Deru mesin mobil, pesawat terbang, proyek konstruksi, hingga mesin pemotong rumput mungkin terdengar biasa bagi manusia. Namun bagi burung, suara bukan sekadar latar belakang. Suara adalah bahasa, sistem peringatan dini, sekaligus penentu keberhasilan bertahan hidup.
Penelitian global terbaru yang dipimpin University of Michigan menunjukkan bahwa polusi suara berdampak jauh lebih dalam terhadap burung daripada yang selama ini diperkirakan. Kebisingan buatan manusia memengaruhi perilaku, fungsi tubuh (fisiologi), hingga tingkat reproduksi burung di berbagai belahan dunia.
Studi ini dipublikasikan di jurnal ilmiah Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences.
**Analisis Menyeluruh dari Enam Benua**
Penelitian ini menggunakan metode meta-analysis, yakni menggabungkan hasil dari banyak studi untuk melihat pola umum yang konsisten. Tim peneliti menganalisis lebih dari 150-160 penelitian sejak 1990, mencakup enam benua dan sekitar 160-161 spesies burung.
Secara total, terdapat 944 efek terukur yang dianalisis dari berbagai sumber kebisingan, mulai dari lalu lintas perkotaan, mesin industri, aktivitas militer, hingga suara pesawat.
“Banyak studi sebelumnya hanya fokus pada satu spesies dan satu sumber kebisingan. Melalui meta-analisis ini, kami bisa melihat tren yang lebih luas,” ujar Natalie Madden, penulis utama studi tersebut.
Hasilnya jelas: kebisingan akibat aktivitas manusia memengaruhi perilaku, fisiologi, bahkan kebugaran burung secara keseluruhan.
**Komunikasi Akustik Sebagai Kunci Kehidupan**
Burung sangat bergantung pada informasi akustik. Mereka menggunakan kicauan untuk mencari pasangan, panggilan peringatan untuk memberi tahu adanya predator, serta suara anak burung untuk memberi sinyal lapar kepada induknya.
Lalu muncul pertanyaan penting: jika lingkungan dipenuhi suara bising, masihkah mereka bisa mendengar sinyal dari sesama spesiesnya?
**Perubahan Perilaku Drastis**
Penelitian menemukan bahwa kebisingan mengubah berbagai aspek perilaku burung:
**1. Adaptasi Pola Kicauan**
Di lingkungan yang bising, sebagian burung menyanyi lebih keras atau menaikkan nada (pitch) agar terdengar. Ada pula yang mengubah waktu bernyanyi. Namun, perubahan ini tidak selalu efektif sepenuhnya.
**2. Kewaspadaan Berlebihan**
Burung menjadi lebih sering berjaga-jaga. Waktu untuk mengamati ancaman meningkat, tetapi waktu untuk mencari makan berkurang. Dampaknya, anak burung bisa mengalami pertumbuhan lebih lambat.
**3. Pola Makan Terganggu**
Burung cenderung lebih lama mendekati makanan atau lebih sering berhenti makan di area bising. Ini berpengaruh langsung terhadap asupan energi.
**4. Tingkat Agresivitas Berubah**
Tingkat agresi seperti menyerang atau mematuk juga berubah dalam lingkungan yang penuh suara keras.
Semua perubahan ini saling terkait dan berujung pada satu hal penting: peluang bertahan hidup.
**Reproduksi dan Hormon Stres Terdampak**
Dampak paling mengkhawatirkan terlihat pada keberhasilan reproduksi. Studi menunjukkan adanya hubungan negatif yang jelas antara kebisingan dan keberhasilan berkembang biak. Tingkat keberhasilan bertelur, daya tetas, serta jumlah anak burung yang berhasil terbang menurun di area yang bising.
Selain itu, kadar hormon stres seperti kortikosteron juga berubah. Menariknya, baik peningkatan maupun penurunan hormon ini dapat berdampak buruk pada sistem kekebalan tubuh, metabolisme, dan kelangsungan hidup jangka panjang.
Anak burung yang tumbuh di sarang bising tidak memiliki pilihan untuk menghindar. Paparan stres sejak dini berpotensi membawa dampak hingga masa dewasa.
**Faktor-Faktor yang Memengaruhi Tingkat Dampak**
Respons terhadap polusi suara ternyata berbeda-beda tergantung karakteristik spesies dan habitatnya.
**Jenis Sarang Berpengaruh**
Burung yang bersarang di lubang (cavity nesters) menunjukkan dampak pertumbuhan negatif yang lebih jelas dibanding burung bersarang terbuka. Meski sarang berlubang dapat meredam sebagian suara, pola pertumbuhan tetap terdampak.
**Habitat dan Vegetasi**
Burung di hutan lebat cenderung mengalami perubahan hormon yang lebih kecil dibanding spesies generalis. Kanopi pohon dan vegetasi rapat dapat berfungsi sebagai peredam alami suara.
**Ketinggian Mencari Makan**
Burung yang mencari makan di bagian atas pohon kemungkinan lebih terlindungi karena dedaunan membantu mengurangi intensitas suara.
**Fleksibilitas Makanan**
Spesies omnivora yang memiliki pilihan makanan lebih beragam cenderung lebih mampu beradaptasi dibanding spesies spesialis.
Menariknya, karakteristik lagu burung—yang sebelumnya diduga bisa menjadi pelindung alami terhadap kebisingan—tidak menunjukkan efek perlindungan yang konsisten. Artinya, adaptasi vokal saja tidak cukup.
**Kontribusi Terhadap Penurunan Populasi Global**
Sejak 1970, populasi burung menurun drastis. Di Amerika Utara saja, sekitar 3 miliar burung dewasa hilang dari ekosistem. Selama ini, faktor seperti alih fungsi lahan dan penggunaan pestisida dianggap sebagai penyebab utama.
Namun penelitian terbaru ini menunjukkan bahwa polusi suara juga menjadi tekanan tambahan yang signifikan terhadap populasi burung global. Kebisingan memengaruhi komunikasi, pertumbuhan, keseimbangan hormon, hingga keberhasilan reproduksi—semua faktor yang menentukan kelangsungan spesies.
**Solusi Praktis yang Dapat Diterapkan**
Meski dampaknya serius, para ilmuwan menekankan bahwa polusi suara adalah masalah yang relatif bisa diatasi.
“Dengan mensintesis berbagai studi dalam meta-analisis ini, kami menemukan bahwa efeknya dapat diprediksi. Dan jika kita bisa memprediksinya, kita bisa menguranginya, bahkan membalikkannya,” ujar Neil Carter, penulis senior studi ini.
Berbeda dengan perubahan iklim atau kerusakan habitat skala besar yang terasa kompleks dan masif, pengendalian kebisingan secara teknis sudah sangat memungkinkan.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: