Peneliti BRIN Ungkap Bias Prediksi Cuaca di Indonesia, Model Global Meleset 5 Jam

Ketepatan prediksi cuaca di Benua Maritim Indonesia terkadang masih meleset. Riset terbaru dari peneliti BRIN, Sopia Lestari, mengungkap adanya bias persisten pada model atmosfer global yang gagal menangkap puncak curah hujan hingga selisih lima jam.

Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN yang sedang menempuh pendidikan S3 di Institute for Space-Earth Environmental Research (ISEE), Nagoya University ini memberikan pemahaman tentang perbedaan tipe curah hujan selama fase Osilasi Madden-Julian (MJO) di Indonesia, khususnya di Jawa Barat dan Pulau Sumatra.

**Bias Persisten dalam Siklus Curah Hujan**

Melalui riset bertajuk “Seasonal Variability of Stratiform and Convective Rainfall Structure During MJO Phases over the Maritime Continent (MC)”, Sopia mengidentifikasi masalah fundamental dalam pemodelan cuaca regional.

“Yang menjadi fokus studi saya karena di benua maritim secara umum siklus curah hujan selalu memiliki bias yang persisten,” ungkapnya dalam Workshop Kolaborasi Riset PRIMA-BRIN dengan Center for Orbital and Suborbital Observation, ISEE, Nagoya University.

Sopia menjelaskan bahwa MJO merupakan gelombang atmosfer yang bergerak dari barat ke timur, membawa wilayah konveksi aktif (awan dan hujan lebat) serta wilayah tenang (kering dan cerah) secara bergantian. Fenomena ini adalah pola variabilitas iklim tropis berskala besar yang mempengaruhi cuaca dan iklim global.

**Ketidakakuratan Model Terungkap**

Temuan penelitian menunjukkan inkonsistensi signifikan antara prediksi model dan kenyataan di lapangan. Sopia mengungkap perbandingan antara pengamatan satelit WARP yang menunjukkan dua puncak curah hujan, sementara satelit STEM hanya mendeteksi satu puncak.

“Dari sini kita dapat menunjukkan bahwa model menangkap fase puncak curah hujan yang tidak akurat selama MJO,” jelasnya.

Analisis lebih mendalam pada kasus Sumatra dan Borneo memperlihatkan kesenjangan waktu yang mengkhawatirkan. Data menunjukkan bahwa puncak curah hujan berdasarkan pengamatan aktual terjadi sekitar larut malam, namun model prediksi justru menunjukkan tidak ada puncak atau bahkan penurunan intensitas.

**Selisih Lima Jam yang Krusial**

“Ada kesalahan dalam penentuan waktu curah hujan global maksimum empat hingga lima jam yang menunjukkan bahwa pemisahan jenis curah hujan sangat penting untuk mensimulasikan fase siklus curah hujan dengan benar, terutama di atas benua maritim,” tegas Sopia.

Kesalahan timing ini bukan persoalan sepele. Dalam konteks mitigasi bencana dan perencanaan aktivitas masyarakat, selisih lima jam dalam prediksi hujan bisa berdampak signifikan pada kesiapsiagaan dan respons darurat.

**Tantangan Kompleksitas Geografis**

Sopia menyoroti beberapa faktor yang memperumit akurasi prediksi cuaca di Indonesia. Topografi yang kompleks menjadi tantangan utama, ditambah keterbatasan data dan penelitian terkait klasifikasi jenis curah hujan.

“Indonesia memiliki topografi yang sangat kompleks tetapi kita memiliki kumpulan data yang sangat sedikit dan hanya ada sedikit penelitian tentang jenis curah hujan,” ungkap peneliti tersebut.

Struktur konveksi awan menjadi elemen krusial yang belum sepenuhnya dipahami. Faktor ini sangat menentukan perbedaan waktu dan distribusi spasial curah hujan, terutama di wilayah yang rentan terhadap banjir parah dan dipengaruhi oleh sistem MJO.

**Dominasi Pola Stratiform**

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pola stratiform—formasi awan berbentuk lapisan horizontal tipis dan lebar—merupakan tipe dominan selama periode MJO. Fenomena MJO terbukti memiliki pengaruh besar terhadap curah hujan stratiform dan konvektif, mengonfirmasi bahwa Indonesia sangat terpengaruh sistem ini.

“Stratiform di Sumatera memiliki frekuensi yang lebih tinggi daripada di Jawa dan curah hujan stratiform lebih tinggi selama fase aktif. Dan tampaknya tidak terkait dengan siklus Samudra Hindia,” simpul Sopia.

**Implikasi untuk Masa Depan**

Temuan ini menggarisbawahi perlunya perbaikan mendasar dalam sistem prediksi cuaca nasional. Dengan Indonesia sebagai negara kepulauan yang sangat bergantung pada akurasi prakiraan cuaca untuk berbagai sektor—mulai dari pertanian, transportasi, hingga mitigasi bencana—kesalahan prediksi lima jam bukanlah hal yang bisa diabaikan.

Penelitian Sopia memberikan landasan penting untuk pengembangan model prediksi yang lebih akurat, khususnya dalam memahami karakteristik unik iklim maritim Indonesia. Langkah selanjutnya adalah mengintegrasikan temuan ini ke dalam sistem operasional untuk meningkatkan ketepatan prakiraan cuaca nasional.

**Catatan**: Tanggal dalam artikel sumber (Maret dan April 2026) tampaknya merujuk masa depan dan kemungkinan terdapat kesalahan.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Aku Senang Ada: Awan dan Hujan

Nat Geo: Cuacapedia