Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Utara mengungkap gambaran kerusakan ekosistem Batang Toru (Harangan Tapanuli) yang menjadi penyebab utama bencana banjir bandang tahunan di Sibolga, Tapanuli Selatan, dan daerah sekitarnya.
Manajer Advokasi dan Kampanye WALHI Sumut, Jaka Damanik, menjelaskan bahwa ekosistem Batang Toru merupakan bagian dari hutan tropis terakhir di Sumatera Utara, yang terbentang dari Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, hingga Tapanuli Utara.
“Hanya di sini (ekosistem Batang Toru), hutan tropis Sumatera Utara yang masih memiliki tutupan hutan yang rapat, sehingga kita harus serius dalam menjaganya,” kata Jaka Damanik saat dihubungi melalui telepon, Rabu (26/11/2025).
**Industri Besar Penyumbang Utama Deforestasi**
Jaka menyebut kerusakan tutupan hutan dipicu oleh aktivitas industri yang masif. Ia menegaskan penyumbang terbesar deforestasi bukan berasal dari masyarakat, melainkan dari perusahaan-perusahaan besar.
“Memang ada beberapa dari masyarakat yang melakukan penebangan. Cuma itu bukan penyumbang terbesar,” kata dia.
Perusahaan ini mencakup sektor tambang, perkebunan, hingga industri energi seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), yang memerlukan lahan sangat luas.
**Karakteristik Ekosistem Batang Toru**
WALHI Sumut mencatat laju deforestasi di ekosistem Batang Toru mengalami peningkatan signifikan. Berdasarkan data WALHI Sumut, luas kawasan ekosistem Batang Toru berkisar 249.000 hektar ditambah 91.000 hektar areal penggunaan lain, yang mencakup Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Tapanuli Tengah, dan Kabupaten Tapanuli Utara.
Kawasan ekosistem tersebut meliputi Cagar Alam (CA) Sibual-buali, CA Lubuk Raya, CA Dolok Sipirok, CA Dolok Saut dengan total luas 15.311 hektar (6 persen), hutan lindung seluas 128.384 hektar (52 persen), hutan produksi seluas 10.755 hektar (4 persen), hutan produksi terbatas seluas 2.533 hektar (1 persen), dan tubuh air (TAs) seluas 500 hektar (0,2 persen).
Terdapat lanskap di dalamnya, seperti hutan hujan dataran rendah, pegunungan, dan dataran tinggi, hutan kapur, hingga rawa gambut, yang secara keseluruhan tutupannya masih berupa hutan primer.
**Wilayah Seluas Empat Kali Jakarta**
Dengan luas yang hampir empat kali lebih besar dari luas Daerah Khusus Jakarta, ekosistem Batang Toru menyimpan segudang keindahan dan ragam spesies flora dan fauna, beberapa di antaranya endemik.
**Deforestasi Meningkat 30 Persen dalam Lima Tahun**
Jaka menyebut dari total luasan ekosistem Batang Toru yang sekitar 250.000 hektar, laju deforestasi mengalami kenaikan hingga 30 persen dalam lima tahun terakhir.
“Luasan dari ekosistem Batang Toru itu sekitar 250.000 hektar. Dalam 5 tahun terakhir, mengalami deforestasi yang signifikan mencapai 30 persen berlipatnya. Itu karena industri-industri ekstraktif tersebut,” ungkap Jaka.
Ia menjelaskan banyak perusahaan besar terus membuka lahan dan melakukan penebangan pohon. Dampak dari deforestasi ini menyebabkan banjir bandang yang terjadi berulang setiap akhir tahun.
**Rencana Pembukaan Lahan Baru Ratusan Ribu Pohon**
Jaka menyampaikan salah satu perusahaan akan membuka lahan baru seluas 583 hektar, dengan menebang sekitar 185.884 pohon.
“Ini baru dari satu perusahaan, belum lagi perusahaan lain,” kata Jaka yang menyebut ada lima perusahaan besar di sana.
**Mekanisme Terjadinya Banjir Bandang**
Dia mengatakan hal ini perlu menjadi perhatian bersama karena dampaknya dapat dirasakan sekarang. Ketika hujan turun, air menumpuk karena tidak adanya penahan yang cukup di hulu.
“Air mulai menumpuk. Jadi, kalau misalnya dalam 1 tahun itu, ada tumpukan air di dalam satu tempat, nah, sewaktu-waktu ketika musim hujan turun, banjir bandang akan terjadi. Jadi, seluruh air itu tumpah beserta material kayu-kayu,” jelasnya.
**Hubungan Deforestasi dan Intensitas Banjir**
Jaka menyampaikan jika deforestasi masif tidak terjadi dan ada penahan air dari pohon-pohon di hutan, banjir tidak akan terjadi.
“Air akan mengalir sedikit-sedikit, sehingga walaupun hujan terjadi, dampaknya tidak sebesar ini,” sambungnya.
**Bukti Lapangan: Kayu Gelondongan Terseret Banjir**
Fenomena ini diperkuat dengan temuan kayu-kayu gelondongan yang selalu ikut terseret oleh arus banjir bandang di Tapsel pada tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya.
**Ancaman Terhadap Keanekaragaman Hayati**
Ekosistem Batang Toru yang kaya akan biodiversitas, termasuk habitat orangutan tapanuli yang langka, kini menghadapi ancaman serius akibat aktivitas industri ekstraktif.
**Urgensi Perlindungan Ekosistem**
Kondisi ini menunjukkan urgensi perlindungan ekosistem Batang Toru sebagai benteng terakhir untuk mencegah bencana ekologis yang berulang. Tanpa intervensi serius, wilayah ini berpotensi kehilangan fungsi ekologisnya sebagai pengatur tata air di kawasan Tapanuli.
**Dampak Berkelanjutan**
WALHI Sumut menekankan bahwa kerusakan ekosistem ini bukan hanya berdampak pada frekuensi banjir, tetapi juga mengancam keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat di kawasan Tapanuli dalam jangka panjang.
**Perlunya Evaluasi Kebijakan**
Temuan ini mendesak perlunya evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pemberian izin industri ekstraktif di kawasan ekosistem Batang Toru untuk mencegah kerusakan lingkungan yang lebih parah di masa men
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: