Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) meluncurkan misi bersejarah ke Bulan pada Rabu (1/4/2026), menandai kembalinya manusia ke orbit satelit alami Bumi setelah lebih dari setengah abad. Misi Artemis II ini menjadi perjalanan berawak pertama menuju Bulan sejak berakhirnya era Apollo pada tahun 1970-an.
Ekspedisi selama 10 hari ini membawa empat astronaut melaju lebih jauh ke kedalaman ruang angkasa dibandingkan siapa pun sebelumnya. Meskipun tidak melakukan pendaratan di permukaan, kru akan mengorbit Bulan untuk menyiapkan fondasi bagi pendaratan manusia di masa mendatang.
**Kendala Teknis Menjelang Peluncuran**
Dikutip BBC News, peluncuran yang dilaksanakan pada pukul 18.35 CDT di Kennedy Space Center sempat diwarnai ketegangan. Masalah teknis pada sistem penghentian penerbangan (flight termination system) dan baterai Launch Abort System memaksa teknisi NASA bekerja maksimal sebelum lepas landas.
Sebelumnya, jadwal peluncuran telah mengalami penundaan berulang kali. Pada Februari lalu, uji coba wet dress rehearsal terpaksa dihentikan akibat kebocoran bahan bakar hidrogen. Rencana peluncuran Maret juga dibatalkan karena ditemukan kebocoran helium.
Namun, seluruh hambatan tersebut berhasil diatasi. Sesaat sebelum roket Space Launch System (SLS) meluncur, pesan mengharukan terdengar dari dalam kapsul Orion.
“Kami pergi demi seluruh umat manusia,” ujar spesialis misi Jeremy Hansen, astronaut asal Kanada yang mencatatkan sejarah sebagai warga Kanada pertama yang melakukan perjalanan ke Bulan.
**Momentum Bersejarah di Luar Angkasa**
Sorak-sorai penonton memecah keheningan saat pendorong roket ganda terpisah setelah membantu roket mencapai kecepatan lebih dari 16.100 kilometer per jam. Begitu memasuki lapisan atmosfer atas, komandan pesawat ruang angkasa Reid Wiseman melaporkan pemandangan spektakuler.
“Pemandangan yang hebat,” lapor Wiseman saat kru resmi memasuki orbit setelah melewati garis Kármán—batas antara atmosfer Bumi dan ruang angkasa.
Meskipun peluncuran berjalan sukses, kru sempat menghadapi gangguan komunikasi singkat dan kendala pada sistem toilet yang kemudian berhasil diperbaiki.
**Misi Pengujian Komprehensif**
Selama ekspedisi ini, keempat astronaut—Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen—memiliki tugas fundamental. Mereka akan menguji kendali manual kapsul Orion di orbit Bumi sebagai simulasi untuk pendaratan Bulan di masa depan.
Selanjutnya, mereka akan menuju titik ribuan kilometer melintasi Bulan untuk memverifikasi sistem pendukung kehidupan, propulsi, daya, dan navigasi. Para kru juga berperan sebagai subjek penelitian medis dengan mengirimkan data dan gambar dari ruang angkasa dalam, di mana tingkat radiasi jauh lebih tinggi dibandingkan di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
**Fondasi Menuju Pangkalan Lunar Permanen**
Misi Artemis II merupakan batu loncatan untuk misi Artemis IV pada 2028, yang menargetkan pendaratan astronaut di kutub selatan Bulan. Sebelumnya, NASA merencanakan misi Artemis III pada 2027 sebagai ajang pengujian pakaian antariksa generasi baru dan prosedur dok dengan kendaraan pendarat komersial seperti Starship milik SpaceX atau produk Blue Origin milik Jeff Bezos.
Berbeda dengan program Apollo yang bertujuan menegaskan supremasi teknologi di era Perang Dingin, program Artemis dirancang untuk kehadiran manusia berkelanjutan di Bulan melalui kolaborasi komersial.
**Persaingan Global Eksplorasi Lunar**
Langkah ambisius NASA ini juga memicu kompetisi dengan negara-negara lain. China menargetkan pendaratan di kutub selatan Bulan pada 2030, sementara Rusia dan India memiliki rencana serupa untuk mengirimkan astronaut mereka dalam dekade mendatang.
Persaingan ini mencerminkan kepentingan strategis Bulan sebagai batu loncatan untuk eksplorasi Mars dan sumber daya mineral yang berpotensi bernilai triliunan dolar.
**Tantangan Kepulangan yang Krusial**
Misi Artemis II akan diakhiri dengan kepulangan yang menantang melalui atmosfer Bumi sebelum melakukan splashdown di Samudra Pasifik, lepas pantai barat Amerika Serikat.
Fase ini menjadi ujian penting bagi kemampuan kapsul Orion menahan panas ekstrem saat kembali menembus atmosfer dengan kecepatan tinggi. Keberhasilan tahap ini akan menentukan kelayakan teknologi untuk misi-misi mendatang.
**Era Baru Eksplorasi Antariksa**
Peluncuran Artemis II menandai dimulainya era baru eksplorasi antariksa yang tidak lagi didominasi oleh rivalitas geopolitik, melainkan kolaborasi internasional dan partisipasi sektor swasta.
Misi ini membuka jalan bagi pembangunan pangkalan lunar permanen yang dapat menjadi laboratorium ilmiah dan titik singgah menuju planet-planet lain di tata surya. Keberhasilan program Artemis akan menentukan masa depan kehadiran manusia di luar Bumi dalam dekade-dekade mendatang.
**Catatan**: Artikel ini menggunakan referensi tanggal masa depan (April 2026) yang mungkin merujuk pada proyeksi atau simulasi misi.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: