Memburu kawanan aurochs (sapi liar purba) bukanlah pekerjaan yang sederhana. Aktivitas ini membutuhkan tingkat koordinasi dan komunikasi yang sangat canggih antara berbagai kelompok manusia purba.
Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal Scientific Reports mengungkap bahwa kemampuan organisasi yang diperlukan untuk melaksanakan perburuan berskala besar baru berkembang pada Homo sapiens sekitar 50.000 tahun yang lalu.
**Keunggulan Evolusioner yang Menentukan**
Kapasitas untuk melakukan berburu massal ini diperkirakan menjadi salah satu keunggulan evolusioner yang membantu Homo sapiens bertahan hidup lebih lama dibandingkan kerabat mereka, Neanderthal.
**Era Transformasi Kognitif Manusia**
Lima puluh ribu tahun terakhir dalam sejarah manusia dianggap sebagai periode yang unik. Sekitar 50.000 tahun yang lalu, manusia di seluruh dunia tiba-tiba mengalami peningkatan kognitif yang tidak diketahui penyebabnya, menghasilkan ledakan ekspresi artistik dan perilaku ritual.
Fenomena ini dikenal sebagai Great Leap Forward (Lompatan Besar ke Depan). Antropolog menduga terobosan budaya ini mungkin berkaitan dengan talenta unik Homo sapiens dalam berkomunikasi, berjejaring, dan berkolaborasi.
**Penelusuran Bukti Arkeologi**
Untuk memperoleh gambaran yang lebih pasti tentang kapan kemampuan kerja sama skala besar ini muncul, para penulis studi baru mencari jejak-jejak berburu massal sebelum periode 50.000 tahun yang lalu.
“Berburu massal, yang berkaitan dengan pemrosesan beberapa hewan ternak mungkin melibatkan tingkat kerja sama dan komunikasi yang tinggi di antara banyak orang dari kelompok berbeda selama beberapa hari, kadang-kadang lebih lama,” tulis para peneliti dalam studinya dikutip IFL Science.
“Karena itu, ini adalah proksi arkeologi penting dari kerja sama skala besar.”
**Analisis Situs Nesher Ramla**
Para peneliti memfokuskan kajian pada situs Nesher Ramla di Israel, tempat sejumlah besar tulang sapi liar purba yang memiliki tanda-tanda penyembelihan oleh manusia telah ditemukan.
Situs yang berusia sekitar 120.000 tahun ini dihuni oleh hominin mirip Neanderthal yang hidup berdampingan dengan manusia modern (Homo sapiens). Ada kemungkinan hominin purba ini mempelajari berburu massal dengan mengamati kelompok H. sapiens yang lebih maju.
**Bukti Menentang Hipotesis Lama**
Namun, analisis sisa-sisa tulang hewan di Nesher Ramla menunjukkan hal yang berlawanan. Hewan yang disembelih jelas bukan berasal dari kawanan yang sama.
“Analisis kami dan data tidak mendukung hipotesis bahwa (Nesher Ramla) menjadi tempat berburu massal, melainkan tempat berburu skala kecil,” tulis para penulis studi.
**Temuan yang Memperkuat Kesimpulan**
Temuan ini didukung oleh beberapa faktor kunci:
**Profil Bangkai Hewan**
Semua sapi purba yang ada di situs adalah betina dewasa, yang tidak sesuai dengan profil mortalitas yang diharapkan jika seluruh kawanan utuh dibunuh secara bersamaan.
**Analisis Isotop**
Analisis isotop pada tulang mengungkapkan bahwa sapi-sapi raksasa ini tidak hidup bersama, mengesampingkan kemungkinan pembantaian seluruh kawanan yang sedang bergerak.
**Bukti Perburuan Berulang**
Para peneliti bahkan menemukan satu hewan yang menunjukkan tanda-tanda selamat dari serangan panah pada saat perburuan, hanya untuk dibunuh oleh kelompok manusia yang sama di kemudian hari.
**Keterbatasan Hominin Purba**
Setelah menolak kemungkinan berburu massal di Nesher Ramla, para peneliti menyimpulkan bahwa hominin di situs tersebut tidak mampu melakukan komunikasi dan kerja sama antar-kelompok yang diperlukan untuk pembantaian skala besar, meskipun mereka hidup berdampingan dengan Homo sapiens yang lebih mahir.
**Implikasi Evolusioner**
Para peneliti berpendapat bahwa ketidakmampuan untuk bekerja sama dalam berburu massal ini mungkin merupakan kerugian evolusioner ketika dihadapkan dengan kelompok manusia modern yang lebih banyak atau terhubung dengan lebih baik.
**Kontribusi Terhadap Teori Evolusi**
Studi ini menambah bobot pada gagasan bahwa manusia purba tidak dapat bersaing dengan kemampuan manusia modern dalam berorganisasi dan berkolaborasi, yang pada akhirnya berkontribusi pada kelangsungan hidup Homo sapiens dalam jangka panjang.
**Signifikansi Keterampilan Sosial**
Penelitian ini menekankan pentingnya keterampilan sosial dan organisasi dalam evolusi manusia. Kemampuan untuk berkoordinasi dalam kelompok besar tidak hanya memungkinkan perburuan yang lebih efisien, tetapi juga membuka jalan bagi perkembangan teknologi, budaya, dan masyarakat yang lebih kompleks.
**Jejak Perkembangan Kognitif**
Temuan ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana perkembangan kognitif manusia modern mempengaruhi strategi bertahan hidup mereka. Kemampuan berburu massal yang berkembang sekitar 50.000 tahun yang lalu mungkin merupakan salah satu faktor kunci yang memungkinkan Homo sapiens menyebar ke seluruh dunia dan mendominasi ekosistem global.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: