Perilaku seksual sesama jenis (same-sex sexual behavior atau SSB) pada primata ternyata bukan fenomena langka atau menyimpang. Justru sebaliknya, perilaku ini dapat menjadi bagian penting dari strategi bertahan hidup, terutama ketika lingkungan semakin keras dan kehidupan sosial makin kompleks.
Temuan ini terungkap dalam riset terbaru yang membandingkan 59 spesies primata dan dipublikasikan pada 12 Januari di jurnal Nature Ecology & Evolution. Penelitian ini memperkuat pandangan bahwa keragaman perilaku seksual adalah hal umum di alam.
Hingga kini, SSB telah terdokumentasi pada sekitar 1.500 spesies hewan di berbagai kelompok. Namun, memahami mengapa perilaku ini muncul secara berulang di banyak spesies berbeda bukanlah perkara sederhana.
**Muncul dalam Kondisi Lingkungan Menantang**
Tim peneliti menemukan bahwa SSB pada primata cenderung muncul dalam kondisi ekologis yang menantang, seperti lingkungan yang lebih kering, sumber daya terbatas, serta tekanan predator yang tinggi.
Selain itu, perilaku ini juga lebih sering dijumpai pada spesies dengan sistem sosial yang kompleks, perbedaan ukuran tubuh jantan dan betina yang mencolok, serta usia hidup yang relatif panjang.
Menurut Vincent Savolainen, ahli biologi dari Imperial College London sekaligus penulis utama studi ini, SSB dapat berfungsi sebagai strategi sosial.
“Spesies yang menghadapi tekanan lingkungan dan sosial yang berat telah berevolusi—secara independen dari leluhur yang sama—untuk mengembangkan perilaku seksual sesama jenis sebagai cara mengelola tekanan tersebut,” ujarnya.
Melalui pembentukan ikatan, koalisi, dan kepercayaan, kelompok primata menjadi lebih mampu menghadapi tantangan hidup.
**Dari Bonobo hingga Monyet Hidung Pesek Emas**
Contoh paling terkenal datang dari bonobo (Pan paniscus) dan simpanse (Pan troglodytes). Pada kedua spesies ini, SSB sering dikaitkan dengan penurunan ketegangan, penyelesaian konflik, dan penguatan aliansi sosial. Dalam kondisi sumber daya terbatas, kemampuan untuk menjaga keharmonisan kelompok menjadi kunci kelangsungan hidup.
Hal serupa juga ditemukan pada monyet hidung pesek emas (Rhinopithecus roxellana) yang hidup di iklim dingin dengan sumber makanan terbatas. Pada spesies ini, SSB dan perilaku merawat tubuh (grooming) berperan penting dalam memperkuat ikatan sosial, membantu kelompok bertahan di lingkungan ekstrem.
Jika predator berlimpah, memiliki kelompok yang solid dan saling percaya menjadi keuntungan besar. “Dalam situasi seperti itu, kemampuan untuk mempercayai sinyal bahaya dari sesama anggota kelompok sangat krusial,” kata Savolainen.
SSB menjadi salah satu cara untuk membangun dan mempertahankan kepercayaan tersebut.
**Komponen Genetik Kecil, Faktor Lingkungan Dominan**
Penelitian sebelumnya pada monyet rhesus (Macaca mulatta) menunjukkan bahwa kecenderungan terhadap SSB memiliki komponen genetik sekitar 6,4 persen. Artinya, sebagian kecil perilaku ini dapat diwariskan secara genetis.
Namun, angka yang relatif kecil tersebut menunjukkan bahwa faktor lingkungan dan sosial kemungkinan memainkan peran jauh lebih besar.
Untuk itulah Savolainen dan timnya melakukan meta-analisis terhadap ratusan studi perilaku primata. Dari total 491 spesies primata yang dianalisis, SSB tercatat dan relatif umum pada 59 spesies—angka yang diyakini masih lebih rendah dari kenyataan, mengingat perilaku ini selama ini kerap kurang dilaporkan.
**Mengubah Cara Pandang**
Zanna Clay, primatolog dari Durham University yang tidak terlibat dalam studi ini, menilai temuan tersebut penting untuk mengubah cara pandang terhadap perilaku seksual.
Menurutnya, orientasi terhadap sesama jenis memiliki sejarah evolusi yang kuat dan bukan sesuatu yang “aneh” atau “tidak alami”.
“Justru kemungkinan besar ini adalah bagian dari kain evolusi masyarakat kita,” kata Clay. Ia menambahkan bahwa dalam situasi kekurangan sumber daya, kemampuan untuk bekerja sama dan saling mentoleransi menjadi sangat penting—dan SSB bisa menjadi salah satu mekanismenya.
Namun demikian, para peneliti mengingatkan agar tidak terlalu menyederhanakan temuan ini. Nathan Bailey, ahli biologi evolusi dari University of St Andrews, menekankan bahwa meski ada pola umum, setiap garis keturunan primata memiliki nuansa dan tekanan seleksi yang berbeda.
Fungsi SSB bisa saja muncul karena alasan yang berbeda-beda pada tiap spesies.
**Tidak Langsung Relevan untuk Manusia**
Studi ini secara tegas tidak membahas orientasi seksual atau identitas manusia modern. Para peneliti memang mencatat bahwa nenek moyang hominin kemungkinan menghadapi tekanan ekologis dan sosial yang serupa dengan primata lain.
Namun, tanpa data perilaku langsung dari masa lalu, menarik kesimpulan tentang evolusi orientasi seksual manusia menjadi sangat rumit.
“Saya tidak berpikir ini banyak menjelaskan apa yang terjadi pada manusia,” kata Bailey, mengingat kompleksitas budaya, identitas, dan perilaku manusia modern yang jauh melampaui konteks hewan.
Meski begitu, penelitian ini menyoroti satu hal penting yang mungkin menjadi kunci keberhasilan primata, termasuk manusia, dalam menyebar ke seluruh dunia: kemampuan beradaptasi.
“Kita tidak terikat pada satu sistem kawin atau satu pola perilaku,” ujar Clay. “Fleksibilitas perilaku, termasuk dalam ekspresi seksual, adalah bagian penting dari kesuksesan primata.”
Dengan memahami bahwa perilaku seksual sesama jenis memiliki peran sosial dan adaptif, studi ini membantu melengkapi gambaran besar tentang kehidupan sosial primata—bahwa seks bukan semata urusan reproduksi, melainkan juga alat penting untuk membangun hubungan, menjaga stabilitas, dan bertahan hidup di dunia yang penuh tantangan.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: