Point Nemo, Tempat Paling Sunyi di Bumi yang Akan Menjadi Kuburan ISS

Selama lebih dari dua dekade, Stasiun Luar Angkasa Internasional (International Space Station/ISS) telah menjadi rumah bagi manusia di orbit Bumi. Sejak pertama kali diluncurkan pada 1998 dan dihuni secara permanen sejak 2 November 2000, ISS menandai era panjang kehidupan manusia di luar angkasa—tanpa jeda selama 25 tahun.

Namun, seperti semua misi besar dalam sejarah, perjalanan ISS juga memiliki batas waktu. Setelah masa operasinya diperpanjang hingga 2030, stasiun antariksa raksasa ini dijadwalkan pensiun pada 2031. Tempat peristirahatan terakhirnya bukanlah museum atau daratan, melainkan sebuah titik paling terpencil di planet ini: Point Nemo.

**Titik Terjauh dari Peradaban Manusia**

Point Nemo dikenal sebagai oceanic pole of inaccessibility, atau titik di lautan yang paling jauh dari daratan mana pun di Bumi. Lokasinya berada di Samudra Pasifik Selatan, ribuan kilometer dari peradaban manusia.

Tiga daratan terdekat dari Point Nemo—Pulau Ducie, Motu Nui (dekat Pulau Paskah), dan Pulau Maher di Antarktika—masing-masing berjarak sekitar 2.700 kilometer. Jarak yang luar biasa ini membuat Point Nemo sering dijuluki sebagai tempat paling sunyi di dunia.

Ironisnya, manusia terdekat dari titik ini dalam kondisi normal bukanlah pelaut atau penduduk pulau, melainkan astronaut di ISS yang melintas di orbit Bumi, ratusan kilometer di atas permukaan laut.

**Perjalanan Ekstrem Menuju Titik Terpencil**

Pada 2024, duo petualang ayah dan anak, Chris dan Mika Brown, nekat mengunjungi Point Nemo secara langsung. Keluarga Brown memang dikenal gemar menjelajahi “kutub keterpencilan”, baik di darat maupun laut—titik-titik yang paling jauh dari akses manusia.

Namun, perjalanan menuju Point Nemo jauh dari kata mudah. Mereka harus menumpang kapal dan berlayar selama hampir 10 hari melintasi Samudra Pasifik Selatan yang terkenal ganas.

“Di bawah 40 derajat lintang selatan, tidak ada hukum. Di bawah 50 derajat, tidak ada Tuhan,” ujar Mika Brown menggambarkan ekstremnya kondisi laut.

Point Nemo sendiri berada di sekitar lintang 49 derajat selatan—wilayah yang sepenuhnya terbuka terhadap amukan alam. Gelombang laut setinggi 6 hingga 8 meter menghantam kapal mereka secara konstan. Setiap 13 detik, kapal seakan “dijatuhkan” dan “diangkat” kembali oleh ombak raksasa.

**Kuburan Pesawat Antariksa Berkedalaman 4 Kilometer**

Salah satu alasan utama Point Nemo dipilih sebagai lokasi “pemakaman pesawat antariksa” adalah kedalaman lautnya yang ekstrem. Di titik ini, laut memiliki kedalaman sekitar 4 kilometer. Kondisi tersebut menjadikannya lokasi ideal untuk menjatuhkan puing-puing pesawat luar angkasa tanpa risiko membahayakan manusia atau jalur pelayaran.

Sejak 1971, lebih dari 260 wahana antariksa—termasuk satelit dan stasiun luar angkasa lama—telah diarahkan jatuh ke wilayah sekitar Point Nemo.

Meski secara teknis bisa “dikunjungi”, pengalaman berenang di titik ini jelas bukan untuk semua orang. “Aku tidak suka air dalam,” kata Mika. Ia bahkan menolak memakai kacamata renang dan memilih tidak menenggelamkan kepala ke air.

Sebaliknya, Chris memiliki pandangan berbeda. “Seratus meter atau empat kilometer sama-sama berbahaya,” ujarnya santai.

Yang mengejutkannya adalah warna laut di Point Nemo. Alih-alih gelap atau hijau pekat seperti yang ia bayangkan, air di sana justru berwarna biru terang yang nyaris berkilau, hampir seperti biru metalik. “Indah sekali. Benar-benar menakjubkan,” katanya.

**Solusi Aman untuk Akhir Misi ISS**

Keterpencilan ekstrem, minim aktivitas manusia, dan kedalaman laut menjadikan Point Nemo lokasi ideal untuk proses deorbit terkendali. Saat ISS “diturunkan” dari orbitnya pada 2031, sebagian besar strukturnya akan terbakar di atmosfer, sementara sisa-sisanya dijatuhkan ke area ini.

NASA dan mitra internasionalnya ingin memastikan bahwa akhir masa tugas ISS tidak menimbulkan risiko keselamatan—dan Point Nemo adalah solusi paling aman yang pernah ada di Bumi.

Meskipun jarang dikunjungi dan hampir tak dikenal publik, Point Nemo akan menjadi saksi bisu berakhirnya salah satu proyek ilmiah terbesar umat manusia. Di titik paling sunyi di planet ini, ISS—simbol kolaborasi global dan eksplorasi luar angkasa—akan “beristirahat”.

Pada 2031 nanti, meski jauh dari mata manusia, proses kejatuhan ISS ke Point Nemo dipastikan akan menjadi momen bersejarah—sebuah penutup megah yang benar-benar akan membuat percikan besar, setidaknya bagi sejarah eksplorasi antariksa.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Seri Klasik Semasa Kecil: Prim & Prim-3, Petualangan di Luar Angkasa

Laut Bercerita

7 Kilometer: Seruas Perjalanan Verawati Basri