Letusan Vulkanik Terbesar di Tata Surya Terjadi di Bulan Jupiter

NASA kembali membuat sejarah dalam eksplorasi antariksa. Wahana Juno berhasil merekam letusan vulkanik paling spektakuler yang pernah tercatat di tata surya, terjadi di Io, salah satu bulan terbesar Jupiter.

Peristiwa luar biasa ini melibatkan beberapa sumber vulkanik yang meletus bersamaan, menciptakan ledakan energi yang belum pernah diamati sebelumnya.

Letusan tersebut mencakup area sekitar 65.000 kilometer persegi, menjadikannya peristiwa vulkanik terbesar yang pernah direkam di luar Bumi. Para peneliti menyebut, sinkronisasi letusan ini mengindikasikan adanya jaringan reservoir magma raksasa yang saling terhubung tepat di bawah permukaan Io yang dipenuhi lava.

**Energi Setara Ribuan Kali Gunung Berapi Bumi**

Berdasarkan estimasi para peneliti, letusan ini melepaskan energi antara 140 hingga 260 terawatt. Sebagai perbandingan, letusan paling kuat di Io sebelumnya—yang terjadi pada 2001 dari gunung api bernama Surt—”hanya” menghasilkan sekitar 80 terawatt.

Bahkan jika dibandingkan dengan salah satu letusan terbesar di Bumi, Gunung St. Helens tahun 1980 di Amerika Serikat, yang memiliki daya sekitar 52 terawatt, skala peristiwa di Io ini jauh melampaui.

“Yang membuat peristiwa ini benar-benar luar biasa adalah letusan tersebut tidak berasal dari satu gunung api, melainkan dari banyak sumber aktif yang menyala secara bersamaan,” ujar Alessandro Mura, peneliti dari Italian National Institute for Astrophysics (INAF).

Ia menjelaskan bahwa tingkat kecerahan vulkanik meningkat lebih dari seribu kali lipat dibandingkan kondisi normal. Menurut Mura, keserempakan sempurna ini menunjukkan bahwa peristiwa tersebut kemungkinan merupakan satu letusan raksasa tunggal yang merambat melalui lapisan bawah permukaan Io hingga ratusan kilometer.

**Bertepatan dengan Lintasan Terdekat Juno**

Letusan spektakuler ini terjadi pada 27 Desember 2024, bertepatan dengan salah satu lintasan terdekat Juno ke Io. Saat itu, wahana berada pada jarak sekitar 74.400 kilometer dari permukaan bulan yang tampak hangus oleh aktivitas vulkanik.

Io memiliki diameter sekitar 3.643 kilometer dan dikenal sebagai benda langit paling aktif secara vulkanik di tata surya, dengan sekitar 400 gunung api aktif tersebar di permukaannya.

Aktivitas ekstrem ini dipicu oleh gaya pasang surut gravitasi Jupiter yang sangat kuat, yang terus-menerus meremas dan melenturkan interior Io, menghasilkan panas yang cukup untuk menjaga mantel planet kecil ini tetap dalam kondisi cair.

**Tidak Semua Gunung Api Ikut Meletus**

Yang menarik dari peristiwa ini adalah fakta bahwa tidak semua gunung api di wilayah tersebut ikut meletus. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa hanya gunung-gunung tertentu yang terhubung dengan jaringan magma yang sama.

Tim peneliti menduga bagian bawah permukaan dan mantel Io bersifat seperti spons raksasa, penuh dengan pori-pori yang terisi magma. Beberapa jaringan magma mungkin terhubung satu sama lain, sementara yang lain berdiri sendiri, memungkinkan terjadinya letusan besar secara serentak di beberapa lokasi, namun tidak di semuanya.

**Instrumen Inframerah Jadi Kunci Deteksi**

Letusan ini terdeteksi oleh instrumen JIRAM (Jovian InfraRed Auroral Mapper) yang terpasang di wahana Juno, dengan Alessandro Mura sebagai peneliti utamanya. Awalnya, JIRAM dirancang untuk mempelajari emisi panas dan aurora di atmosfer Jupiter.

Namun, kemampuan inframerahnya juga sangat efektif untuk mendeteksi titik panas vulkanik di Io.

Sebagai bagian dari misi lanjutan Juno, wahana ini kini melakukan lintasan dekat terhadap bulan-bulan besar Jupiter, termasuk Io. Pada perlintasan berikutnya, Juno akan terus memetakan permukaan Io untuk mencari aliran lava baru dan endapan abu yang ditinggalkan oleh letusan kolosal ini.

Temuan lengkap mengenai peristiwa ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Journal of Geophysical Research: Planets pada 10 Januari 2025, dan diperkirakan akan mengubah pemahaman ilmuwan tentang dinamika interior benda langit vulkanik di tata surya.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

200 Tahun Tambora

Julius Surya Djohan: Office Boy Kuliah di New York