Rage Bait: Ketika Kemarahan Menjadi Komoditas Ruang Publik Digital

Oxford University Press baru-baru ini menetapkan “rage bait” sebagai Word of the Year 2025, dan banyak orang mengira istilah itu hanya sekadar tren baru di dunia internet. Namun sesungguhnya, istilah tersebut adalah cermin paling jernih dari kondisi ruang sosial kita hari ini: sebuah ruang di mana kemarahan menjadi komoditas, bukan lagi respons alami, tetapi produk yang sengaja diproduksi, dikemas, dan diedarkan demi trafik dan monetisasi.

**Fenomena yang Menguasai Linimasa**

Fenomena ini terasa jelas di linimasa kita: konten yang memancing emosi negatif—pernyataan absurd, drama settingan, tingkah laku memalukan yang terencana—berulang kali menguasai percakapan digital. Pertanyaannya bukan lagi mengapa orang membuat konten seperti itu, tetapi mengapa kita begitu mudah terpancing.

Rage bait bukan sekadar konten picisan. Ia adalah gejala yang muncul dari pertemuan antara struktur teknologi, psikologi manusia, serta budaya digital yang semakin ekstrem.

**Eksploitasi Kelemahan Psikologis Manusia**

Rage bait bekerja karena menyentuh bagian paling primitif dari psikologi manusia: kecenderungan untuk merespons lebih kuat terhadap hal-hal negatif. Dalam penelitian mengenai negativity bias, sejumlah teori psikologi komunikasi menunjukkan bahwa otak manusia bereaksi lebih cepat terhadap ancaman, provokasi, atau ketidakadilan.

Respons emosional itu menciptakan impuls—keinginan untuk membalas komentar, mengoreksi, menghujat, atau sekadar mengungkapkan kejengkelan. Dalam konteks digital, keterpancingan ini menjadi komoditas. Setiap klik, komentar, dan interaksi marah dianggap sebagai “aktivitas” yang dihargai oleh platform.

**Kreativitas yang Salah Arah**

Maka, kreativitas kreator konten bekerja bukan untuk menyampaikan pesan, tetapi untuk memprovokasi reaksi. Di sinilah terlihat bagaimana kelemahan psikologis manusia dieksploitasi secara sistematis.

**Algoritma: Mesin Penguat Kemarahan**

Fenomena ini semakin menguat karena dorongan algoritma. Dalam literatur mediatisasi, Stig Hjarvard (2008) menekankan bahwa media modern tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk perilaku publik melalui logika kerjanya.

Algoritma media sosial bekerja dengan logika yang sama: ia mengutamakan konten yang menciptakan interaksi, terlepas dari kualitas atau kebenarannya. Ketika sebuah konten memancing amarah, algoritma menganggapnya “bernilai” dan memperluas jangkauannya.

**Perbedaan dengan Clickbait**

Berbeda dengan clickbait yang memanfaatkan rasa penasaran, rage bait memanfaatkan insting emosional. Interaksi negatif—sekalipun berbentuk kritik dan kecaman—dibaca sebagai sinyal bahwa konten tersebut relevan.

**Ruang Publik yang Terdistorsi**

Dalam titik ini, ruang publik digital tidak lagi beroperasi berdasarkan logika deliberatif sebagaimana digagas Habermas. Habermas (1984) menekankan bahwa ruang publik yang sehat bertumpu pada rasionalitas, dialog, dan pertukaran argumen yang jernih—bukan pada ledakan emosi yang impulsif.

Namun, dalam praktik rage bait hari ini, logika deliberatif itu sering tersisih oleh dorongan untuk mengejar interaksi dan viralitas. Ruang digital pun lebih sering digerakkan oleh logika algoritmik yang cepat, emosional, dan sarat distorsi.

**Teater Digital: Ketika Kebodohan Menjadi Performa**

Satu aspek paling menarik dari fenomena ini adalah kenyataan bahwa banyak konten yang tampak bodoh, provokatif, atau menjengkelkan sebenarnya merupakan rekayasa. Kreator konten memerankan karakter tertentu—orang dungu, pasangan yang bertengkar, pelanggan yang tidak tahu diri—untuk memancing reaksi publik.

Fenomena ini dapat dibaca melalui perspektif dramaturgi Erving Goffman (1959), yang melihat kehidupan sosial sebagai panggung tempat individu menampilkan diri sesuai kebutuhan.

**Simulasi yang Menguntungkan**

Media sosial memperluas panggung itu dan menciptakan insentif untuk memainkan peran-peran ekstrem yang menjamin perhatian. Kebodohan menjadi performa; kemarahan publik menjadi bagian dari skenario.

Inilah ironi terbesar dari rage bait: banyak dari konten yang kita kecam, hujat, atau tertawakan sebenarnya tidak autentik. Ia adalah simulasi yang dirancang untuk mengubah emosi publik menjadi angka engagement.

**Ekonomi Perhatian dan Monetisasi Kemarahan**

Dari perspektif ekonomi politik media, fenomena ini tidak lepas dari logika attention economy, yaitu ekonomi yang menjadikan perhatian manusia sebagai sumber daya. Robert Entman (1993) dalam teori framing menegaskan bahwa perhatian publik dapat diarahkan dan dibentuk melalui bingkai naratif tertentu.

Rage bait memanfaatkan bingkai yang paling sederhana: menunjukkan ketidakadilan, kebodohan, atau provokasi moral yang memancing reaksi spontan.

**Transformasi Menjadi Bisnis**

Ketika perhatian publik terkonsentrasi pada satu konten, nilai komersial konten tersebut meningkat. Di titik ini, rage bait bukan lagi aktivitas individu, tetapi bagian dari ekosistem bisnis: akun pribadi yang viral karena kemarahan publik dapat dijual, direbrand, dimonetisasi, atau bahkan dijadikan kanal komersial baru.

**Dampak Sosial: Ruang Publik yang Terkontaminasi**

Fenomena rage bait juga menimbulkan dampak sosial yang lebih luas. Ketika konten provokatif terus mendapatkan ruang, ruang publik digital perlahan terisi oleh narasi-narasi ekstrem yang tidak mencerminkan kenyataan sosial.

Publik mulai terbiasa melihat kebodohan, konflik, dan provokasi sebagai keseharian. Konsep spiral negativity menunjukkan bahwa paparan emosi negatif terus-menerus dapat mengubah persepsi publik terhadap dunia sosial.

**Keletihan Emosional Kolektif**

Alih-alih memperluas pemahaman, ruang digital justru mempersempitnya menjadi rentetan kemarahan dan kekecewaan. Pada titik tertentu, rage bait menciptakan fatigue—keletihan emosional kolektif.

Fenomena ini mengingatkan pada apa yang oleh Nicholas Carr (2010) disebut sebagai “keterpecahan perhatian”, yaitu kondisi ketika konsumsi digital membuat kita semakin sukar berpikir mendalam.

**Publik: Korban atau


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Breaking the Spell: Agama sebagai Fenomena Alam