Misi Artemis II resmi memulai perjalanannya menuju orbit Bulan pada Kamis malam (2/4/2026). Wahana antariksa Orion yang membawa empat astronaut berhasil melakukan pembakaran mesin krusial untuk keluar dari orbit Bumi dan menempuh jalur yang pernah dilewati program Apollo lebih dari setengah abad lalu.
Peluncuran ini menandai momen pertama kalinya manusia kembali mengunjungi lingkungan tetangga terdekat Bumi tersebut sejak misi Apollo 17 pada Desember 1972. Misi berdurasi sepuluh hari ini melibatkan Komandan Reid Wiseman, Pilot Victor Glover, serta spesialis misi Christina Koch dan Jeremy Hansen.
**Tonggak Sejarah Inklusivitas Eksplorasi Antariksa**
Kehadiran keempat astronaut ini mencatatkan sejarah baru dalam hal inklusivitas. Glover menjadi orang kulit hitam pertama, Koch menjadi perempuan pertama, dan Hansen menjadi warga non-Amerika Serikat pertama yang terbang ke Bulan.
Meskipun misi ini diprediksi memecahkan rekor jarak terjauh yang pernah ditempuh manusia dari Bumi, muncul pertanyaan mendasar di tengah publik: mengapa keempat astronaut ini tidak mendarat di permukaan Bulan, dan mengapa butuh waktu hingga 54 tahun bagi umat manusia untuk kembali ke sana?
**Strategi Pengujian Bertahap dan Kendala Teknis**
Keputusan NASA untuk tidak mendaratkan kru Artemis II di permukaan Bulan didasari oleh strategi pengujian bertahap. Mengutip laporan Space.com, wahana Orion yang digunakan saat ini memang tidak dirancang untuk mendarat, melainkan fokus pada pengujian sistem pendukung kehidupan yang baru pertama kali membawa awak.
Marc Norman, seorang geokimiawan planet dari Australian National University, menjelaskan kepada jurnal Nature bahwa penerbangan lintas sangat masuk akal untuk mendemonstrasikan keandalan sistem sebelum mencoba pendaratan yang jauh lebih kompleks.
**Hambatan Teknologi yang Belum Teratasi**
Penundaan pendaratan hingga misi Artemis IV, yang dijadwalkan paling cepat tahun 2028, juga dipengaruhi oleh kendala teknis pada beberapa komponen kunci. Masalah pada perisai panas Orion yang kehilangan material lebih banyak dari perkiraan saat misi Artemis I tahun 2022 menjadi perhatian serius. NASA mengidentifikasi lebih dari 100 area yang mengalami ablasi tidak normal.
Selain itu, pengembangan pakaian luar angkasa generasi baru (xEMU) dan sistem pendaratan manusia (HLS) yang digarap oleh SpaceX dan Blue Origin masih membutuhkan waktu.
Berdasarkan dokumen internal SpaceX yang dikutip Space.com, demonstrasi pengisian bahan bakar di orbit baru akan dilakukan Juni 2026, disusul pendaratan tanpa awak pada Juni 2027 sebelum akhirnya membawa astronaut mendarat pada September 2028.
**Faktor Politik: Dari Apollo ke Artemis**
Alasan mengapa manusia “absen” dari Bulan selama puluhan tahun berkaitan erat dengan motivasi politik. Program Apollo lahir dari persaingan Perang Dingin, di mana pendaratan di Bulan dianggap sebagai keharusan keamanan nasional untuk mengalahkan Uni Soviet.
Pada puncaknya, anggaran NASA mencapai 4,4 persen dari total anggaran federal AS, sementara saat ini angka tersebut merosot hingga kurang dari 0,4 persen.
**Prioritas Bergeser dari Prestise ke Praktis**
Setelah misi Apollo 11 berhasil pada 1969, dorongan politik mulai memudar. Presiden Richard Nixon kemudian mengalihkan fokus pendanaan ke program pesawat ulang-alik yang dianggap lebih terjangkau, sehingga memangkas kelanjutan dana Apollo pada 1972.
Kini, di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, Amerika Serikat kembali memacu ambisinya sebagai respons atas kemajuan pesat Tiongkok di sektor antariksa. Tiongkok telah menargetkan pendaratan astronaut di Bulan pada tahun 2030.
**Visi Jangka Panjang: Dari Kunjungan ke Kolonialisasi**
Administrator NASA, Jared Isaacman, menegaskan bahwa perbedaan mendasar Artemis dengan Apollo terletak pada tujuan akhirnya. Jika Apollo hanya bertujuan untuk menancapkan bendera dan meninggalkan jejak kaki, Artemis dirancang untuk membangun basis permanen di kutub selatan Bulan sebagai batu loncatan menuju Mars.
“Kali ini tujuannya adalah untuk menetap. Amerika tidak akan pernah lagi melepaskan Bulan,” ujar Isaacman melalui Space.com.
**Respons Beragam dari Komunitas Ilmiah**
Meskipun ambisi ini besar, komunitas ilmiah memberikan reaksi yang beragam. Sebagian peneliti, seperti Jevin West dari University of Washington, melihat misi ini sebagai inspirasi bagi generasi muda.
Namun, pakar lain seperti Scott Aaronson dari University of Texas menilai bahwa misi robotik tanpa awak sebenarnya jauh lebih hemat biaya dalam menghasilkan data sains.
**Dilema Efisiensi versus Simbolisme**
Perdebatan ini mencerminkan dilema fundamental dalam eksplorasi antariksa: apakah investasi besar dalam misi berawak dapat dibenarkan dibandingkan dengan misi robotik yang lebih ekonomis namun tetap produktif secara ilmiah.
Pendukung misi berawak berargumen bahwa kehadiran manusia memberikan kemampuan adaptasi dan pemecahan masalah yang tidak dapat digantikan oleh robot. Sementara kritikus menekankan bahwa dengan anggaran yang sama, lebih banyak penelitian dapat dilakukan melalui misi robotik.
**Tantangan Berkelanjutan**
Tantangan ke depan bagi NASA bukan hanya memastikan keamanan teknologi seperti perisai panas dan roket SLS, tetapi juga menjaga konsistensi pendanaan di tengah dinamika politik Amerika Serikat agar target pendaratan di tahun 2028 tidak kembali bergeser.
Sejarah menunjukkan bahwa perubahan administrasi sering kali mengubah prioritas program antariksa. Keberhasilan Artemis akan sangat bergantung pada dukungan politik lintas partai dan kemampuan NASA untuk menunjukkan kemajuan yang konsisten.
**Kompetisi Global dan Kepentingan Strategis**
Dimensi geopolitik modern dalam eksplorasi Bulan tidak dapat diabaikan. Dengan Tiongkok dan negara-negara lain yang semakin aktif dalam program antariksa, Bulan kembali menjadi arena kompetisi internasional.
Namun berbeda dengan era Apollo yang didorong oleh rivalitas murni, kompetisi saat ini lebih fokus pada kepentingan ekonomi jangka panjang, termasuk potensi penambangan mineral dan penggunaan Bulan sebagai basis untuk eksplorasi luar angkasa yang lebih jauh.
Keberhasilan Artemis II sebagai
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait:
Seri Nat Geo: Mengapa Tidak? 1.111 Jawaban Beraneka Pertanyaan