Misteri Tengkorak Panjang Mirip Alien yang Ditemukan di Seluruh Dunia

Ketika penjelajah Spanyol pertama kali menginjakkan kaki di wilayah Andes Amerika Selatan pada abad ke-16, mereka dikejutkan oleh pemandangan yang tak biasa. Banyak penduduk lokal memiliki bentuk kepala yang memanjang dan runcing, sesuatu yang sangat asing bagi mata orang Eropa.

Para penjelajah kemudian menemukan bahwa kelompok Collagua di Peru memiliki tradisi membentuk kepala bayi sejak usia sangat dini, ketika tulang tengkorak masih lunak dan belum menyatu sempurna. Namun, penjelasan yang diberikan para penjelajah Spanyol saat itu cenderung dramatis dan penuh prasangka.

“Mereka mengatakan itu adalah sesuatu yang mengerikan dan otak sampai keluar dari telinga,” kata Christina Torres, bioarkeolog dari University of California, Riverside. “Namun tampaknya itu tidak benar.”

Penelitian modern menunjukkan bahwa cerita-cerita tersebut kemungkinan besar sangat dilebih-lebihkan.

**Tradisi Global yang Tersebar di Lima Benua**

Praktik membentuk kepala bayi ternyata tidak terbatas pada Amerika Selatan. Para arkeolog telah menemukan bukti modifikasi tengkorak di hampir seluruh dunia—mulai dari Eropa, Timur Tengah, Afrika, Asia hingga Oseania. Hanya Antarktika yang tidak memiliki bukti praktik ini.

Dalam dunia arkeologi, praktik tersebut dikenal sebagai modifikasi kubah tengkorak (cranial vault modification), yaitu perubahan bentuk kepala secara sengaja sehingga menjadi lebih datar atau memanjang dibanding bentuk alaminya.

Karena bayi tentu tidak dapat membentuk kepalanya sendiri, para peneliti yakin praktik ini dilakukan oleh orang tua, bidan, atau pengasuh. Matthew Velasco, bioarkeolog dari University of North Carolina yang meneliti praktik ini di Andes Peru, mengatakan pembentukan kepala mungkin bukan sesuatu yang aneh pada masa lalu.

“Sesuatu yang tampak mengejutkan seperti modifikasi tengkorak mungkin sebenarnya merupakan praktik yang hampir rutin bagi sebagian anak pada periode tertentu,” katanya.

Velasco juga menekankan bahwa makna praktik tersebut kemungkinan berbeda-beda tergantung waktu dan budaya. “Kita harus mulai dari asumsi bahwa maknanya berbeda di setiap tempat dan zaman.”

**Metode Sederhana Membentuk Kepala**

Kunci dari praktik ini adalah kenyataan bahwa tengkorak bayi masih sangat lunak dan mudah berubah bentuk. Tulang tengkorak belum menyatu sepenuhnya, sehingga pertumbuhannya dapat diarahkan secara perlahan.

Caranya relatif sederhana. Kepala bayi dibungkus dengan kain, tali, atau bantalan tertentu yang secara bertahap mengarahkan pertumbuhan tengkorak ke bentuk yang diinginkan. Proses ini berlangsung perlahan selama berbulan-bulan.

Christina Torres menjelaskan bahwa teknik tersebut mirip dengan membentuk pohon bonsai. “Ini adalah proses lambat dan bertahap yang dilakukan dengan kain dan bantalan,” ujarnya.

Dalam banyak budaya, proses pembentukan kepala biasanya dimulai sekitar usia enam bulan, ketika tulang tengkorak masih cukup fleksibel. Pembungkus kemudian digunakan selama satu hingga dua tahun sampai bentuk kepala stabil.

**Relatif Aman untuk Perkembangan Otak**

Meskipun terdengar ekstrem bagi masyarakat modern, sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa praktik ini tidak menyebabkan kerusakan serius pada perkembangan otak. Dalam kebanyakan kasus, otak bayi mampu menyesuaikan diri dengan bentuk tengkorak yang berubah. Artinya, kecerdasan dan fungsi kognitif tidak terpengaruh.

Torres mengatakan bahwa kasus kematian akibat praktik ini sangat jarang. “Ada satu kasus di mana seorang anak diduga meninggal karena modifikasi tengkorak karena kepalanya ditekan terlalu kuat,” katanya. “Namun sejauh yang saya tahu, itu sangat tidak biasa.”

Meski demikian, jika pembungkus kepala terlalu ketat atau jarang diganti, bisa muncul risiko infeksi pada kulit kepala atau luka yang menembus tulang. Beberapa penelitian juga menyebut kemungkinan masalah pada sendi rahang.

Laporan ekstrem dari para penjelajah masa lalu—seperti mata anak yang menonjol keluar atau otak yang keluar dari telinga—kemungkinan besar hanyalah cerita yang dibesar-besarkan.

**Jejak Berusia 13.000 Tahun**

Jejak praktik ini ternyata sangat tua dalam sejarah manusia. Bukti arkeologis tertua ditemukan di Australia, tepatnya di situs Kow Swamp di negara bagian Victoria. Di sana para peneliti menemukan dua tengkorak yang sengaja diratakan yang berusia sekitar 13.000 tahun.

Pada periode Neolitik, praktik ini kemudian muncul di berbagai wilayah dunia. Tengkorak yang dimodifikasi ditemukan di Eropa sekitar 12.500 tahun lalu, di China sekitar 11.000 tahun lalu, dan di wilayah Iran sekitar 10.000 tahun lalu.

Menariknya, banyak bukti terbaik justru ditemukan di kawasan Andes. Hal ini kemungkinan karena kondisi iklim yang dingin dan kering membantu menjaga jasad mumi tetap utuh sehingga bentuk tengkoraknya masih dapat dipelajari dengan jelas.

**Beragam Motivasi di Balik Praktik**

Ketika para antropolog mencoba memahami alasan di balik praktik tersebut, mereka menemukan sesuatu yang mengejutkan: tidak ada satu penjelasan tunggal. Di beberapa budaya, bentuk kepala tertentu mungkin menandakan identitas kelompok atau status sosial.

Namun penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa bentuk kepala bahkan bisa berbeda di dalam satu keluarga. Velasco menemukan bahwa anggota keluarga yang memiliki hubungan darah di Andes sering kali memiliki bentuk kepala yang berbeda.

“Bentuk kepala itu sendiri mungkin sebenarnya hanya konsekuensi dari praktiknya,” kata Torres. Ia menambahkan bahwa praktik ini bisa saja menjadi bagian dari tradisi pengasuhan anak, mirip dengan membedong bayi atau melakukan ritual keagamaan.

**Inspirasi dari Proses Kelahiran**

Ide membentuk kepala bayi mungkin muncul dari pengalaman sederhana saat kelahiran. Ketika bayi lahir melalui jalan lahir, kepala mereka sering kali berubah bentuk menjadi sedikit memanjang.

Velasco mengingat pengalaman pribadinya saat anaknya lahir. “Ketika anak saya lahir, kepalanya sedikit berbentuk kerucut,” katanya. “Proses kelahiran menunjukkan kepada setiap orang tua bahwa kepala bayi sangat lentur


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Seri Antariksa: Di Mana Ada Alien?