Membaca Buku Bisa Bikin Hidup Lebih Panjang, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Membaca buku sering dianggap sekadar hobi yang menenangkan. Namun, riset ilmiah terbaru menunjukkan bahwa kebiasaan sederhana ini ternyata menyimpan manfaat besar: membantu kita hidup lebih lama, lebih sehat secara mental, dan lebih tangguh secara emosional.

“Ketika seseorang tenggelam dalam sebuah buku, otaknya sering memasuki kondisi mirip meditasi. Keadaan ini sangat protektif bagi kesehatan mental,” kata Zoe Shaw, psikoterapis asal Los Angeles yang meneliti hubungan antara membaca dan usia panjang.

Tak heran jika setiap awal tahun banyak orang bertekad membaca lebih banyak—menumpuk buku di meja samping tempat tidur, mengunduh audiobook, atau kembali ke perpustakaan. Tanpa disadari, kebiasaan ini bukan hanya menenangkan pikiran, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi kesehatan otak dan umur panjang.

**Bukti Ilmiah: Pembaca Hidup 23 Bulan Lebih Lama**

Gagasan bahwa membaca dapat memperpanjang usia mungkin terdengar berlebihan. Namun, sebuah studi besar dari Yale School of Public Health memberi bukti kuat. Peneliti mengikuti 3.635 orang dewasa berusia 50 tahun ke atas selama 12 tahun.

Hasilnya mencengangkan: mereka yang rutin membaca buku hidup rata-rata 23 bulan lebih lama dibandingkan mereka yang tidak membaca sama sekali. Efek ini tetap terlihat meski faktor lain seperti pendidikan, pendapatan, kesehatan awal, depresi, dan kemampuan kognitif sudah diperhitungkan.

Menurut Elizabeth A. L. Stine-Morrow, profesor psikologi pendidikan dari University of Illinois, temuan ini sangat penting. Ia menilai bahwa manfaat membaca tidak hanya bersifat intelektual, tetapi juga sosial dan emosional.

**Melawan Kesepian dengan Cara Unik**

Psikolog Raymond Mar dari York University, Kanada, menambahkan bahwa membaca—khususnya fiksi—memberikan pengalaman sosial pengganti. “Saat membaca, kita berlatih memahami emosi, hubungan, dan sudut pandang orang lain, meskipun secara fisik kita sendirian,” ujarnya.

Hal ini penting karena kesepian kini dianggap sebagai faktor risiko kematian dini, setara dengan merokok atau obesitas. Buku membantu melawan kesepian dengan cara yang unik: memberi rasa ditemani tanpa tuntutan sosial.

Selain itu, membaca juga terbukti sebagai pereda stres yang efektif. Saat membaca, otak masuk ke kondisi fokus yang tenang. Dalam beberapa kasus, efeknya menyerupai meditasi—yang dikenal mampu menurunkan peradangan, memperbaiki kualitas tidur, memperkuat sistem imun, dan menjaga kesehatan jantung.

“Membaca menstimulasi otak tanpa membuat tubuh tegang,” kata Shaw.

**Melindungi Otak dari Penuaan**

Hidup lebih lama tentu lebih bermakna jika kualitas otak tetap terjaga. Di sinilah peran membaca menjadi semakin penting. Sebuah studi 14 tahun menunjukkan bahwa orang dewasa yang rutin melakukan aktivitas mental seperti membaca mengalami penurunan kognitif yang jauh lebih lambat.

Studi lain menemukan bahwa kebiasaan membaca dan menulis seumur hidup berkaitan dengan penurunan memori yang lebih lambat, bahkan pada individu yang menunjukkan tanda-tanda Alzheimer.

Para ahli menekankan bahwa membaca tidak menghentikan proses biologis demensia, tetapi membantu otak tetap berfungsi lebih baik meski ada kerusakan. Hal ini berkaitan dengan konsep cognitive reserve—cadangan kemampuan otak untuk beradaptasi terhadap penuaan.

“Membaca mengaktifkan banyak jaringan otak sekaligus: bahasa, perhatian, memori, dan imajinasi,” jelas Shaw. Aktivasi ini memperkuat ketahanan otak seiring bertambahnya usia.

**Tingkatkan Memori dan Kecerdasan Emosional**

Manfaat membaca tidak berhenti di situ. Dalam studi tahun 2022, Stine-Morrow membandingkan kelompok lansia yang membaca novel dengan kelompok yang mengerjakan teka-teki verbal. Hasilnya, kelompok pembaca menunjukkan peningkatan lebih besar pada memori jangka pendek dan jangka panjang.

Penelitian neuroimaging juga menemukan bahwa membaca novel meningkatkan konektivitas area otak yang berkaitan dengan bahasa dan sensorik—dan efeknya bisa bertahan bahkan setelah buku selesai dibaca.

Dari sisi emosional, membaca fiksi terbukti meningkatkan empati dan kemampuan mengenali emosi orang lain. Cerita memaksa kita masuk ke kehidupan tokoh dengan latar dan pengalaman berbeda, sehingga melatih kepekaan emosional di dunia nyata.

“Pembaca cenderung melihat dunia sosial dengan cara yang lebih kompleks dan tidak stereotip,” kata Nick Buttrick, psikolog sosial dari University of Wisconsin–Madison.

**Audiobook Juga Efektif**

Kabar baiknya, manfaat membaca tidak terbatas pada buku cetak. Studi dalam The Journal of Neuroscience menunjukkan bahwa otak memproses cerita dengan cara yang hampir sama, baik saat membaca maupun mendengarkan audiobook.

“Audiobook tetap membuat kita membangun dunia cerita dan karakter di dalam pikiran,” ujar Mar. Bahkan, audiobook punya keunggulan tambahan karena bisa dikombinasikan dengan aktivitas fisik seperti berjalan atau berolahraga—yang justru memperkuat manfaat kesehatan.

**Tips Merasakan Manfaat Maksimal**

Untuk merasakan manfaat ini, Anda tidak perlu membaca berjam-jam. Cukup 10–30 menit per hari sudah memberi dampak signifikan dalam jangka panjang. Para ahli menyarankan:

– Jadwalkan waktu membaca seperti aktivitas penting lainnya
– Pilih buku yang benar-benar Anda sukai, bukan yang “seharusnya” dibaca
– Gunakan format apa pun—buku cetak, e-book, atau audiobook

Pada akhirnya, membaca bukan sekadar hiburan. Ia adalah latihan otak, terapi emosi, dan investasi kesehatan jangka panjang. “Tidak pernah ada kata terlambat untuk menemukan kembali manfaat membaca,” tutup Mar.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

National Geographic: Rahasia Otak