Paus Langka di Hawaii Kritis, Kehilangan 226 Kg dalam 10 Minggu

Studi pertama menggunakan drone pada false killer whale Hawaii mengungkap kondisi tubuh yang mengkhawatirkan—satu individu kehilangan 226 kg hanya dalam 10 minggu, sementara populasi terus menyusut 3,5 persen setiap tahunnya.

Bagaimana cara memantau kesehatan mamalia laut liar yang hidup jauh di tengah samudra? Bagi para peneliti di Hawaii, jawabannya adalah drone—dan apa yang mereka temukan selama tujuh tahun pemantauan jauh lebih mengkhawatirkan dari yang dibayangkan.

**139 Paus, Satu Populasi yang Terancam**

Di perairan Hawaii hidup salah satu kelompok false killer whale (Pseudorca crassidens) terakhir di dunia—hanya 139 individu, terbagi dalam empat kluster. Tidak seperti kerabat mereka yang bermigrasi, paus-paus ini adalah penghuni tetap kawasan pesisir Hawaii dan bergantung sepenuhnya pada ekosistem setempat untuk bertahan hidup.

Karena populasinya begitu kecil, hilangnya satu individu saja bisa berdampak berantai bagi seluruh kelompok. Para peneliti memperkirakan paus-paus ini perlu mengonsumsi sekitar 3 hingga 6 persen dari berat tubuh mereka setiap hari—kebutuhan energi yang sangat tinggi, belum termasuk energi untuk menjaga suhu tubuh dan bergerak.

Artinya, perubahan ketersediaan mangsa bisa langsung berdampak fatal pada kondisi tubuh mereka.

**Drone Sebagai Mata di Atas Samudra**

Dari 2019 hingga 2025, tim peneliti memotret 68 individu false killer whale menggunakan drone dan menilai kondisi tubuh mereka secara berkala. Metode ini bukan tanpa presisi: tim membandingkan hasil pengukuran mereka dengan pemindaian 3D dari populasi paus yang hidup di penangkaran dan menemukan tingkat akurasi dalam kisaran 3 persen.

“Tingkat presisi ini memungkinkan kami menentukan dengan tepat kapan dan di mana paus-paus ini mengalami kesulitan, yang merupakan kunci untuk mengarahkan upaya konservasi,” kata Lars Bejder, Direktur Marine Mammal Research Program (MMRP), profesor di Hawai’i Institute of Marine Biology, dan salah satu penulis studi.

**Kehilangan 226 Kilogram dalam 10 Minggu**

Beberapa temuan bersifat ekstrem. Satu individu kehilangan 28 persen massa tubuhnya dalam rentang dua setengah bulan—kemungkinan setara dengan 226 kilogram atau sekitar 500 pon. Paus ini termasuk dalam kluster dengan jangkauan wilayah paling luas, yang semakin mempertegas betapa besar tuntutan energi yang mereka hadapi.

Peneliti juga menemukan bahwa selama gelombang panas laut ekstrem pada 2020, populasi mengalami penurunan kondisi tubuh terbesar secara keseluruhan—menunjukkan betapa rentannya kelompok ini terhadap perubahan suhu laut yang kini semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.

Di balik penurunan kondisi tubuh para paus ini, ada satu faktor yang kini menjadi fokus perhatian para peneliti: persaingan dengan industri perikanan untuk memperebutkan mangsa berkalori tinggi.

“Temuan kami menunjukkan bahwa banyak individu hidup di ambang batas metabolik yang sangat tipis. Kami kini sedang memeriksa bagaimana persaingan dengan industri perikanan untuk mendapatkan mangsa berenergi tinggi seperti ‘ahi (tuna sirip kuning) dan mahimahi mungkin memaksa paus-paus ini ke dalam kondisi stres nutrisi kronis,” jelas Jens Currie, Kepala Ilmuwan di Pacific Whale Foundation dan penulis utama studi.

“Studi ini adalah langkah kritis dalam memahami apakah keterbatasan mangsa yang mendorong risiko kepunahan bagi paus-paus ini,” tambahnya.

**Anak Paus Justru Paling Sehat**

Di antara kabar-kabar mengkhawatirkan itu, ada satu temuan yang memberikan sedikit gambaran positif. Anak-anak paus dalam studi ini justru menunjukkan lebar tubuh terbesar—mencerminkan tingginya keterlibatan induk dan kandungan lemak tinggi dalam ASI yang mereka konsumsi.

Ini menunjukkan bahwa induk-induk paus masih mampu memberikan investasi nutrisi yang besar bagi keturunan mereka, setidaknya untuk saat ini.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Ensiklopedia Saintis Junior: Tubuh Manusia