Berdasarkan hasil pencarian, artikel ini tampaknya merujuk pada kejadian di masa depan. Namun saya akan menulis ulang artikel sesuai permintaan dengan menjaga fakta tentang Gunung Dukono:
**Pakar ITB: Dukono Level 3, Pendakian Sama Sekali Dilarang**
Aktivitas vulkanik Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, kembali menjadi sorotan setelah peristiwa pendakian nekat yang berujung pada korban jiwa. Sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia, Dukono menyimpan daya tarik sekaligus risiko fatal bagi siapa saja yang mengabaikan prosedur keselamatan.
Dosen Kelompok Keahlian Petrologi, Volkanologi, dan Geokimia dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (FITB ITB), Dr. Eng. Ir. Mirzam Abdurrachman, S.T., M.T., mengingatkan bahwa popularitas di media sosial sama sekali tidak sebanding dengan ancaman nyawa di lapangan.
**Status Level 3: Pendakian Sama Sekali Dilarang**
Gunung api aktif memang selalu magnetis bagi para pemburu konten dan pencinta alam. Namun, Dr. Mirzam menegaskan bahwa dinamika vulkanik Dukono terus mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Tercatat pada Agustus 2024, Gunung Dukono berada pada Level 2 (Waspada) dengan radius aman 3 kilometer. Jarak aman tersebut kemudian diperluas menjadi 4 kilometer pada Desember 2024. Puncaknya, status Gunung Dukono telah dinaikkan ke Level 3 (Siaga).
“Kalau tadi jarak amannya sampai 4 kilometer, sekarang pendakian sudah tidak boleh dilakukan dengan alasan apa pun,” tegas Mirzam.
Ia menambahkan bahwa mengejar foto, video, atau selfie di tengah erupsi demi mendongkrak popularitas digital adalah tindakan keliru.
“Keselamatan itu tidak bisa digantikan dengan kesenangan kita, dengan popularitas kita, mendapatkan like dari video maupun foto saat kita bisa selfie pada waktu erupsi,” ujarnya.
**Bom Vulkanik dan Awan Panas Tidak Mengikuti Arah Angin**
Salah satu kekeliruan fatal yang sering dilakukan pendaki amatir adalah hanya mengandalkan arah mata angin untuk menghindari abu vulkanik. Menurut Mirzam, membaca arah angin hanya meminimalkan satu jenis ancaman saja.
Erupsi gunung api aktif seperti Dukono juga menghasilkan material berbahaya lain seperti awan panas (pyroclastic density currents), gas beracun, aliran lava, lahar, hingga bom vulkanik.
Berbeda dengan abu, bom vulkanik terlontar secara balistik sehingga arah jatuhnya tidak dipengaruhi oleh angin. Sementara itu, awan panas memiliki kecepatan yang mustahil untuk dihindari dengan berlari.
“Kalau yang keluar adalah wedhus gembel (awan panas) dengan kecepatan 150 kilometer per jam, mau naik, mau turun, mau ke mana pun, kalau sudah melintas, kita tidak punya kesempatan waktu untuk lari,” jelas pakar vulkanologi ITB tersebut.
**Tantangan Informasi dan Mitigasi Berbasis “One Gate”**
Mirzam menilai, salah satu celah dalam sistem peringatan dini di daerah terpencil adalah masalah hulu komunikasi. Tidak semua warga di sekitar kaki gunung memiliki akses internet, memahami istilah teknis mitigasi, atau bahkan fasih berbahasa Indonesia.
Oleh karena itu, keterlibatan tokoh adat, kepala desa, dan pemandu lokal menjadi krusial sebagai penyambung lidah dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Wisata gunung api sebetulnya tidak perlu mati total saat gunung mengalami aktivitas kecil. Masyarakat dan wisatawan tetap bisa menikmati atraksi alam tersebut, asalkan tahu batasan fisik yang aman.
“Bisa tidak kita menikmati gunung api pada waktu erupsi? Bisa, tanpa harus celaka, asal kita mematuhi jarak aman tertentu. Like yang kita dapat dan popularitas itu tidak sebanding dengan harga yang harus dibayar,” pungkas Mirzam.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: