Ketika Remaja Tak Lagi Berakhir di Usia 18: Sebuah Renungan Zaman

Beberapa waktu lalu, sebuah kutipan hasil riset yang beredar di media sosial cukup mengusik perhatian. Kutipan tersebut menyebutkan bahwa fase perkembangan yang selama ini kita pahami sebagai masa remaja ternyata tidak berhenti di usia belasan, bahkan tidak pula di usia 25 tahun sebagaimana kerap disebut dalam literatur terdahulu. Dari sudut pandang neurosains, fase ini dapat berlangsung hingga sekitar usia 32 tahun.

Temuan tersebut berasal dari riset berskala besar yang dilakukan tim peneliti University of Cambridge dan dipublikasikan dalam Nature Communications (Mousley dkk., 2024). Dengan menganalisis ribuan hasil pemindaian otak dari berbagai kelompok usia, para peneliti menemukan bahwa perubahan besar dalam organisasi jaringan otak—yang berkaitan dengan pengambilan keputusan, regulasi emosi, dan perencanaan jangka panjang—baru mencapai titik relatif stabil di awal usia 30-an.

Setelah fase itu, perkembangan otak lebih bersifat pemeliharaan dan penyesuaian, bukan lagi konsepsi atau pembentukan secara signifikan.

**Pertanyaan Mendasar: Apa Makna Kedewasaan?**

Angka ini tentu mengusik. Banyak orang di usia tersebut sudah bekerja bertahun-tahun, menikah, bahkan menjadi orang tua. Maka wajar jika muncul pertanyaan sinis: apakah ini berarti orang usia 30-an masih remaja?

Pertanyaan semacam itu justru membuka persoalan yang lebih mendasar. Selama ini kita kerap menyederhanakan makna kedewasaan. Kita menautkannya pada usia dan pencapaian sosial tertentu, seolah kedewasaan hadir secara otomatis pada ulang tahun tertentu. Padahal, ilmu perkembangan manusia berbicara tentang proses yang jauh lebih bertahap, penuh transisi, dan tidak selalu berjalan linear.

Dalam psikologi perkembangan, gagasan tentang masa transisi yang memanjang sebenarnya bukan hal baru. Jeffrey Jensen Arnett sejak awal 2000-an memperkenalkan konsep emerging adulthood untuk menggambarkan fase usia 18-29 tahun—fase ketika individu tidak lagi sepenuhnya remaja, tetapi juga belum mapan sebagai dewasa.

Fase ini ditandai oleh eksplorasi identitas, pencarian arah hidup, ketidakstabilan relasi dan pekerjaan, serta perasaan “di antara”: bukan anak-anak, tetapi juga belum sepenuhnya dewasa.

**Bukti Biologis dari Transisi yang Panjang**

Riset neurosains mutakhir seolah memperpanjang pemahaman tersebut. Jika secara psikologis fase transisi ini telah lama dikenali, kini bukti biologisnya semakin terlihat. Otak manusia, dalam banyak kasus, belum sepenuhnya “selesai” berkembang ketika tuntutan sosial—bekerja, mandiri, stabil secara finansial—sudah lebih dulu datang dan menekan.

Mengapa fenomena ini terasa semakin kuat hari ini? Jawabannya tentu tidak tunggal. Pendidikan berlangsung lebih lama dan relatif lebih mudah diakses—terlihat dari meningkatnya jumlah lulusan sarjana, magister, bahkan doktoral—sementara dunia kerja justru semakin kompetitif sekaligus tidak stabil.

Kemandirian finansial, yang dulu dipandang sebagai tonggak awal kedewasaan, kini menjadi target yang makin sulit dijangkau. Biaya hidup terus meningkat, kepemilikan rumah semakin menjauh dari jangkauan banyak generasi muda, dan jaminan kerja jangka panjang kian langka.

**Tekanan Sosial di Era Media Digital**

Di saat yang sama, media sosial mempercepat perbandingan sosial, memperbesar kecemasan akan ketertinggalan, dan menghadirkan standar hidup yang kerap lebih mencerminkan etalase pencapaian ketimbang realitas sehari-hari.

Ketika seseorang di usia akhir 20-an atau awal 30-an merasa belum benar-benar “sampai”, kondisi ini kerap dibaca sebagai kegagalan pribadi. Penilaian kurang gigih, kurang disiplin, atau kurang dewasa mudah disematkan. Padahal, bisa jadi ia sedang berada di persimpangan antara proses biologis yang belum sepenuhnya selesai dan struktur sosial yang menuntut hasil cepat tanpa menyediakan ruang belajar yang memadai.

**Reaksi Beragam: Antara Lega dan Gelisah**

Tidak mengherankan jika reaksi terhadap temuan seperti ini bercampur. Ada keterkejutan—bahkan penolakan. Ada pula rasa lega, seolah pengalaman pribadi akhirnya mendapat penjelasan ilmiah. Namun bersamaan dengan itu muncul kegelisahan yang sah: jangan-jangan riset ini dijadikan pembenaran untuk menunda tanggung jawab tanpa arah, atau untuk memaklumi ketidakmatangan yang berkepanjangan.

Kegelisahan ini perlu ditegaskan. Penjelasan ilmiah bukanlah pembenaran moral. Bahwa otak masih berkembang hingga usia 30-an tidak berarti seseorang bebas dari kewajiban untuk belajar mandiri, bekerja, atau bertanggung jawab atas pilihannya. Riset ini tidak mengatakan “tidak apa-apa belum dewasa”. Namun lebih menjelaskan mengapa proses menuju dewasa sering kali lebih panjang dan lebih kompleks dari yang kita sepakati secara sosial.

**Perbedaan Pandangan Antargenerasi**

Perbedaan respons terhadap temuan ini juga tampak jelas secara antargenerasi. Generasi muda mungkin merasa lebih dipahami, sementara generasi terdahulu—yang tumbuh dalam konteks ekonomi dan sosial berbeda—bisa merasa heran atau skeptis.

Namun perbedaan ini tidak harus berujung pada saling meniadakan dan mengkerdilkan, namun justru membuka ruang dialog tentang bagaimana konteks zaman membentuk ritme kedewasaan, tanpa perlu menafikan pengalaman generasi mana pun.

**Pelajaran Penting untuk Masyarakat**

Dari hasil riset ini—meskipun tentu bukan kebenaran yang tunggal dan mutlak—ada beberapa pelajaran penting. Pertama, mungkin sudah waktunya kita berhenti menjadikan usia sebagai satu-satunya penanda kedewasaan. Dewasa lebih tepat dipahami sebagai kapasitas: kemampuan mengelola diri, mengambil keputusan, dan memikul konsekuensi. Kapasitas ini tumbuh melalui pengalaman, kegagalan, pembelajaran, dan refleksi—bukan muncul secara tiba-tiba.

Kedua, temuan ini mengajak kita meninjau ulang ekspektasi sosial—termasuk soal kemandirian finansial dan kemapanan di usia tertentu. Bukan untuk menurunkannya, tetapi untuk menjadikannya lebih


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Yang Tak Terkatakan tentang Menuju Dewasa

National Geographic: Rahasia Otak