Keong Darat Chamalycaeus dayangmerindu, Spesies Baru yang Hanya Hidup di Sumatra Selatan

Indonesia kembali menambah khazanah kekayaan biodiversitasnya. Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mendeskripsikan satu spesies baru keong darat yang diberi nama Chamalycaeus dayangmerindu.

Spesies ini diketahui hanya hidup di kawasan karst Padang Bindu, Sumatra Selatan.

Penelitian tersebut dipimpin oleh Ayu Savitri Nurinsiyah, peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, bersama tim kolaborator dari Universitas Negeri Surabaya dan Széchenyi István University di Hungaria.

Hasil riset mereka telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional ZooKeys pada 2026.

**Riset Empat Tahun yang Kompleks**

Penemuan spesies ini bukanlah hasil kerja singkat. Prosesnya dimulai sejak 2021 ketika tim melakukan pengambilan sampel sebagai bagian dari Ekspedisi Karakterisasi dan Valuasi Kawasan Ekosistem Esensial: Karst di Sumatra, Indonesia.

Setelah pengumpulan sampel, para peneliti melanjutkan dengan kajian taksonomi secara mendalam hingga 2025. Penelitian tersebut meliputi pengamatan morfologi cangkang keong serta pembandingan dengan berbagai spesimen yang tersimpan dalam koleksi ilmiah.

Menurut Ayu, perjalanan untuk memastikan suatu organisme benar-benar merupakan spesies baru membutuhkan proses ilmiah yang panjang dan ketat.

“Perjalanan panjang pengungkapan keanekaragaman hayati sudah menjadi jejak langkah setiap taksonom. Mulai dari ekspedisi dan eksplorasi di lapangan, telaah literatur dan laboratorium, hingga proses penulisan dan pengakuan secara internasional,” ujar Ayu Savitri Nurinsiyah.

Ia menambahkan bahwa proses tersebut mencakup berbagai tahap ilmiah seperti analisis morfologi, anatomi, atau genetika, perbandingan dengan spesies yang telah dikenal sebelumnya, serta penelaahan oleh para ahli dunia sebelum akhirnya dipublikasikan di jurnal ilmiah.

“Meski panjang dan penuh tantangan, saya percaya setiap proses dalam perjalanan ini akan selalu bermakna dan bermanfaat,” kata Ayu.

**Habitat Terbatas, Status Rentan**

Hingga saat ini, Chamalycaeus dayangmerindu hanya diketahui hidup di kawasan karst Padang Bindu. Habitat yang sangat terbatas ini membuat spesies tersebut rentan terhadap berbagai perubahan lingkungan.

Ancaman seperti alih fungsi lahan, penambangan, maupun degradasi habitat karst berpotensi memengaruhi kelangsungan hidup keong kecil ini. Karena itu, dokumentasi ilmiah menjadi langkah penting untuk mendukung upaya konservasi.

Menurut Ayu, pengungkapan spesies baru tidak sekadar menambah daftar makhluk hidup yang diketahui manusia, tetapi juga menjadi dasar penting bagi perlindungan ekosistem.

**Kolaborasi Lintas Institusi**

Penelitian ini juga melibatkan kolaborasi lintas institusi. Salah satu penulis dalam publikasi tersebut adalah Latifah Nurul Aulia, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya yang melakukan penelitian di BRIN.

Latifah bergabung melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan melanjutkan risetnya hingga tugas akhir melalui program Bantuan Riset bagi Talenta Riset dan Inovasi (BARISTA) BRIN.

Ayu berharap keterlibatan mahasiswa seperti Latifah dapat mendorong lahirnya generasi baru peneliti di bidang taksonomi dan biosistematika, bidang ilmu yang masih relatif jarang diminati.

“Tidak mudah mencari generasi penerus dalam bidang taksonomi dan biosistematika, lebih lagi pada kelompok keong. Semoga akan lebih banyak generasi muda yang ingin tahu dan peduli terhadap pengungkapan keanekaragaman hayati Indonesia,” ujarnya.

**Publikasi di Jurnal Bereputasi Tinggi**

Temuan mengenai spesies baru ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional bereputasi tinggi ZooKeys edisi 1272: 1–31 (2026).

Artikel tersebut berjudul: “Operculate land snails (Gastropoda, Caenogastropoda, Cyclophoroidea) from Padang Bindu Karst, South Sumatra, Indonesia with the description of a new species, Chamalycaeus dayangmerindu.”

**Pentingnya Eksplorasi Biodiversitas**

Melalui penelitian ini, tim peneliti BRIN berharap eksplorasi biodiversitas di Indonesia—terutama pada kelompok moluska darat—dapat terus berkembang.

Upaya tersebut penting untuk memperkuat pendataan dan pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia, sekaligus memastikan berbagai spesies unik yang hidup di habitat spesifik seperti kawasan karst tidak hilang sebelum sempat dipahami oleh ilmu pengetahuan.

Penemuan Chamalycaeus dayangmerindu menunjukkan bahwa Indonesia masih menyimpan banyak keanekaragaman hayati yang belum terungkap, khususnya pada organisme kecil yang hidup di habitat khusus seperti kawasan karst.

Keberadaan spesies endemik ini juga menegaskan pentingnya perlindungan ekosistem karst yang rentan terhadap kerusakan akibat aktivitas manusia.

Tim peneliti menekankan bahwa dokumentasi dan deskripsi spesies baru merupakan langkah fundamental dalam upaya konservasi biodiversitas Indonesia, yang dikenal sebagai salah satu negara megadiversitas di dunia.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Genom: Kisah Spesies Manusia dalam 23 Bab

Ca-Bau-Kan (Hanya Sebuah Dosa)