Bagaimana cara Anda memikat hati orang yang disukai? Memberikan kejutan romantis yang besar? Atau mengirimkan buket bunga mawar merah yang indah? Di dunia burung, jawabannya biasanya jauh lebih sederhana namun butuh modal fisik: pamer keindahan bulu ekor.
Menariknya, sebuah penelitian terbaru terhadap fosil burung purba membuktikan bahwa cara pendekatan kuno ini ternyata sudah dilakukan sejak zaman purba—tepatnya 121 juta tahun yang lalu.
Para ilmuwan baru saja mengidentifikasi spesies burung purba baru yang diberi nama Plumadraco bankoorum (artinya Naga Bulu Banko). Burung ini termasuk dalam kelompok enantiornithines, kelompok burung purba berukuran besar yang hidup di zaman Kapur dan punah bersama dinosaurus akibat hantaman asteroid 66 juta tahun silam.
**Tubuh Mini, Ekor “Lebay”**
Hal yang paling membuat para peneliti melongo dari Plumadraco adalah proporsi tubuhnya. Bayangkan saja, panjang tubuh burung ini dari ujung paruh hingga pantat hanya berkisar 15 sentimeter—kira-kira seukuran burung robin atau burung gereja. Namun, burung jantan ini menyeret sepasang bulu ekor hias yang panjangnya mencapai hampir 30 sentimeter.
Artinya, panjang ekor tersebut mencapai dua kali lipat dari panjang tubuhnya sendiri.
“Plumadraco itu seukuran burung robin Amerika, tapi bulu ekornya panjangnya sekitar satu kaki (30 cm), dua kali lipat panjang tubuhnya,” kata Alex Clark, ketua penelitian sekaligus kandidat PhD di Field Museum dan University of Chicago.
Clark menambahkan bahwa ini adalah salah satu bulu ekor paling panjang secara proporsional yang pernah ditemukan pada fosil burung.
“Dengan spesimen ini, kami memiliki argumen yang kuat bahwa tidak hanya pejantan purba yang mencoba menarik perhatian betina dengan hiasan bulu, tetapi mereka juga melakukannya dengan panjang yang luar biasa, dan kemungkinan besar lewat tarian pertunjukan,” lanjut Clark.
**Berkilau Biru dan Bisa “Bergoyang”**
Fosil yang tersimpan di Museum Tianyu Shandong, China ini memiliki tingkat pengawetan yang luar biasa. Berkat kecanggihan teknologi mass spectrometer, tim peneliti bahkan berhasil merekonstruksi warna asli dari bulu ekor tersebut berdasarkan kandungan kimiawi yang tersisa pada fosil.
Hasil analisis menunjukkan bahwa bulu tubuh Plumadraco kemungkinan besar berwarna cokelat tua atau hitam. Namun, bagian ujung bulu ekornya yang panjang memiliki efek iridescence—alias kilauan warna biru yang berkilap saat terkena cahaya, mirip seperti struktur bulu burung merak modern.
Uniknya, struktur tulang dan otot pada fosil menunjukkan bahwa bulu ekor raksasa ini sama sekali tidak digunakan untuk membantu burung terbang. Alih-alih untuk navigasi di udara, ekor ini dirancang untuk dikibas-kibaskan atau digoyangkan di belakang tubuh mereka demi memikat burung betina.
**”Menjembatani Jabat Tangan dengan Dinosaurus”**
Penelitian menarik yang telah resmi diterbitkan dalam jurnal PLOS One ini membawa pesan hangat dari sang peneliti. Alex Clark berharap penemuan ini bisa sedikit mengalihkan perhatian manusia dari ego diri sendiri ke keindahan dunia alam yang sangat kaya.
“Merupakan kehormatan besar bagi saya dalam penelitian paleontologi ini untuk dapat memperkenalkan organisme baru kepada spesies kita. Makhluk ini belum pernah melihat matahari lagi selama lebih dari 121 juta tahun—dan sekarang Anda di sini sedang membaca kisahnya. Itu membuat saya sangat bahagia. Ini seperti menjembatani jabat tangan antara masyarakat umum dengan dinosaurus,” pungkas Clark.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: