Kukang, Satu-Satunya Primata Berbisa di Dunia yang Tak Disangka-sangka

Di balik wajahnya yang imut seperti boneka teddy bear, kukang menyimpan senjata mematikan. Hewan bermata besar ini adalah satu-satunya primata berbisa yang diketahui di dunia, sebuah fakta yang kerap luput dari perhatian banyak orang.

Selama ini, primata—termasuk manusia—dikenal mengandalkan kecerdasan dan kekuatan fisik untuk bertahan hidup. Namun, kukang atau slow loris justru mengambil jalur berbeda. Ia menggunakan racun sebagai alat pertahanan dan serangan, menjadikannya anggota langka dalam “klub eksklusif” mamalia berbisa, bersama platipus, beberapa jenis celurut, tikus tanah Eropa, dan segelintir spesies lainnya.

**Profil Kukang: Primata Malam Asia Tenggara**

Kukang merupakan bagian dari genus Nycticebus, yang terdiri dari beberapa spesies dan tersebar di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Hewan ini aktif pada malam hari (nokturnal) dan menghabiskan hidupnya di pepohonan, mengandalkan mata besar mereka untuk berburu serangga dan hewan kecil dalam gelap.

Ukuran tubuh kukang relatif kecil, bergantung pada spesiesnya, dengan panjang sekitar 20 hingga 38 sentimeter. Meski tampak lamban dan jinak, sifat alaminya justru teritorial dan agresif saat merasa terancam.

**Mekanisme Racun yang Unik**

Ketika menghadapi bahaya, kukang tidak langsung menggigit. Ia terlebih dahulu menjilat ketiaknya, tepatnya bagian yang mengandung kelenjar brakialis. Dari kelenjar ini keluar cairan berminyak yang kemudian bercampur dengan air liur, membentuk racun yang sangat kuat.

Campuran racun tersebut mengisi alur-alur pada gigi taring kukang. Saat menggigit, racun disalurkan langsung ke tubuh lawan. Gigitan ini bahkan cukup kuat untuk menembus tulang, membuatnya sangat berbahaya.

**Serangan Terhadap Sesama Spesies**

Hal yang lebih mengejutkan, racun ini tidak hanya digunakan untuk melawan predator atau mangsa, tetapi juga untuk menyerang sesama kukang. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Current Biology menemukan bahwa dari 82 kukang Jawa yang diteliti, sekitar 20 persen mengalami luka baru akibat gigitan kukang lain.

Penggunaan racun dalam konflik internal spesies ini tergolong sangat langka di dunia hewan. Sebagian besar spesies berbisa menggunakan racun hanya untuk pertahanan atau berburu, bukan untuk persaingan sesama.

Anna Nekaris, peneliti dan konservasionis primata dari Oxford Brookes University, menyebut perilaku ini sebagai sesuatu yang “aneh dan sangat jarang” terjadi pada kerabat dekat manusia. Ia bahkan menyamakan kukang dengan “kelinci pembunuh” dalam film Monty Python, hanya saja versi nyata—dan saling menyerang.

**Dampak Berbahaya pada Manusia**

Gigitan kukang pada manusia bukan sekadar luka biasa. Selain menimbulkan rasa sakit hebat, luka gigitan dapat bertahan lama, mudah terinfeksi, dan berisiko menyebabkan kerusakan saraf serta komplikasi kulit jika tidak segera ditangani.

Dalam kasus tertentu, dampaknya bisa jauh lebih serius. Sebuah laporan medis dalam BMJ Case Reports mencatat seorang pria berusia 30-an di pedalaman Kalimantan mengalami syok anafilaksis setelah digigit kukang di jarinya. Ia menderita mual, mati rasa di bibir, sesak napas, dan keringat berlebih—kondisi yang mengancam nyawa, meski sebelumnya tidak memiliki riwayat alergi.

Karena racunnya dapat memicu reaksi alergi berat, secara medis gigitan kukang berpotensi menyebabkan kematian pada manusia.

**Kelucuan yang Menyesatkan**

Sayangnya, penampilan kukang yang menggemaskan sering membuat orang lupa bahwa mereka adalah satwa liar yang berbahaya. Persepsi keliru ini mendorong maraknya perdagangan ilegal kukang, terutama sebagai hewan peliharaan eksotis, sebuah praktik yang sebenarnya ilegal di banyak negara.

Media sosial turut memperparah kondisi ini, ketika video kukang viral tanpa memperlihatkan sisi bahayanya. Padahal, konsekuensinya bisa fatal.

Sebuah laporan medis lain mencatat seorang perempuan berusia 37 tahun di Jepang mengalami syok anafilaksis parah setelah digigit kukang peliharaannya sendiri. Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa kukang tidak pernah diciptakan untuk hidup sebagai hewan peliharaan.

Racun yang mereka miliki adalah bukti nyata bahwa di balik kelucuan tersebut, tersembunyi mekanisme pertahanan alam yang mematikan.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Genom: Kisah Spesies Manusia dalam 23 Bab

Aku Senang Ada: Manusia dan Hewan

Ensiklopedia Aku Ingin Tahu: Dunia Hewan