Di antara dahan-dahan pohon hijau abadi, sepasang mata dengan lingkaran biru cerah menatap ke sekeliling kanopi hutan batu kapur Khau Ca. Pemandangan ini merupakan sekilas perjumpaan langka dengan salah satu monyet paling terancam punah di dunia—sebuah momen yang sangat disyukuri oleh konservasionis lapangan, Canh Xuan Chu.
Monyet hidung pesek Tonkin merupakan satwa endemik Vietnam. Primata ini hanya dapat ditemukan di fragmen-fragmen hutan yang terisolasi di dua provinsi paling utara Vietnam yang berbatasan langsung dengan China.
Pada 2002, sebuah populasi yang hanya terdiri dari 50 ekor ditemukan di Khau Ca. Penemuan ini menambah daftar segelintir lokasi tempat spesies ini ditemukan kembali pada akhir 1980-an dan 1990-an, setelah sebelumnya sempat dianggap punah dari muka Bumi.
Kini, monyet-monyet tersebut hampir kehilangan seluruh habitatnya di tempat lain. Namun, berdasarkan sensus menyeluruh yang dilakukan oleh organisasi nirlaba konservasi Fauna & Flora International, populasi di Khau Ca dilaporkan telah melonjak lebih dari tiga kali lipat sejak 2002.
Saat ini, sebanyak 160 ekor monyet yang berstatus Kritis tersebut hidup aman di dalam cagar alam—mencakup sekitar 80 persen dari perkiraan total seluruh spesies yang tersisa di planet ini.
“Ini adalah salah satu survei kami yang paling sukses,” ungkap Chu, yang menjabat sebagai manajer proyek untuk program konservasi monyet hidung pesek Tonkin di Fauna & Flora International.
Hasil survei ini memberikan secercah harapan baru bagi kelangsungan hidup spesies yang rapuh tersebut, sekaligus menjadi model percontohan bagi hutan-hutan lain di Vietnam untuk memulihkan populasi primata endemik mereka.
**Karakteristik Pemalu dan Ancaman Perburuan Liar**
Meski memiliki corak wajah yang mencolok dan unik, monyet-monyet ini memiliki sifat yang sangat pemalu. Menurut Chu, mereka selalu menghindari kontak dengan manusia dan akan langsung menghilang begitu mendengar suara asing sekecil apa pun. Sifat inilah yang membuat proses penghitungan populasi mereka menjadi sangat sulit selama beberapa dekade terakhir.
Akibat diburu secara masif untuk bahan baku obat tradisional dan terkadang dikonsumsi sebagai daging buruan, keberadaan monyet hidung pesek Tonkin menjadi sangat jarang terlihat. Hal inilah yang sempat membuat para ilmuwan di tahun 1980-an berasumsi bahwa spesies ini telah punah.
Sesaat setelah populasi di Khau Ca ditemukan, Fauna & Flora International langsung mendirikan stasiun lapangan konservasi. Mereka membentuk tim konservasi berbasis masyarakat untuk berpatroli menjaga hutan, membantu membersihkan jerat hewan, serta melaporkan tanda-tanda pembalakan liar atau perburuan.
Untuk mendukung perekonomian warga lokal yang biasanya mengandalkan pendapatan dari bertani atau merambah hutan, proyek ini membuka lapangan kerja baru melalui kelompok patroli tersebut.
Mitra konservasi lainnya, seperti New Nature Foundation dan Denver Zoo, turut membantu mengurangi ketergantungan warga terhadap hutan dengan mendistribusikan kompor hemat energi yang mampu memangkas kebutuhan kayu bakar hingga 50 persen.
Tran Van On, salah satu anggota tim konservasi komunitas Fauna & Flora International, mengamati adanya peningkatan signifikan pada kesadaran masyarakat sekitar terkait pentingnya menjaga kelestarian monyet ini.
“Masyarakat kini tidak hanya lebih sadar untuk melindungi spesies endemik Vietnam ini, tetapi juga lebih menyadari pentingnya menjaga habitat hutan dan spesies satwa liar lainnya,” ujar On.
**Sensus Modern: 10 Hari di Area 1.000 Hektar**
Sensus populasi terbaru yang rampung dilaksanakan pada akhir 2025 diklaim sebagai survei yang paling komprehensif dan lengkap hingga saat ini. Lebih dari 30 orang yang terdiri dari unit konservasi dan masyarakat lokal dibagi menjadi 10 kelompok. Mereka berkemah di dalam hutan selama 10 hari berturut-turut untuk menyisir area taman nasional seluas 1.000 hektar.
Chu menjelaskan bahwa mereka menerapkan metodologi baru dengan membagi peta cagar alam menjadi beberapa sektor khusus. Setiap kelompok bertanggung jawab atas satu “sel” area untuk menghindari duplikasi penghitungan dan meningkatkan efisiensi di lapangan.
Selain pemetaan manual, tim di lapangan juga memanfaatkan teknologi modern seperti:
– Drone dengan pencitraan termal
– Kamera jebak
– Audiomoths, sensor akustik pintar yang digunakan untuk mendeteksi suara panggilan khas dari monyet tersebut.
Bagi Chu, yang telah mendedikasikan dirinya pada proyek ini selama tujuh tahun, mengenali setiap individu monyet bukanlah hal yang sulit.
“Mereka sangat berbeda: Anda bisa melihat warnanya, Anda bisa melihat ekornya; dan hal lainnya adalah, suara panggilan mereka satu sama lain berbeda, jadi itu sangat jelas,” kata Chu.
**Kisah Kontras Dua Hutan: Khau Ca vs Quan Ba**
Kondisi pemulihan yang sukses di Khau Ca berbanding terbalik dengan situasi di kawasan hutan Quan Ba, wilayah yang sebelumnya tercatat sebagai rumah bagi populasi monyet Tonkin terbesar kedua.
Berdasarkan penuturan Chu, tim patroli di Quan Ba sama sekali tidak pernah lagi melihat keberadaan spesies ini sejak 2020. Bahkan, dalam survei habitat terakhir yang dilakukan pada 2024, mereka tidak menemukan tanda-tanda kehidupan monyet tersebut sedikit pun.
Masalah terbesar di Quan Ba dipicu oleh maraknya pertanian kapulaga di dalam kawasan hutan. Kapulaga memang komoditas rempah yang berharga tinggi untuk bahan pangan dan obat-obatan, serta mampu memberikan pendapatan besar bagi petani.
Namun, budidayanya mengharuskan warga menebang pohon untuk mengurangi kelebatan kanopi hutan serta menebang kayu bakar untuk mengeringkan buah kapulaga setelah panen. Aktivitas ini lambat laun merusak ekosistem hutan yang sangat dibutuhkan monyet hidung pesek Tonkin untuk bertahan hidup.
Saat populasi kuat monyet ini pertama kali ditemukan di Quan Ba pada 2007, Fauna & Flora International sempat membentuk tiga tim patroli komunitas untuk perlindungan. Namun, tidak seperti Khau
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: