk akal. Sang maestro dikenal sebagai seniman Renaisans yang sangat eksperimental—bahkan disebut menggunakan jari selain kuas saat melukis. Kontak langsung seperti ini membuka peluang DNA (misalnya dari kulit atau keringat) ikut berpindah ke permukaan karya, lalu “terkunci” di sana hingga ratusan tahun kemudian.

Penelitian semacam ini dikaitkan dengan bidang yang sedang berkembang bernama “arteomics”—pendekatan yang melengkapi analisis seni tradisional dengan metode ilmiah untuk mempelajari siapa pembuat sebuah objek, lingkungan biologis yang “menempel” pada objek itu, riwayat penyimpanan dan penanganannya, bahkan potensi dukungan untuk autentikasi karya.

**Tantangan Teknis dan Kontaminasi**

Masalahnya, ada dua hambatan besar. Pertama, artefak budaya biasanya unik dan sangat rapuh. Mengambil sampel dengan cara invasif berisiko merusak karya—sesuatu yang jelas dihindari museum, kolektor, dan konservator.

Kedua, jejak DNA pada benda tua sangat rentan terkontaminasi. Selama ratusan tahun, sebuah karya bisa disentuh pemilik, pedagang seni, kurator, restorator, hingga peneliti laboratorium. Artinya, DNA yang ditemukan bisa bercampur antara “DNA pembuat” dan “DNA orang-orang yang menyentuhnya kemudian”.

**Teknik Swab Minim Invasif**

Di sinilah klaim terbaru mereka menjadi menarik. Tim peneliti mengembangkan teknik pengambilan sampel minim invasif menggunakan swab yang bentuknya mirip alat usap untuk tes COVID-19.

Target utama penelitian mereka adalah sebuah gambar kapur bernama “Holy Child”, yang diperkirakan dibuat sekitar 1472-1476. Sketsa ini menggambarkan kepala seorang anak laki-laki yang sedikit miring.

Karya tersebut dibeli oleh pedagang seni Fred Klein pada 2000-an. Ada yang mengaitkannya dengan da Vinci karena tampak arsiran khas tangan kiri. Namun atribusi ini masih diperdebatkan: bukan mustahil gambar itu dibuat oleh murid da Vinci, bukan da Vinci sendiri.

Selain dari gambar, tim juga mengambil sampel DNA dari sebuah surat yang disebut-sebut ditulis oleh sepupu da Vinci, bernama Frosino di ser Giovanni da Vinci.

**Analisis Kromosom Y: Jejak Keturunan Toscana**

Langkah berikutnya adalah analisis genetika. Peneliti memfokuskan pada kromosom Y, karena kromosom ini diwariskan melalui garis ayah dan sering dipakai untuk menelusuri keterkaitan garis keturunan laki-laki.

Setelah dilakukan pengurutan DNA, sampel dari gambar dan surat itu disebut menunjukkan keterkaitan dengan leluhur yang sama di Toscana, wilayah Italia tempat Leonardo da Vinci lahir.

Temuan ini menguatkan kemungkinan bahwa sebagian DNA pada gambar itu memang bisa terkait dengan da Vinci. Tetapi, para peneliti juga menekankan bahwa ini belum bisa dianggap bukti final.

**Mengapa Belum Bisa Dipastikan?**

Ada kendala historis yang membuat “pembuktian terakhir” menjadi sangat sulit. Tidak ada keturunan langsung yang diketahui dari Leonardo da Vinci yang bisa dijadikan pembanding DNA modern.

Sisa jenazah da Vinci di lokasi pemakaman diketahui pernah terganggu ketika terjadi gejolak pada masa Revolusi Prancis, sehingga verifikasi melalui relik jenazah menjadi rumit.

Dengan kata lain, meskipun ada indikasi genetik yang sejalan, peneliti belum memiliki “sampel pembanding emas” yang benar-benar bisa mengunci identitas DNA tersebut sebagai milik Leonardo.

**Temuan Bonus: Jejak Biologis Non-Manusia**

Menariknya, penelitian ini tidak hanya menemukan DNA manusia. Mereka juga melaporkan adanya campuran DNA dari jamur, bakteri, tanaman, dan virus yang menumpuk pada gambar selama berabad-abad.

Data biologis non-manusia ini ternyata punya nilai tersendiri. Jejak organisme bisa membantu peneliti memahami kemungkinan material yang digunakan saat karya dibuat, bagaimana karya itu disimpan dari masa ke masa, proses konservasi yang pernah dilakukan, serta pola penanganan oleh banyak pihak sepanjang sejarahnya.

**Era Baru Analisis Karya Seni**

Laporan ini dianggap sebagai langkah besar menuju tujuan tersebut—terutama karena memperlihatkan bahwa teknik swab minim invasif, ditambah pengurutan DNA modern, bisa memulihkan material biologis yang cukup untuk dibandingkan lintas artefak.

Di preprint mereka, tim peneliti menyimpulkan bahwa pendekatan usap minim invasif yang dipadukan dengan pengurutan DNA “input rendah” dapat mengambil material biologis dari objek warisan budaya dan mendukung profiling komparatif antar artefak serta kontrol pembanding.

Namun karena tulisan ini masih preprint dan baru diunggah ke bioRxiv, kesimpulannya masih perlu diuji oleh komunitas ilmiah melalui peer review, replikasi, dan analisis tambahan—terutama dalam soal kontaminasi dan pembuktian identitas.

Tetapi satu hal sudah jelas: jika teknik ini terus disempurnakan, dunia sejarah seni bisa memasuki era baru—ketika karya tidak hanya “dibaca” melalui gaya dan


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Sultan Agung dalam Goresan S. Sudjojono

Seni Penjara

Alam Terkembang Hilang Berganti