Kebiasaan menggertakkan gigi saat tidur atau yang secara medis disebut sebagai bruxism sering kali dianggap sebagai hal sepele. Namun, pakar kesehatan mengingatkan bahwa kondisi ini bukan sekadar masalah kesehatan gigi, melainkan melibatkan mekanisme kompleks pada otak dan sistem saraf.
**Gangguan Tidur yang Perlu Perhatian Serius**
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr Yeni Quinta Mondiani, SpN, menjelaskan bahwa bruxism merupakan gangguan tidur yang perlu mendapat perhatian serius jika berlangsung terus-menerus. Kondisi ini berupa gerakan repetitif rahang bawah yang terjadi secara tidak sadar saat seseorang terlelap.
“Sleep bruxism ditandai dengan gerakan mengunyah berulang yang menyebabkan gesekan antar gigi. Suara yang dihasilkan sering kali cukup mengganggu dan dapat berdampak pada kesehatan gigi maupun sendi rahang,” jelas dr Yeni, Kamis (9/4/2026) dikutip dari laman IPB University.
**Mekanisme Neurologis yang Kompleks**
Secara neurologis, bruxism terjadi akibat peningkatan aktivitas otot-otot pengunyahan, seperti otot masseter, temporalis, dan pterygoid. dr Yeni menyebutkan bahwa aktivitas ini dipicu oleh gangguan kontrol gerakan pada sistem saraf, khususnya yang melibatkan sistem dopaminergik.
“Kontraksi otot menjadi lebih sering dan lebih kuat dibandingkan kondisi normal. Hal ini menunjukkan adanya keterlibatan sistem saraf pusat dalam mengatur gerakan tersebut,” tambahnya.
**Prevalensi pada Anak-Anak Lebih Tinggi**
Meskipun prevalensinya relatif sama antara pria dan wanita, kasus ini ternyata lebih sering ditemukan pada anak-anak di rentang usia 3 hingga 12 tahun.
**Stres sebagai Faktor Pemicu Utama**
Selain faktor saraf, dr Yeni menekankan bahwa kondisi psikologis memegang peran besar sebagai pemicu. Berdasarkan meta-analisis, tingkat stres dan kecemasan yang tinggi berbanding lurus dengan besarnya risiko seseorang mengalami bruxism.
“Pengelolaan stres menjadi sangat penting, bukan hanya untuk kesehatan mental, tetapi juga untuk menjaga kualitas tidur serta kesehatan gigi dan rahang,” ujarnya.
**Klasifikasi sebagai Parasomnia**
Dalam dunia medis, bruxism diklasifikasikan sebagai parasomnia, yakni perilaku atau gerakan tidak diinginkan saat tidur. Kondisi ini juga kerap berbarengan dengan masalah lain seperti obstructive sleep apnea, gangguan irama sirkadian, hingga efek penggunaan obat-obatan tertentu.
**Indikasi Perlu Penanganan Medis**
dr Yeni mengingatkan agar masyarakat tidak mengabaikan gejala bruxism, terutama jika sudah muncul keluhan fisik yang nyata. Penanganan medis menjadi wajib apabila pasien mulai merasakan nyeri rahang, gigi retak, sensitivitas gigi yang tajam, hingga gangguan saat mengunyah makanan.
“Jika disertai gangguan tidur, sakit kepala berulang, atau dicurigai berkaitan dengan gangguan neurologis, maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter spesialis,” tegas dr Yeni.
**Pendekatan Penanganan Komprehensif**
Untuk penanganan, dr Yeni menyarankan pendekatan komprehensif mulai dari perbaikan kualitas tidur hingga penggunaan pelindung gigi (mouth guard). Dalam beberapa kasus medis tertentu, penggunaan obat pelemas otot sebelum tidur dapat diberikan untuk membantu mengurangi kontraksi rahang yang berlebihan.
**Dampak Jangka Panjang yang Mengkhawatirkan**
Jika tidak ditangani dengan tepat, bruxism dapat menyebabkan kerusakan gigi permanen, gangguan sendi temporomandibular (TMJ), dan bahkan perubahan bentuk wajah akibat kerusakan struktur rahang.
Kondisi ini juga dapat mempengaruhi kualitas tidur, tidak hanya bagi penderita tetapi juga pasangan tidur yang terganggu oleh suara gertak gigi.
**Faktor Genetik dan Lingkungan**
Penelitian menunjukkan bahwa bruxism dapat memiliki komponen genetik, dengan kecenderungan menurun dalam keluarga. Namun, faktor lingkungan seperti pola hidup, konsumsi kafein, dan kebiasaan merokok juga berkontribusi terhadap risiko terjadinya kondisi ini.
**Teknologi Diagnosis Modern**
Diagnosis bruxism saat ini dapat dilakukan dengan lebih akurat menggunakan teknologi polysomnography yang dapat merekam aktivitas otot rahang selama tidur. Metode ini membantu dokter menentukan tingkat keparahan dan frekuensi gertak gigi yang terjadi.
**Strategi Pencegahan**
Pencegahan bruxism dapat dilakukan melalui manajemen stres yang baik, teknik relaksasi sebelum tidur, dan menjaga kebersihan tidur (sleep hygiene). Menghindari konsumsi kafein dan alkohol menjelang waktu tidur juga dapat membantu mengurangi risiko.
**Pentingnya Kesadaran Dini**
Kesadaran akan gejala bruxism sangat penting, terutama karena kondisi ini sering tidak disadari oleh penderita. Pasangan tidur atau anggota keluarga sering kali yang pertama mendeteksi adanya suara gertak gigi saat tidur.
**Integrasi Perawatan Multidisiplin**
Penanganan bruxism yang optimal memerlukan kerjasama antara dokter gigi, neurolog, dan psikolog untuk mengatasi berbagai aspek yang terlibat dalam kondisi ini. Pendekatan holistik ini memberikan hasil yang lebih baik dalam jangka panjang.
**Edukasi Masyarakat yang Diperlukan**
Edukasi kepada masyarakat tentang bruxism sebagai gangguan medis yang serius, bukan hanya kebiasaan buruk, sangat penting untuk meningkatkan tingkat kesadaran dan mendorong pencarian pengobatan yang tepat.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: