Sebuah riset terbaru berhasil mengungkap asal-usul garis-garis merah di dinding Gua Bacon Hole, Wales, Britania Raya. Garis merah yang sempat disangka sebagai fenomena geologi alami tersebut, kini terbukti merupakan seni cadas (rock art) buatan manusia purba dari 17.000 tahun lalu.
Temuan ini resmi menjadi seni cadas tertua yang pernah ditemukan di wilayah Inggris Raya.
Panel bergaris merah ini terletak jauh di dalam perut gua yang sama sekali tidak terjangkau oleh cahaya matahari. Menurut arkeolog bernama Nash, posisi sisa penanda di area gelap gulita ini kemungkinan besar sengaja dipilih untuk keperluan ritual magis atau spiritual masa lalu.
“Kegelapan itu sendiri mungkin merupakan bagian esensial dari pengalaman ritual tersebut,” ujar Nash dikutip Live Science. “Kamar-kamar gua yang dalam memiliki akustik yang tidak biasa, secara visual membingungkan, dan terpisah dari dunia sehari-hari. Memasuki ruang seperti itu dapat menciptakan sensasi transisi menuju alam yang berbeda.”
**Menjadi Magnet Kunjungan Lintas Peradaban**
Selain menyimpan seni cadas tertua, Gua Bacon Hole juga menarik perhatian para peneliti karena terus-menerus didatangi oleh berbagai generasi manusia selama milenium berikutnya.
Ekskavasi arkeologi yang dilakukan sejak abad ke-19 menemukan berbagai lapisan artefak dari era yang berbeda di dalam gua ini. Di antaranya adalah pecahan tembikar dari zaman pra-Romawi, peniti tulang dari era Kekaisaran Romawi, bros perak Irlandia dari abad ke-7, manik-manik khas zaman Saxon, hingga periuk masak dari Abad Pertengahan.
Bahkan pada tahun 1894, seorang nelayan setempat sempat meninggalkan coretan grafiti modern di dinding gua tersebut.
**Alasan di Balik Memori Budaya yang Bertahan Lama**
Secara geografis, lokasi Gua Bacon Hole terbilang strategis karena menghadap ke dataran subur dan garis pantai yang kaya akan sumber daya alam, seperti hewan buruan dan ikan. Namun, Nash menilai aspek pemenuhan kebutuhan logistik saja tidak cukup untuk menjelaskan mengapa gua ini terus dikunjungi dalam rentang waktu yang sangat lama.
“Pertimbangan praktis semata tidak dapat menjelaskan mengapa orang-orang terus mengunjungi gua ini dalam jangka waktu yang sangat lama,” kata Nash.
Menurutnya, Gua Bacon Hole telah melekat menjadi bagian dari memori lanskap dan ingatan kolektif kebudayaan yang diwariskan turun-temurun.
“Begitu sebuah tempat tertanam dalam memori budaya, tempat tersebut dapat memperoleh makna yang bertahan lama, bahkan setelah tujuan aslinya telah dilupakan,” tutur Nash. “Lokasi Bacon Hole yang menonjol, sumber daya alamnya, serta keberadaannya yang abadi di lanskap tersebut kemungkinan besar berpadu menjadikannya tempat yang terus didatangi kembali oleh generasi demi generasi.”
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: