Serangga Ternyata Bisa “Mendengar” Tanaman Bicara Sebelum Bertelur

Selama ini kita mengira serangga hanya mengandalkan penglihatan dan penciuman untuk mencari tempat bertelur. Namun sebuah studi terobosan menunjukkan hal yang jauh lebih kompleks. Ngengat betina ternyata dapat mendengar “klik” ultrasonik yang dipancarkan tanaman saat mengalami stres, lalu menjadikannya sebagai sinyal untuk mengambil keputusan.

Temuan ini membuka babak baru dalam pemahaman kita tentang komunikasi antarorganisme di alam.

**Tanaman Punya Sistem Komunikasi Kompleks**

Tanaman memang tidak memiliki mulut atau telinga. Namun dalam beberapa dekade terakhir, ilmuwan menemukan bahwa mereka berkomunikasi secara aktif—melalui akar, daun, zat kimia di udara, bahkan jaringan jamur bawah tanah yang dikenal sebagai “Wood Wide Web”.

Ketika diserang ulat, misalnya, beberapa tanaman melepaskan senyawa volatil ke udara untuk memperingatkan tanaman lain agar meningkatkan pertahanan diri. Di bawah tanah, jaringan mikoriza membantu tanaman berbagi nutrisi sekaligus mengirim sinyal bahaya.

Yang lebih menakjubkan, sebagian tanaman hanya mengirimkan sinyal kimia ketika “kerabatnya” berada di dekatnya, mengisyaratkan adanya kemampuan mengenali hubungan kekerabatan.

**Penemuan Bentuk Komunikasi Baru: Suara Ultrasonik**

Kini, para ilmuwan menemukan bentuk komunikasi lain: suara ultrasonik di udara. Saat mengalami kekeringan atau stres air, tanaman memancarkan getaran berbentuk klik ultrasonik. Suara ini berada di luar jangkauan pendengaran manusia, tetapi dapat merambat melalui udara.

**Kemampuan Mendengar Luar Biasa Ngengat**

Spesies yang diteliti adalah ngengat ulat daun kapas Mesir (Spodoptera littoralis). Serangga ini memiliki telinga timpani yang sensitif terhadap frekuensi 20–60 kHz, dengan sensitivitas puncak di sekitar 38 kHz—rentang yang sama dengan banyak klik yang dihasilkan tanaman stres.

Para peneliti menduga bahwa ngengat betina mungkin menggunakan suara ini untuk memilih tempat bertelur. Hasil eksperimen membuktikan dugaan tersebut.

“Setelah membuktikan pada penelitian sebelumnya bahwa tanaman menghasilkan suara, kami berhipotesis bahwa hewan yang mampu mendengar frekuensi tinggi ini dapat meresponsnya dan mengambil keputusan berdasarkan suara tersebut,” ujar salah satu penulis studi, Profesor Yossi Yovel dari Universitas Tel Aviv.

**Eksperimen Mengungkap Preferensi Bertelur**

Dalam percobaan tanpa tanaman asli, ngengat betina lebih memilih bertelur di dekat pengeras suara yang memutar rekaman suara tanaman stres. Namun ketika ngengat dibuat tuli, preferensi tersebut menghilang.

Ini membuktikan bahwa respons mereka benar-benar berasal dari pendengaran, bukan isyarat lain.

Menariknya, ketika tanaman sehat benar-benar diletakkan dalam arena dan suara stres diputar di dekat salah satunya, ngengat justru memilih tanaman yang tidak bersuara. Artinya, ketika tersedia petunjuk visual dan bau, ngengat mampu menginterpretasikan suara klik sebagai sinyal peringatan bahwa tanaman tersebut tidak dalam kondisi baik.

**Strategi Pencarian Tempat Bertelur yang Optimal**

Profesor Lilach Hadany, penulis bersama studi ini, menjelaskan: “Kami memilih fokus pada ngengat betina, yang biasanya bertelur di tanaman agar larvanya dapat memakannya setelah menetas. Kami berasumsi bahwa betina mencari lokasi optimal untuk bertelur—tanaman yang sehat dan mampu memberi nutrisi dengan baik.”

“Jadi, ketika tanaman memberi sinyal bahwa ia mengalami dehidrasi dan stres, apakah ngengat akan mengindahkan peringatan tersebut dan menghindarinya? Untuk menjawab pertanyaan ini, kami melakukan beberapa eksperimen.”

Hasilnya konsisten: ketika tanaman tampak nyata dan dapat dicium aromanya, suara stres menjadi tanda bahaya yang dihindari.

**Integrasi Suara dan Penciuman**

Penelitian ini juga menguji antena ngengat menggunakan rekaman elektroantennogram. Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan kuat dalam deteksi bau antara tanaman yang kekeringan dan yang terhidrasi dengan baik.

Artinya, ngengat tidak hanya mengandalkan satu indra, tetapi mengintegrasikan suara dan penciuman sebelum mengambil keputusan.

**Simulasi Kondisi Alami**

Di alam, satu tanaman tomat dapat menghasilkan sekitar 20 klik per menit saat stres. Dalam eksperimen, suara diputar pada frekuensi 30–60 klik per menit untuk mensimulasikan kondisi beberapa tanaman yang mengalami kekeringan.

Bahkan ketika suara kawin ngengat jantan berada dalam rentang frekuensi serupa, betina tidak menunjukkan preferensi bertelur ke arah suara jantan. Ini menunjukkan respons mereka spesifik terhadap suara tanaman.

**Bukti Pertama Interaksi Akustik Tanaman-Serangga**

Temuan ini mengungkap bukti pertama adanya interaksi akustik antara tanaman dan serangga.

“Dalam studi ini, kami mengungkap bukti pertama interaksi akustik antara tanaman dan serangga. Namun kami yakin, ini baru permulaan,” tulis para peneliti.

“Interaksi akustik antara tanaman dan hewan tanpa diragukan lagi memiliki lebih banyak bentuk dan peran yang beragam. Ini adalah bidang luas yang belum banyak dieksplorasi—sebuah dunia yang menunggu untuk ditemukan.”

**Potensi Hewan Lain sebagai “Pendengar”**

Para ilmuwan menduga bahwa hewan lain, termasuk penyerbuk atau predator serangga, mungkin juga menggunakan sinyal ultrasonik dari tanaman sebagai petunjuk lingkungan. Meski klik tanaman kemungkinan awalnya muncul sebagai efek samping dari kehilangan air, kini suara tersebut terbukti memiliki fungsi ekologis yang nyata.

**Ekosistem yang Lebih “Berisik” dari Perkiraan**

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal eLife ini memperluas pemahaman kita tentang komunikasi di alam. Jika serangga dapat mendengar tanaman, maka ekosistem mungkin jauh lebih “berisik” dan dinamis daripada yang kita bayangkan.

Bukan hanya dunia kimia dan aroma, tetapi juga dunia suara—yang selama ini tak terdengar oleh manusia—ikut membentuk perilaku makhluk hidup. Dan mungkin, ini baru awal dari kisah besar


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Aku Senang Ada: Lebah dan Serangga

Nat Geo Seranggapedia

Bernalar sebelum Klik