Jarum jam menunjuk pukul dua dini hari, namun layar ponsel masih menyala terang. Jari-jari bergerak gesit, menarik timeline tanpa henti. Barisan peristiwa malang di jalan tol, rekaman banjir bandang, cuplikan kicauan tentang kenaikan harga sembako, tangkapan layar perdebatan politik yang memanas. Satu kisah suram diikuti kisah kelam berikutnya.
Meski sadar akan keanehan ini, jari tetap bergerak. Menggesek layar terus-menerus hingga mata perih dan pikiran dipenuhi keresahan. Inilah doomscrolling—perilaku kompulsif menjelajahi konten negatif di ruang digital tanpa kontrol yang memadai.
Fenomena ini bukan lagi sekadar kebiasaan buruk personal, melainkan telah menjadi wabah digital yang menimpa jutaan pengguna media sosial di Indonesia.
**Statistik Mengkhawatirkan**
Riset terkini mengungkapkan bahwa 70 persen mahasiswa di Indonesia menghabiskan lebih dari tiga jam sehari di platform media sosial. Yang lebih memprihatinkan, mereka yang mengakses lebih dari enam jam harian menunjukkan indikator doomscrolling tertinggi, dengan dampak nyata berupa kecemasan, depresi, serta gangguan pola tidur yang serius.
Pertanyaannya: mengapa kita tetap melakukannya meskipun mengetahui efek merusak tersebut?
**Dari Kepanikan Episodik ke Kronik**
Jawabannya terletak pada mekanisme yang telah diteliti Stanley Cohen sejak 1972 melalui konsep moral panic. Cohen mengkaji bagaimana media massa menciptakan kepanikan kolektif dengan memperbesar ancaman terhadap nilai moral masyarakat.
Temuan terpenting Cohen adalah kepanikan moral di era analog bersifat episodik. Kepanikan muncul sebagai tanggapan terhadap kejadian tertentu, mencapai puncak, kemudian surut mengikuti irama pemberitaan konvensional. Masyarakat memiliki waktu untuk merefleksikan, mengkritisi, dan akhirnya melampaui kepanikan tersebut.
Namun era digital menghadirkan anomali yang membatalkan pola klasik ini secara fundamental. Jika Cohen meneliti kepanikan moral yang bersifat temporer dan episodik, platform media sosial kontemporer justru membangun kepanikan yang permanen dan kronik.
**Algoritma dan Ekonomi Kepanikan**
Algoritma platform seperti X, Instagram, dan TikTok dirancang dengan presisi tinggi untuk memaksimalkan durasi layar pengguna. caranya dengan menyajikan konten yang memicu respons emosional paling kuat, tanpa memedulikan dampak psikologis jangka panjang.
Kajian akademis mengungkapkan bahwa konten dengan nuansa negatif memperoleh 70 persen lebih banyak reaksi berbagi dibandingkan konten positif. Mesin algoritma memahami pola psikologis ini dengan sempurna dan terus menyajikan narasi kelam dalam siklus yang tak pernah berakhir.
Tidak ada editor manusia yang mempertimbangkan dampak etis dari kurasi konten, melainkan kalkulasi matematis yang mengutamakan engagement di atas segala pertimbangan lainnya.
**Transformasi Kepanikan sebagai Komoditas**
Transformasi paling mendasar yang perlu dipahami adalah kepanikan moral tidak lagi bersifat episodik, tetapi telah menjadi kondisi permanen dari kehidupan digital. Setiap hari, bahkan setiap jam, kita disuguhi “kambing hitam” baru yang dijadikan objek kepanikan kolektif.
Hari ini tentang kecelakaan beruntun yang menewaskan belasan orang, besok tentang kenaikan harga sembako yang mengancam daya beli rakyat, lusa tentang skandal tokoh publik yang menghebohkan dunia maya. Siklus terus berulang tanpa jeda memadai untuk refleksi.
Platform digital tidak memberi waktu untuk pulih dari satu kepanikan sebelum kepanikan berikutnya datang. Berbeda dengan era Cohen yang masih memungkinkan masyarakat merefleksikan dan mengkritisi kepanikan yang terjadi, mesin algoritma justru mengurung kita dalam spiral kecemasan berkelanjutan.
**Kecepatan Tanpa Refleksi**
Yang lebih mengkhawatirkan adalah bagaimana algoritma secara sewenang-wenang menentukan “kambing hitam” mana yang layak mendapat amplifikasi massal. Bukan lagi editor media massa dengan pertimbangan jurnalistik yang memutuskan berita mana yang layak menempati halaman utama, tetapi mesin yang beroperasi semata-mata berdasarkan kalkulasi engagement.
Konten yang memicu amarah, ketakutan, atau kecemasan mendapat prioritas kurasi karena terbukti secara empiris membuat pengguna lebih lama menatap layar, yang pada gilirannya menghasilkan lebih banyak data dan iklan.
Dalam logika kapitalisme digital ini, kepanikan moral bukan lagi efek samping yang tidak diinginkan dari pemberitaan, tetapi telah menjadi komoditas yang sengaja diproduksi dan didistribusikan secara massal untuk meraih keuntungan maksimal.
**143 Juta Pengguna sebagai Target Pasar**
Seratus empat puluh tiga juta pengguna media sosial aktif di Indonesia merupakan pasar yang sangat menggiurkan bagi platform digital. Setiap detik perhatian yang dapat mereka ekstrak dari kepanikan kita adalah pendapatan yang dapat dimonetisasi.
Di era digital, proses pelabelan “kambing hitam” terjadi dengan kecepatan dan skala yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah manusia. Seseorang bisa menjadi target kepanikan hanya dalam hitungan jam melalui video viral yang ditonton jutaan orang, lalu dilupakan esok hari karena algoritma sudah menyiapkan target baru yang lebih sensasional.
**Manifestasi Nyata Doomscrolling**
Fenomena doomscrolling adalah wujud paling nyata dari kepanikan moral permanen ini. Kita tidak sedang mencari informasi yang bermanfaat untuk pengembangan diri atau pemahaman yang lebih dalam tentang dunia, melainkan sedang disuapi kepanikan demi kepanikan yang dikemas sebagai berita terkini.
Setiap gerakan scroll membawa kita lebih dalam ke dalam spiral kecemasan kolektif yang tidak pernah berakhir. Dan yang paling ironis, kita melakukannya secara sukarela, bahkan kompulsif, karena algoritma telah berhasil mengubah kepanikan menjadi candu digital yang sulit dilepaskan.
Mahasiswa begadang bukan untuk menyelesaikan tugas akademis atau membaca literatur yang memperkaya intelektual, tetapi untuk mengikuti perkembangan kasus yang viral hari ini, yang besok akan digantikan kasus baru yang lebih sensasional.
**Merebut Kembali Kendali**
Yang diperlukan bukan meninggalkan media sosial secara total, karena itu tidak realistis di era ketika platform digital telah menjadi infrastruktur komunikasi fundamental. Yang dibutuhkan adalah literasi kritis untuk mengenali mekanisme kepanikan moral yang dioperasikan arsitektur algoritma.
Kita perlu memahami dengan jernih bahwa tidak se
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: