Mengapa Mencium Aroma Pohon Pinus Bisa Seketika Meningkatkan Mood?

Wangi pinus merupakan salah satu aroma yang mampu mengubah suasana ruangan dan mood seseorang dalam hitungan detik. Sekali menghirup, kita seolah terbawa kembali pada lanskap hijau yang menyejukkan, suara gemericik air, tetesan embun, atau kenangan tentang hutan indah dengan rumput segar di bawahnya. Aroma ini terasa menyejukkan dan membangkitkan kebahagiaan.

Namun, mengapa demikian? Jawabannya ternyata bukan terletak pada kandungan dalam pohon pinus, melainkan pada ingatan yang tersimpan dalam diri manusia.

**Bukan Farmakologi, Tapi Asosiasi yang Dipelajari**

“Tidak ada kandungan khusus dalam pinus yang memiliki pengaruh farmakologis langsung pada manusia,” ungkap Dr. Rachel Herz, ahli saraf dari Brown University yang meneliti psikologi penciuman. “Cara kerjanya melalui asosiasi yang dipelajari.”

**Aromaterapi Bekerja dengan Cara Berbeda dari Perkiraan**

Dalam industri wellness, pinus diketahui mengandung terpenes seperti α-pinene dan limonene, yang sering diklaim memiliki efek menenangkan dan meningkatkan mood. Produk aromaterapi pun mempromosikan minyak esensial pinus sebagai sesuatu yang “menyegarkan” dan “mengangkat semangat”.

Namun, Herz menekankan bahwa klaim tersebut tidak sepenuhnya akurat jika ditinjau dari sudut pandang ilmiah.

Menurut Herz, persepsi terhadap aroma terjadi di kompleks amigdala-hipokampus, atau korteks olfaktori primer—bagian otak yang erat berkaitan dengan emosi dan memori.

“Aromaterapi memang bekerja, tetapi bukan seperti yang banyak orang bayangkan,” jelasnya. “Jika saya memiliki asosiasi emosional tertentu terhadap sebuah aroma, asosiasi itu akan langsung aktif begitu saya mencium aromanya.”

Ia menegaskan bahwa respons emosional ini bahkan lebih cepat dibandingkan mekanisme kerja obat yang memerlukan waktu untuk dicerna tubuh.

**Memori Tak Sadar Memicu Perubahan Mood**

Yang menarik, manusia tidak perlu mengingat secara sadar kenangan yang berkaitan dengan aroma tersebut.

“Anda mungkin kemudian mengingat memori—misalnya saat berkemah ketika kecil—tetapi itu tidak diperlukan. Yang muncul lebih dulu adalah dorongan mood yang menyenangkan,” kata Herz.

**Manusia Harus Belajar Mengartikan Setiap Aroma**

Manusia adalah makhluk “generalis” yang bisa hidup di berbagai lingkungan. Tidak seperti beberapa spesies yang sejak lahir sudah mengetahui bau mana yang menandakan predator atau racun, manusia harus mempelajari arti setiap aroma.

“Tidak masuk akal jika kita tiba-tiba menyukai aroma pinus begitu saja,” jelas Herz. “Dalam kondisi tertentu, aroma itu bisa menandakan bahaya.”

Artinya, jika pengalaman pertama seseorang terhadap aroma pinus terjadi saat ia sedang dikejar binatang liar di hutan, kemungkinan besar wangi pinus tidak akan pernah terasa menenangkan baginya. Aroma itu baru terasa menyenangkan jika seseorang punya pengalaman bahagia saat berjalan di hutan pinus di musim liburan.

**Konteks Menentukan Persepsi**

Tetapi bagaimana jika aromanya berasal dari cairan pembersih kamar mandi atau pewangi mobil berbentuk pohon kecil? Jawabannya bergantung pada persepsi dan konteks.

“Jika seseorang ditutup matanya, lalu mencium minyak esensial pinus, pohon asli, atau aroma sintetis dari pembersih, pengalaman sensoriknya akan sama,” kata Herz. “Yang membedakan adalah interpretasi: mencium pinus saat membuka botol pembersih toilet tentu memberi konotasi berbeda dibandingkan saat berada di alam.”

**Eksperimen Parmesan vs Muntahan**

Herz bahkan pernah melakukan eksperimen yang menunjukkan betapa kuatnya konteks memengaruhi persepsi. Ia memberikan campuran dua bahan kimia dalam toples identik kepada peserta.

Pada percobaan pertama, ia mengatakan bahwa aroma itu adalah keju parmesan. “Mereka bilang baunya enak, familier, dan mereka mau memakannya,” cerita Herz.

Seminggu kemudian, peserta menghirup aroma yang sama persis. Bedanya, Herz mengatakan bahwa itu adalah bau muntah.

“Mereka langsung mengatakan aromanya menjijikkan dan mereka tidak akan memakannya,” katanya. “Mereka tidak percaya ketika saya katakan bahwa itu aroma yang sama. Seperti melakukan trik sulap.”

**Psikologi dengan Dampak Fisiologis Nyata**

Meskipun aroma pinus tidak mengandung senyawa “penenang alami” seperti yang sering diiklankan, efeknya terhadap kesejahteraan psikologis tetap nyata.

“Ini bukan farmakologi, ini psikologi,” ujar Herz. “Tetapi emosi itu nyata, dan memiliki konsekuensi fisiologis yang nyata.”

Dengan kata lain, aroma pinus dapat membuat seseorang merasa bahagia, rileks, atau sebaliknya—bergantung pada pengalaman emosional yang ia hubungkan dengan aroma tersebut.

**Keajaiban Penciuman**

Inilah keajaiban penciuman: satu hirupan kecil saja dapat membuka gerbang ke dunia emosi dan memori yang melekat kuat dalam diri manusia. Aroma menjadi jembatan penghubung antara masa kini dengan pengalaman masa lalu, menciptakan respons emosional yang kuat melalui mekanisme psikologis yang kompleks.

**Implikasi untuk Terapi dan Kesehatan Mental**

Pemahaman ini membuka peluang baru dalam pendekatan terapi yang memanfaatkan aroma, bukan berdasarkan klaim farmakologis yang tidak terbukti, melainkan berdasarkan pemahaman ilmiah tentang bagaimana otak memproses asosiasi emosional melalui indra penciuman.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Seri Nat Geo: Mengapa Tidak? 1.111 Jawaban Beraneka Pertanyaan

Buah Leluhur dari Pohon Kehidupan: Memanggil Pulang Sukun ke Nusantara

Aku Senang Ada: Pohon dan Tumbuhan