Spesies Bebek Baru Ditemukan di Chile, Terungkap dari Suara yang Unik

Di perairan dingin yang dihantam ombak di selatan Chile, para ilmuwan menemukan sesuatu yang mengejutkan: spesies baru bebek dari genus Tachyeres, kelompok unggas air yang dikenal agresif dan unik karena sebagian besar tidak bisa terbang.

Genus Tachyeres sendiri merupakan kelompok kecil dalam keluarga Anatidae—keluarga yang sama dengan bebek pada umumnya. Namun, berbeda dari kebanyakan kerabatnya, bebek-bebek ini memiliki cara bergerak yang tidak biasa.

Alih-alih terbang, mereka “mengayuh” di permukaan air dengan mengepakkan sayap seperti dayung. Perilaku inilah yang membuat mereka dijuluki steamer duck atau bebek pengayuh.

Tak hanya unik secara fisik, burung ini juga terkenal sangat teritorial dan agresif. Mereka tidak segan mempertahankan wilayahnya dengan kekerasan dari burung lain.

**Tantangan Klasifikasi yang Membingungkan**

Selama bertahun-tahun, ilmuwan mengalami kesulitan dalam mengklasifikasikan spesies dalam genus ini. Alasannya, ciri-ciri yang selama ini digunakan ternyata tidak selalu konsisten.

Dalam satu populasi Tachyeres, misalnya, bisa ditemukan individu yang bisa terbang dan yang tidak bisa terbang. Hal ini membuat batas antarspesies menjadi kabur.

“Sejarah alami Tachyeres dipenuhi dengan kepastian dan kesalahan yang saling bercampur seiring waktu,” tulis ahli burung Argentina, Bernabé López-Lanus dan Mariano Costa dalam penelitian mereka.

Kondisi ini mendorong para peneliti untuk mencari pendekatan baru dalam mengidentifikasi spesies.

**Terobosan Melalui Bioakustik**

Alih-alih mengandalkan ciri fisik, para ilmuwan beralih ke bioakustik—ilmu yang mempelajari suara makhluk hidup. Mereka menganalisis berbagai vokalisasi dari semua spesies steamer duck yang telah dikenal, menggunakan rekaman lapangan, database audio, serta analisis spektrogram.

Hasilnya cukup mengejutkan. Beberapa jenis suara, seperti bunyi “ketukan cepat” yang digunakan saat mempertahankan wilayah, ternyata mirip di berbagai spesies.

Namun ada satu jenis suara yang menjadi pembeda utama: rasping grunt atau dengusan kasar.

“Panggilan ini biasanya diucapkan secara terpisah, atau sebelum vokalisasi deklarasi teritorial,” jelas para peneliti.

Lebih dari sekadar fungsi komunikasi, pola suara ini memiliki struktur akustik yang khas untuk tiap spesies.

**Spesies Baru dari Kepulauan Chiloé**

Dari analisis tersebut, ilmuwan akhirnya mengidentifikasi spesies baru yang diberi nama Chiloe steamer duck (Tachyeres ketru).

Spesies ini endemik di wilayah Chiloé dan Aysén, Chile, dengan sebaran dari sekitar 40 derajat lintang selatan—mulai dari Valdivia hingga Semenanjung Taitao.

Secara habitat, bebek ini berbeda dari kerabat dekatnya, Magellanic steamer duck (Tachyeres pteneres):

**Tachyeres ketru:** hidup di perairan pesisir yang lebih terlindung seperti teluk dan kanal yang kaya alga
**Tachyeres pteneres:** lebih sering ditemukan di pantai terbuka yang diterpa ombak besar

**Pola Suara yang Membedakan**

Perbedaan habitat juga tercermin dalam pola suara mereka. Bebek jantan dari spesies baru ini menghasilkan suara dengan profil frekuensi berbentuk “kubah”, berbeda dari pola “segitiga tak sama sisi” milik spesies Magellanic.

Lingkungan hidup Tachyeres ketru juga sangat khas. Mereka bergantung pada hutan bawah laut yang terbentuk dari alga coklat raksasa (Macrocystis pyrifera), atau yang dikenal sebagai kelp.

“Individu dewasa yang berkembang biak akan bersaing untuk mendapatkan lokasi dengan kondisi mencari makan terbaik: kanopi hutan bawah laut dari alga coklat,” tulis para ilmuwan.

**Kehidupan di Hutan Kelp**

Habitat ini kaya akan keanekaragaman hayati, mulai dari amphipoda, gastropoda, cacing laut, hingga ikan muda—semua menjadi sumber makanan utama mereka.

Untuk mendapatkannya, bebek ini menyelam, perilaku yang memang khas dalam genus Tachyeres.

Penemuan Tachyeres ketru menegaskan bahwa masih banyak keanekaragaman hayati yang tersembunyi, bahkan dalam kelompok hewan yang sudah lama dipelajari.

**Bioakustik sebagai Kunci Taksonomi**

Lebih dari itu, penelitian ini menunjukkan pentingnya bioakustik dalam dunia taksonomi modern.

“Kasus seperti penemuan Tachyeres ketru memungkinkan kita menyimpulkan bahwa bioakustik adalah alat penting untuk memahami taksonomi spesies kriptik, bahkan dengan jumlah sampel terbatas,” ujar para peneliti.

Penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Audiornis.

Penemuan spesies baru ini bukan hanya menambah daftar keanekaragaman hayati dunia, tetapi juga membuka cara baru dalam memahami alam.

Kadang, untuk menemukan sesuatu yang baru, kita tidak hanya perlu melihat—tetapi juga mendengarkan dengan cermat.

Temuan ini membuktikan bahwa teknologi akustik modern dapat mengungkap rahasia alam yang selama ini tersembunyi di hadapan mata.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Impian Besar Si Pengangon Bebek

Genom: Kisah Spesies Manusia dalam 23 Bab

Seri Tempo: Benny Moerdani yang Belum Terungkap