Pernahkah Anda mengubah audio bahasa saat menonton film? Misalnya dari bahasa Inggris ke bahasa Jepang atau Thailand. Bagi telinga yang belum terbiasa, bahasa asing kerap terdengar sangat cepat—seolah-olah penuturnya berucap tanpa jeda.
Memang benar, setiap bahasa memiliki kecepatan berbicara yang berbeda. Menariknya, meskipun terdengar berbeda dalam hal tempo, para penutur berbagai bahasa di dunia umumnya tetap menyampaikan informasi dalam durasi yang hampir sama.
Bagaimana fenomena ini bisa terjadi? Ilmu linguistik dan teori informasi memberikan penjelasan yang menarik.
**Bahasa Jepang Tercepat, Bahasa Inggris Lebih Lambat**
Penelitian pada 2011 mengukur kecepatan berbicara dalam tujuh bahasa. Hasilnya menunjukkan bahwa bahasa Jepang termasuk yang paling cepat. Rata-rata penutur Jepang mengucapkan sekitar 7,84 suku kata per detik, sedangkan penutur bahasa Inggris hanya sekitar 6,19 suku kata per detik.
Perbedaan ini sebenarnya cukup logis jika kita mengamati struktur bunyi dalam bahasa. Bahasa Inggris memiliki banyak suku kata yang mengandung berbagai bunyi sekaligus.
Coba ucapkan kalimat ini secepat mungkin: “Smart frogs jumped twelve quick sticks.” Kalimat pendek tersebut memiliki 29 fonem (unit dasar bunyi dalam bahasa), tetapi hanya terdiri dari enam suku kata. Artinya, satu suku kata bisa memuat banyak bunyi sekaligus.
Sebaliknya, dalam bahasa seperti Jepang, setiap suku kata biasanya hanya berisi sedikit bunyi, sehingga penutur bisa mengucapkan lebih banyak suku kata dalam satu detik. Akibatnya, bahasa Jepang terdengar sekitar 20 persen lebih cepat daripada bahasa Inggris.
**Durasi Film Tetap Sama Meski Kecepatan Berbeda**
Namun ada fakta menarik: meskipun demikian, film yang dialihsuarakan (dubbing) ke bahasa Jepang dan bahasa Inggris tetap memiliki durasi yang sama.
Untuk memahami fenomena ini, kita perlu melihat penelitian dari Claude Shannon, seorang ilmuwan Amerika yang dikenal sebagai pelopor teori informasi. Shannon memperkenalkan istilah “bit” sebagai unit informasi dalam komputasi. Ia juga meneliti bagaimana bahasa manusia menyampaikan informasi.
Pada 1951, Shannon memperkirakan bahwa bahasa Inggris memiliki tingkat redundansi sekitar 80 persen. Artinya, secara teori kita bisa menghilangkan empat dari lima huruf dalam sebuah teks dan maknanya masih dapat dipahami.
**Kepadatan Informasi yang Berbeda-beda**
Meskipun penelitian terbaru memperkirakan redundansi bahasa Inggris sekitar 50 persen, gagasan dasar Shannon tetap bertahan: setiap bahasa menyampaikan informasi dengan kepadatan yang berbeda.
Dengan kata lain, hanya mengukur kecepatan suku kata per detik tidak cukup untuk memahami bagaimana bahasa menyampaikan makna.
Pada 2019, peneliti dari University of Lyon mencoba mengukur hubungan antara kecepatan berbicara dan kepadatan informasi. Mereka menganalisis 170 penutur dari 17 bahasa yang membaca teks yang sama.
Para peneliti menghitung waktu yang diperlukan untuk membaca teks tersebut (tanpa menghitung jeda panjang). Hasilnya cukup bervariasi:
– Penutur paling lambat: 4,3 suku kata per detik
– Penutur paling cepat: 9,1 suku kata per detik
**Konsep Entropi dan Kepadatan Makna**
Para peneliti tidak berhenti di situ. Mereka juga mengukur kepadatan informasi dalam setiap bahasa menggunakan konsep yang disebut entropi bersyarat suku kata—yakni seberapa mudah kita menebak suku kata berikutnya berdasarkan suku kata sebelumnya.
Contohnya adalah bahasa Vietnam. Bahasa ini termasuk relatif lambat dalam jumlah suku kata per detik, tetapi setiap suku kata membawa informasi yang lebih padat. Akibatnya, penutur Vietnam tidak perlu mengucapkan terlalu banyak suku kata untuk menyampaikan makna yang sama.
Sebaliknya, bahasa seperti Spanyol memiliki suku kata yang lebih sederhana, sehingga penuturnya perlu mengucapkan lebih banyak suku kata.
**Laju Informasi Hampir Universal**
Ketika para peneliti menggabungkan dua faktor tersebut—kecepatan berbicara dan kepadatan informasi—mereka menemukan ukuran baru yang disebut information rate atau laju informasi. Ukuran ini menunjukkan berapa banyak informasi yang dapat disampaikan per detik.
Hasilnya cukup mengejutkan: hampir semua bahasa memiliki laju informasi yang sangat mirip, sekitar 39 bit per detik.
Para peneliti menduga angka ini mencerminkan batas kemampuan otak manusia dalam memahami bahasa. Dengan kata lain, otak manusia mungkin hanya mampu memproses informasi bahasa sampai batas tertentu—tidak peduli bahasa apa yang digunakan.
**Keterbatasan Penelitian**
Meski begitu, penelitian ini belum sempurna. Sosiolinguist Erica Brozovsky dari Worcester Polytechnic Institute menilai bahwa metode penelitian tersebut memiliki keterbatasan karena semua peserta membaca teks yang sudah ditentukan, bukan berbicara secara alami.
Ia menjelaskan: “Saya tidak membaca sesuatu dengan cara yang sama seperti ketika saya berbicara. Cara saya berbicara biasanya jauh lebih cepat dan lebih alami dibanding saat membaca.”
Pendapat ini juga disetujui oleh Dan Dediu, seorang ahli linguistik dari University of Barcelona dan salah satu penulis penelitian tersebut. Ia mengatakan penelitian lanjutan sedang dilakukan untuk mempelajari penggunaan bahasa yang lebih alami dalam percakapan sehari-hari.
**Penelitian Lanjutan dengan Cakupan Lebih Luas**
Penelitian baru ini juga akan memasukkan lebih banyak bahasa dari budaya non-WEIRD (Western, Educated, Industrialized, Rich, and Democratic) untuk melihat apakah pola laju informasi tersebut tetap berlaku secara global.
Meski hasil akhirnya belum resmi, data awal menunjukkan bahwa laju informasi bahasa mungkin memang bersifat universal.
**Kecepatan Bicara Bukan yang Terpenting**
Beberapa bahasa menyampaikan makna melalui suku kata yang sangat padat informasi, sementara bahasa lain menyebarkannya ke dalam lebih banyak suku kata. Namun semuanya tetap diproses oleh otak man
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait:
Seri Nat Geo: Mengapa Tidak? 1.111 Jawaban Beraneka Pertanyaan