Paus Bungkuk Belajar Berburu dari Sesamanya, Bukan Sekadar Naluri

Paus bungkuk dikenal sebagai salah satu raksasa laut yang paling cerdik. Salah satu buktinya adalah cara mereka berburu mangsa menggunakan strategi canggih bernama bubble-net feeding atau jaring gelembung. Dengan teknik ini, paus dapat melahap makanan dalam jumlah besar hanya dalam beberapa kali tegukan.

Strategi tersebut dilakukan dengan cara berenang melingkar di bawah permukaan air sambil menghembuskan udara dari lubang semburannya. Udara itu membentuk tirai gelembung yang naik ke permukaan. Mangsa seperti krill, ikan hering, dan ikan kecil lainnya terkecoh dan mengira dirinya terperangkap, lalu berkumpul membentuk kolom padat.

Saat itulah paus bungkuk muncul dari bawah dengan mulut menganga lebar dan menelan mangsa dalam satu gerakan efisien.

**Belajar dari Pengamatan, Bukan Naluri**

Para ilmuwan telah mengetahui perilaku ini selama puluhan tahun. Namun, satu pertanyaan besar masih mengganjal: bagaimana paus bungkuk mempelajari teknik berburu yang kompleks ini?

Sebuah studi terbaru yang terbit pada 21 Januari di jurnal Proceedings of the Royal Society B memberikan jawaban penting. Penelitian ini menunjukkan bukti kuat bahwa paus bungkuk mempelajari teknik jaring gelembung melalui pembelajaran sosial—dengan mengamati atau berinteraksi dengan paus lain—bukan dengan menemukannya sendiri secara individual.

Temuan ini menegaskan bahwa paus bungkuk memiliki pengetahuan budaya yang diwariskan, mirip dengan tradisi pada manusia. Hal ini juga membuka perspektif baru dalam dunia konservasi laut.

“Bukan hanya soal berapa banyak paus yang tersisa, tetapi apakah perilaku sosial yang membuat populasi itu berfungsi juga ikut pulih,” ujar Ted Cheeseman, ahli biologi kelautan dan pendiri platform sains warga Happywhale, yang tidak terlibat langsung dalam penelitian tersebut.

**Menciptakan Alat untuk Berburu**

Dalam dunia hewan, penggunaan alat dianggap sebagai indikator kecerdasan. Gajah menggunakan belalai seperti selang, berang-berang laut memakai batu untuk memecah kerang, burung gagak menggunakan ranting untuk mengambil serangga, bahkan sapi pernah tercatat memakai sapu untuk menggaruk tubuhnya.

Menariknya, sebuah studi pada 2024 menambahkan paus bungkuk ke dalam daftar hewan pengguna alat. Para peneliti berargumen bahwa saat paus menciptakan dan memanfaatkan jaring gelembung untuk menjebak mangsa, mereka sejatinya sedang menciptakan dan menggunakan alat.

**Data Hampir Dua Dekade**

Penelitian ini berfokus pada paus bungkuk yang mencari makan di Sistem Fjord Kitimat, British Columbia bagian utara, Kanada. Wilayah Pasifik ini dikenal kaya nutrisi dan menjadi lokasi paus berburu, baik secara berkelompok maupun sendirian.

Para peneliti menganalisis data observasi lapangan selama hampir dua dekade, dari 2004 hingga 2023. Sebanyak 526 individu paus berhasil diidentifikasi melalui foto ekor mereka, yang memiliki pola unik layaknya sidik jari manusia.

Hasilnya, sekitar separuh paus tersebut tercatat melakukan bubble-net feeding dalam 635 kejadian. Lebih dari 92 persen aktivitas ini dilakukan secara kooperatif, melibatkan lebih dari satu paus.

**Respons Terhadap Krisis Pangan**

Menariknya, praktik jaring gelembung meningkat tajam setelah 2014, bertepatan dengan munculnya gelombang panas laut ekstrem yang dikenal sebagai “the blob”. Fenomena ini berlangsung hampir tiga tahun dan menyebabkan suhu laut Pasifik Utara meningkat drastis.

Dampaknya sangat luas: berkembangnya alga beracun, kematian setidaknya satu juta burung laut, dan penurunan besar populasi mangsa laut. Penelitian sebelumnya memperkirakan sekitar 7.000 paus bungkuk di Pasifik Utara mati, kemungkinan besar akibat kelaparan selama periode tersebut.

Para peneliti menduga paus di Fjord Kitimat meningkatkan frekuensi bubble-net feeding sebagai mekanisme bertahan hidup di tengah kelangkaan makanan. Hal ini semakin menegaskan betapa pentingnya pewarisan pengetahuan antarpaus.

**Konservasi Budaya Sama Pentingnya**

Paus bungkuk memang sempat diburu hingga hampir punah. Namun, berkat moratorium perburuan paus komersial, populasinya berhasil pulih dalam beberapa dekade terakhir.

Meski begitu, ancaman masih membayangi—mulai dari perubahan iklim, gelombang panas laut, penangkapan ikan berlebihan, polusi laut, tabrakan kapal, jeratan alat tangkap, hingga kebisingan bawah laut.

Dalam konteks ini, para peneliti menekankan bahwa upaya konservasi tidak boleh hanya berfokus pada jumlah individu. Melindungi budaya paus—seperti rute migrasi, wilayah mencari makan, dan teknik berburu yang dipelajari—sama pentingnya untuk memastikan ketahanan jangka panjang spesies ini.

“Kehilangan budaya bisa sama merusaknya dengan kehilangan populasi, dan sama sulitnya untuk dipulihkan,” ujar Éadin O’Mahony, penulis utama studi sekaligus biolog dari University of St. Andrews, Skotlandia.

Ia menambahkan bahwa melindungi wilayah dengan perilaku belajar yang khas dapat memberikan dampak konservasi yang meluas, jauh melampaui perairan lokal.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Nenekku Seorang Engineer (Ahli Teknik)

Laut Bercerita

40 Tahun Komatsu Indonesia Menggeluti Industri Alat Berat