Dalam beberapa dekade terakhir, dunia menyaksikan perubahan lingkungan yang begitu cepat dan mendalam sehingga seluruh tatanan kehidupan seakan diguncang oleh kekuatan yang sulit dikendalikan. Suhu global meningkat dengan laju yang belum pernah terjadi sebelumnya, lapisan es di kutub mencair, hutan hujan tropis menyusut, dan keanekaragaman hayati menurun drastis.
Badai yang lebih kuat, gelombang panas yang lebih mematikan, serta kebakaran hutan yang meluas dari Australia hingga Amazon menjelma sebagai lanskap rutin yang mewarnai berita harian. Serangkaian bencana hidrometeorologi parah berupa banjir bandang, luapan sungai, dan tanah longsor yang menerjang wilayah utara dan tengah Pulau Sumatra pada akhir November 2025 memperlihatkan bahwa apa yang dulu dianggap anomali kini berubah menjadi pola baru yang menakutkan.
Istilah “krisis iklim” tidak lagi sekadar slogan aktivis, tetapi sudah menjadi realitas empiris yang dirasakan langsung oleh masyarakat global.
**Manusia sebagai Agen Geologis Baru**
Di tengah perubahan besar ini, muncul istilah yang semakin populer dalam diskursus ilmiah dan publik: Antroposen. Istilah ini dipakai untuk menggambarkan sebuah era geologis baru di mana aktivitas manusia telah menjadi kekuatan dominan yang memengaruhi sistem bumi.
Jika di masa lalu perubahan planet terutama digerakkan oleh faktor alamiah seperti pergeseran lempeng tektonik atau aktivitas vulkanik, kini manusia sendiri menjadi agen geologis yang meninggalkan jejak tak terhapuskan pada biosfer. Dari jejak karbon di atmosfer, plastik di lautan, hingga radiasi nuklir yang tertanam dalam lapisan tanah, manusia menandai bumi dengan cara yang tidak pernah dilakukan oleh spesies lain.
Tetapi pertanyaannya kemudian: apakah manusia benar-benar bisa menguasai planet, atau justru terjebak dalam jaring kompleksitas ekologis yang mengingatkan bahwa kita tidak pernah sepenuhnya otonom?
**Runtuhnya Paradigma Dominasi Atas Alam**
Pertanyaan ini menyingkap masalah mendasar dalam relasi antara manusia dan lingkungan. Selama berabad-abad, modernitas dibangun atas dasar keyakinan bahwa manusia berada di pusat dunia, pemilik akal yang mampu menundukkan alam untuk kepentingannya. Proyek modernisasi sejak era Pencerahan menekankan dominasi rasionalitas atas segala bentuk ketidakpastian, termasuk alam yang dianggap liar.
Namun krisis iklim kini memperlihatkan retaknya keyakinan itu. Alam tidak lagi bisa diperlakukan sebagai latar pasif yang bisa dieksploitasi tanpa batas. Gelombang panas, banjir bandang, dan pandemi global menunjukkan bahwa alam memiliki “agensi” sendiri, sebuah istilah yang dipopulerkan oleh Bruno Latour untuk menjelaskan bahwa dunia non-manusia bukanlah benda mati, melainkan aktor yang turut serta dalam jaringan kehidupan.
**Kritik Bruno Latour terhadap Pemisahan Manusia dan Alam**
Latour, seorang filsuf Prancis yang terkenal dengan karya “We Have Never Been Modern”, mengkritik pemisahan kaku antara manusia dan alam yang menjadi ciri khas modernitas. Menurutnya, sejak awal manusia tidak pernah benar-benar terpisah dari jaringan non-manusia; kita selalu hidup dalam relasi yang kompleks dengan hewan, tumbuhan, teknologi, dan unsur-unsur alam lainnya.
Krisis iklim hanya mempertegas kebenaran ini: bahwa atmosfer, tanah, virus, dan mikroba adalah bagian dari ekologi sosial yang membentuk kehidupan. Pandemi Covid-19, misalnya, memperlihatkan dengan gamblang bahwa gangguan ekologis di satu wilayah bisa menggemparkan seluruh planet, menghentikan roda ekonomi global, dan mengubah cara hidup miliaran orang.
Virus, yang tidak pernah dianggap sebagai “aktor” politik, tiba-tiba menjadi pusat seluruh perdebatan ekonomi, hukum, dan etika.
**Konsep “Chthulucene” Donna Haraway**
Sejalan dengan Latour, Donna Haraway, seorang pemikir feminis sains dan teknologi, juga menyoroti perlunya mengubah cara kita memahami relasi manusia dengan dunia non-manusia. Dalam “Staying with the Trouble”, ia mengusulkan konsep “Chthulucene” sebagai alternatif dari Antroposen.
Bagi Haraway, penyebutan Antroposen berisiko melanggengkan antropo-sentrisme, seolah-olah manusia adalah satu-satunya pusat dari perubahan planet. Ia mengajak kita untuk “tinggal bersama masalah”, artinya mengakui keterhubungan radikal dengan makhluk lain, dari bakteri hingga satwa liar, dan membangun bentuk solidaritas lintas spesies.
Dengan perspektif ini, krisis iklim tidak hanya dilihat sebagai kegagalan teknologi atau politik, melainkan sebagai krisis relasi yang menuntut manusia mengubah cara hidupnya dalam jaringan ekologi yang luas.
**Konsekuensi Industrialisasi dan Pandangan Cartesian**
Sejarah modern memperlihatkan bagaimana pandangan dominasi atas alam melahirkan industrialisasi yang membawa kemajuan sekaligus kehancuran. Revolusi Industri memang membuka jalan bagi produksi massal, pertumbuhan ekonomi, dan inovasi teknologi, tetapi juga menanam benih polusi, deforestasi, dan emisi gas rumah kaca.
Pandangan Cartesian yang memisahkan subjek manusia dari objek alam memperkuat keyakinan bahwa bumi hanyalah sumber daya yang dapat dipakai sesuka hati. Namun ketika perubahan iklim melanda, asumsi itu runtuh. Kenaikan suhu global menunjukkan bahwa bumi bukanlah mesin yang bisa dikendalikan dengan tombol rasionalitas, melainkan sebuah sistem kompleks yang merespons setiap intervensi dengan konsekuensi tak terduga.
**Bukti Nyata Dampak Krisis Iklim**
Kasus-kasus kontemporer memperlihatkan konsekuensi itu dengan tajam. Kebakaran hutan di Australia pada 2019-2020 menghanguskan lebih dari 18 juta hektare lahan dan membunuh lebih dari satu miliar hewan, menciptakan trauma ekologis sekaligus sosial. Banjir besar di Jakarta yang terjadi berulang kali menandakan rapuhnya tata kelola lingkungan perkotaan ketika pembangunan tidak memperhitungkan daya dukung alam.
Gelombang panas ekstrem di Eropa yang menewaskan puluhan ribu orang memperlihatkan bahwa bahkan negara-negara maju tidak kebal terhadap dampak krisis iklim. Dan pandemi Covid-19, mesk
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: