Sering Tak Disadari, Mengapa Buta Warna Sulit Disembuhkan?

Gangguan penglihatan warna atau buta warna seringkali menjadi kendala yang tidak disadari hingga seseorang menghadapi tes kesehatan untuk sekolah, pekerjaan, atau pembuatan Surat Izin Mengemudi. Padahal, sebagian besar kasus ini merupakan kondisi bawaan yang sudah ada sejak lahir.

**Faktor Genetik Penyebab Utama**

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr Drasthya Zarisha, SpM, menjelaskan bahwa buta warna umumnya berkaitan erat dengan faktor keturunan.

“Sebagian besar kasus gangguan penglihatan warna bersifat bawaan atau kongenital,” kata dr Drasthya seperti dikutip dari laman IPB University.

Ia menjelaskan bahwa gangguan ini terjadi akibat kelainan pada sel kerucut di retina, yaitu sel yang berperan penting dalam menangkap dan membedakan warna.

“Pada individu dengan penglihatan normal atau trikromatis, mata mampu mencampur tiga warna dasar, yaitu merah, hijau, dan biru,” urainya.

**Pola Pewarisan Melalui Ibu**

Secara genetik, buta warna kongenital berkaitan dengan gen resesif pada kromosom X, terutama untuk spektrum merah-hijau. Hal inilah yang menyebabkan kondisi ini lebih sering diturunkan melalui ibu yang berperan sebagai pembawa sifat (carrier).

Uniknya, probabilitas kejadian pada laki-laki jauh lebih tinggi dibandingkan perempuan.

“Jika seorang ibu membawa gen buta warna atau mengalaminya, maka anaknya berpotensi memiliki kondisi serupa. Untuk anak laki-laki, cukup satu gen X yang terdampak untuk mengalami buta warna, sedangkan pada perempuan dibutuhkan dua gen X yang terdampak,” jelas dr Drasthya.

**Ayah Tidak Menurunkan ke Anak Laki-laki**

Di sisi lain, seorang ayah yang buta warna tidak serta merta menurunkan kondisi tersebut kepada anak laki-lakinya, karena anak laki-laki menerima kromosom Y dari ayah dan kromosom X dari ibu.

**Metode Deteksi dengan Tes Ishihara**

Salah satu metode paling umum untuk mendeteksi gangguan ini adalah dengan menggunakan Buku Ishihara. Tes ini memanfaatkan lempeng warna pseudoisokromatis untuk menguji kemampuan mata dalam membedakan warna, khususnya pada spektrum merah-hijau.

“Untuk mengetahui lebih spesifik gen yang terlibat, dapat dilakukan pemeriksaan genetik,” tambahnya.

**Belum Ada Obat untuk Buta Warna Bawaan**

Dr Drasthya menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada metode medis yang dapat mencegah maupun menyembuhkan buta warna bawaan. Hal ini dikarenakan gangguan tersebut terletak pada “sensor warna” di retina sejak lahir.

**Strategi Adaptasi Sehari-hari**

Meski demikian, penderita buta warna tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan melakukan adaptasi. Beberapa strateginya meliputi penggunaan kode warna, pelabelan barang, hingga pemanfaatan aplikasi ponsel pintar yang mampu membantu mengidentifikasi warna secara real-time.

**Perbedaan Buta Warna Total dan Parsial**

Masyarakat juga perlu memahami bahwa buta warna tidak selalu berarti hanya melihat hitam dan putih. Ada perbedaan mendasar antara buta warna total dan parsial.

Buta warna total atau akromatopsia adalah kondisi terberat karena individu hanya dapat melihat nuansa abu-abu akibat sel kerucut yang tidak berfungsi. Sebaliknya, pada buta warna parsial, gangguan hanya terjadi pada sebagian spektrum warna saja.

“Sementara pada buta warna parsial, gangguan hanya terjadi pada sebagian spektrum warna,” pungkas dr Drasthya.

**Dampak pada Kehidupan Sehari-hari**

Kondisi buta warna dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari pemilihan profesi hingga aktivitas sederhana seperti memilih pakaian atau membaca rambu lalu lintas. Namun, dengan pemahaman yang baik dan strategi adaptasi yang tepat, penderita dapat tetap produktif.

**Teknologi Bantu Modern**

Perkembangan teknologi telah memberikan berbagai solusi bagi penderita buta warna. Aplikasi smartphone yang dapat mengidentifikasi warna, kacamata khusus, hingga filter digital menjadi alternatif untuk membantu aktivitas sehari-hari.

**Pentingnya Edukasi Keluarga**

Keluarga dengan riwayat buta warna perlu memahami pola pewarisan genetik ini. Konseling genetik dapat membantu keluarga memahami risiko dan mempersiapkan strategi yang tepat jika ada anggota keluarga yang mengalami kondisi ini.

**Screening Dini pada Anak**

Deteksi dini gangguan penglihatan warna pada anak sangat penting untuk membantu proses adaptasi sejak dini. Orang tua dapat memperhatikan tanda-tanda seperti kesulitan membedakan warna tertentu atau kebingungan dalam mengidentifikasi objek berdasarkan warna.

**Dukungan Lingkungan**

Lingkungan yang inklusif sangat membantu penderita buta warna dalam beradaptasi. Penggunaan label, kode selain warna, dan pemahaman dari orang sekitar dapat meningkatkan kualitas hidup mereka.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Genom: Kisah Spesies Manusia dalam 23 Bab