Beberapa minggu terakhir, seekor bayi monyet bernama Punch dari Ichikawa City Zoo, Jepang, menjadi sorotan warganet di seluruh dunia. Video-video viral memperlihatkan monyet berusia sekitar 7 bulan itu sering didorong atau dijauhi oleh monyet lain yang lebih tua, kemudian kembali memeluk boneka orangutan yang selalu dibawanya.
Adegan tersebut memicu simpati publik. Banyak orang menganggap Punch “dibully” oleh kelompoknya. Namun para ilmuwan primata mengatakan bahwa realitanya jauh lebih kompleks dan berkaitan dengan struktur sosial yang sangat ketat dalam kehidupan monyet Jepang (Japanese macaques).
**Awal Masalah: Penolakan dari Induk**
Punch lahir di kebun binatang Ichikawa pada Juli tahun lalu. Tak lama setelah dilahirkan, ia ditolak oleh induknya, sesuatu yang sebenarnya jarang terjadi pada monyet jenis ini. Akibatnya, staf kebun binatang harus merawat Punch secara langsung. Mereka juga memberikan boneka orangutan sebagai pengganti induk, agar ia memiliki sesuatu yang dapat memberikan rasa aman.
Pada Januari, Punch kemudian diperkenalkan ke dalam kelompok monyet macaque di kebun binatang. Namun proses adaptasinya ternyata tidak mudah.
Sarah Turner, primatolog dari Concordia University di Kanada, menjelaskan bahwa penolakan induk sering kali terjadi karena beberapa faktor. Salah satunya adalah pengalaman induk yang baru pertama kali melahirkan.
“Seekor induk yang baru pertama kali memiliki bayi lebih mungkin mengalami kesulitan, karena ia belum tentu tahu apa yang harus dilakukan,” kata Turner. Selain itu, kemungkinan gelombang panas saat persalinan juga dapat membuat induk mengalami stres.
**Status Sosial Rendah Tanpa Perlindungan Induk**
Dalam masyarakat macaque Jepang, struktur sosial sangat jelas dan hierarkis. Posisi sosial seekor bayi biasanya sangat dipengaruhi oleh status induknya dalam kelompok. Tanpa kehadiran sang induk, Punch kehilangan dua hal penting sekaligus: perlindungan dan akses sosial.
Kristin Sabbi, primatolog dari Harvard University, menjelaskan bahwa induk biasanya menjadi penghubung penting antara bayi dengan kelompoknya. “Punch kecil kehilangan bukan hanya ibunya sebagai ikatan sosial pertama yang sangat penting, tetapi juga sebagai penghubung ke kelompok yang lebih luas,” kata Sabbi.
Induk juga biasanya membantu melindungi anaknya dari perilaku agresif monyet lain, yang sebenarnya merupakan bagian normal dari interaksi sosial mereka.
**Ketidakpahaman terhadap Bahasa Sosial Monyet**
Masalah Punch tidak berhenti di situ. Karena dibesarkan oleh manusia, ia kemungkinan tidak memahami bahasa sosial monyet lain. Menurut Turner, monyet menggunakan berbagai sinyal tubuh dan perilaku halus untuk menunjukkan status, niat, atau posisi dalam kelompok. Punch mungkin belum memahami sinyal tersebut.
“Dia sebenarnya belum benar-benar memahami spesiesnya sendiri, dan kemungkinan tanpa sengaja memberikan sinyal yang salah,” jelas Turner. Hal ini membuat interaksinya dengan monyet lain menjadi lebih rumit.
Namun para ilmuwan tetap optimistis Punch akan dapat beradaptasi. Seiring waktu, ia akan belajar menemukan posisi dalam hierarki kelompok, terutama jika berhasil berteman dengan monyet lain atau bahkan “diadopsi” oleh anggota kelompok.
**Alasan di Balik Kebiasaan Memeluk Boneka**
Salah satu hal yang paling menyentuh hati warganet adalah kebiasaan Punch memeluk boneka orangutan untuk mencari kenyamanan. Fenomena ini sebenarnya memiliki kaitan dengan eksperimen terkenal dalam psikologi primata pada tahun 1950-an yang dilakukan oleh Harry Harlow.
Dalam eksperimen tersebut, bayi monyet dipisahkan dari induknya dan diberi dua “ibu pengganti”: satu dari kawat yang menyediakan makanan, dan satu lagi dari kain lembut tanpa makanan. Hasilnya mengejutkan. Bayi monyet lebih sering memeluk ibu dari kain yang lembut.
Eksperimen ini kemudian menjadi bukti penting bahwa kehangatan dan kenyamanan emosional sama pentingnya dengan makanan dalam perkembangan bayi primata. Meski begitu, eksperimen tersebut kini dianggap tidak etis.
**Bukan Sekadar “Bullying”**
Video viral membuat banyak orang mengira Punch diperlakukan sangat buruk oleh kelompoknya. Namun para ilmuwan mengingatkan bahwa potongan video di internet tidak selalu menunjukkan gambaran penuh.
Menurut Sabbi, interaksi yang terlihat mungkin hanya bagian kecil dari kehidupan sehari-hari monyet. “Apa yang kita lihat adalah Punch sedang melalui interaksi yang cukup sulit. Tapi yang tidak terlihat adalah gambaran lebih luas tentang apa yang dialami setiap bayi monyet,” katanya.
Turner juga menilai bahwa perilaku yang terlihat dalam video sebenarnya tidak terlalu ekstrem dibandingkan dinamika sosial monyet pada umumnya. Sabbi menambahkan bahwa kesulitan seperti ini merupakan bagian normal dari proses tumbuh dan belajar dalam kelompok sosial primata.
Kabar baiknya, beberapa video terbaru menunjukkan bahwa beberapa monyet mulai mendekati Punch dan tampak lebih menerima kehadirannya. Menurut Takashi Yasunaga, kepala divisi kebun binatang dan taman botani pemerintah kota Ichikawa, Punch perlahan mulai beradaptasi dengan kelompoknya.
**Peringatan tentang Dampak Negatif Viralitas**
Meski kisah Punch menyentuh hati banyak orang, para ilmuwan juga mengingatkan adanya dampak negatif dari viralnya hewan di internet. Turner dan Sabbi khawatir banyak orang kemudian ingin memelihara monyet sebagai hewan peliharaan. Padahal macaque adalah hewan liar yang membutuhkan lingkungan sosial alami.
“Orang-orang di internet berkata, ‘Biarkan saya membawanya pulang.’ Macaque Jepang seharusnya tidak pernah dipelihara sebagai hewan peliharaan,” kata Turner.
Ia menegaskan bahwa monyet memiliki hak untuk hidup dalam komunitasnya sendiri. “Mereka berhak memiliki kehidupan sosial sebagai monyet Jepang, dan harapan terbaik bagi Punch adalah bisa hidup bersama monyet lainnya.”
Proses adaptasi Punch memang membutuhkan waktu, tetapi para ahli yakin ia akan menemukan tempatnya dalam struktur sosial kelompok. Kisahnya juga menjadi pembelajaran p
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait:
Seri Nat Geo: Mengapa Tidak? 1.111 Jawaban Beraneka Pertanyaan