Kenapa Masih Hujan di Tengah Isu El Nino Godzilla? Ini Penjelasan Pakar IPB University

Fenomena hujan deras yang masih sering mengguyur sejumlah wilayah Indonesia di tengah ancaman kemarau panjang memicu tanda tanya besar di masyarakat. Pasalnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah memperingatkan adanya ancaman fenomena El Nino, bahkan yang disebut sebagai kategori ekstrem atau “Godzilla”.

Lantas, mengapa hujan tetap turun meski ada ancaman El Nino, bahkan yang disebut sebagai kategori “Godzilla”?

**Dinamika Iklim Masa Transisi**

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SS, MSi, menjelaskan bahwa kondisi ini bukan berarti prediksi BMKG meleset, melainkan akibat dinamika iklim yang sedang dalam masa transisi.

“Karena ini masih pancaroba, dan awal musim juga tidak seragam di semua wilayah Indonesia,” ujar Sonni, Selasa (8/4/2026).

**Indikator El Nino Tetap Terdeteksi**

Sonni menegaskan bahwa indikasi menuju kemarau panjang tetap terlihat berdasarkan tren kenaikan suhu muka laut di Samudera Pasifik tengah dan timur. Kenaikan suhu inilah yang menjadi sinyal awal berkembangnya El Nino yang berpotensi memangkas curah hujan di Indonesia secara signifikan.

Berdasarkan data yang ada, musim kemarau tahun ini diperkirakan akan berlangsung lebih lama dari biasanya. “Diprediksi demikian, dengan durasi sekitar enam bulan,” tambahnya.

**Kemarau Datang Lebih Cepat**

Bahkan, awal musim kemarau berpotensi datang lebih cepat, khususnya di wilayah Pulau Jawa yang umumnya baru memasuki fase kering pada Juli.

“Awal musim kemarau itu lebih maju dari biasanya. Kenaikan suhu muka laut ini berdampak pada pengurangan formasi awan-awan di Indonesia,” jelasnya.

**Memahami “El Nino Godzilla”**

Terkait istilah “El Nino Godzilla” yang ramai diperbincangkan, Sonni menjelaskan bahwa istilah tersebut merujuk pada kategori super El Nino. Kondisi ini terjadi ketika suhu muka laut di Pasifik naik hingga 2,5 derajat Celsius atau lebih di atas normal.

“El Nino Godzilla biasanya berlangsung rata-rata selama satu tahunan,” papar Sonni.

**Sejarah Dampak Ekstrem**

Fenomena ekstrem ini pernah memicu kekeringan hebat dan kebakaran hutan di Indonesia pada tahun 1982, 1997, dan 2015. Meski demikian, Sonni menilai kondisi saat ini masih dalam kategori yang belum mengkhawatirkan.

“Jujur saja, kekuatannya masih lemah ke moderat,” ujarnya.

**Hubungan dengan Aktivitas Matahari**

Analisis Sonni juga mengungkap kaitan menarik antara potensi super El Nino dengan aktivitas bintik hitam matahari atau sunspot. Berdasarkan data selama 35 tahun, intensitas El Nino cenderung diperkuat oleh aktivitas sunspot tersebut.

Data menunjukkan bahwa kemunculan “El Nino Godzilla” selalu terjadi setelah fase sunspot maksimum. “Sunspot maksimum tahun 2025 berpotensi diikuti El Nino kuat pada 2026,” imbuhnya.

**Penelitian Memerlukan Data Jangka Panjang**

Meski demikian, Sonni menekankan bahwa kajian ini masih memerlukan data jangka panjang yang lebih luas untuk memperkuat penjelasan ilmiahnya.

**Kompleksitas Sistem Iklim Regional**

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki karakteristik iklim yang sangat kompleks. Variasi geografis, topografi, dan pengaruh massa air yang mengelilingi nusantara membuat pola cuaca tidak seragam di semua wilayah.

Fenomena cuaca lokal masih dapat terjadi meskipun ada indikasi El Nino global. Hal ini karena sistem iklim regional masih dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pola angin monsun, arus laut lokal, dan kondisi atmosfer regional.

**Fase Pancaroba yang Krusial**

Masa pancaroba atau transisi antara musim hujan dan kemarau memang ditandai dengan cuaca yang tidak menentu. Selama periode ini, masih mungkin terjadi hujan deras meskipun secara umum tren mengarah ke musim kemarau.

Durasi dan intensitas hujan selama masa transisi dapat bervariasi tergantung pada kekuatan sistem tekanan udara dan pola sirkulasi atmosfer yang berkembang.

**Implikasi untuk Sektor Pertanian**

Kondisi transisi ini memberikan tantangan tersendiri bagi sektor pertanian. Petani perlu mempersiapkan strategi adaptasi untuk menghadapi kemungkinan kemarau yang lebih panjang dari biasanya.

Manajemen air dan pemilihan varietas tanaman yang tahan kekeringan menjadi kunci untuk meminimalkan dampak negatif El Nino terhadap produktivitas pertanian.

**Sistem Peringatan Dini**

BMKG terus mengembangkan sistem pemantauan dan peringatan dini untuk memberikan informasi akurat tentang perkembangan El Nino. Teknologi satelit dan model prediksi cuaca semakin canggih dalam memprediksi pola iklim jangka menengah.

**Antisipasi Masyarakat**

Masyarakat pun diimbau untuk tetap merujuk pada informasi resmi BMKG dan memahami bahwa hujan saat ini hanyalah bagian dari proses transisi musim yang kompleks.

Persiapan menghadapi kemarau panjang tetap perlu dilakukan, termasuk konservasi air, pencegahan kebakaran hutan dan lahan, serta adaptasi pola tanam sesuai prediksi cuaca jangka menengah.

**Pentingnya Edukasi Publik**

Pemahaman masyarakat tentang kompleksitas sistem iklim sangat penting untuk menghindari kepanikan atau kesalahpahaman tentang prediksi cuaca. Fenomena alam seperti El Nino memerlukan waktu untuk berkembang penuh dan dampaknya tidak serta-merta terasa.

Kolaborasi antara ilmuwan, pemerintah, dan masyarakat dalam menghadapi variabilitas iklim menjadi kunci keberhasilan mitigasi dan adaptasi perubahan cuaca ekstrem.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Pergulatan Transisi Energi Berkeadilan: Satu Isu Beragam Dilema