Studi Genomik Ungkap Keturunan Genghis Khan Tak Sebanyak yang Diduga

Selama bertahun-tahun, beredar klaim populer bahwa 1 dari 200 pria di dunia merupakan keturunan Genghis Khan. Angka itu setara dengan sekitar 0,5% populasi pria global—jumlah yang luar biasa besar untuk satu garis keturunan.

Namun, studi genomik terbaru menunjukkan bahwa perkiraan tersebut kemungkinan terlalu tinggi. Penelitian yang dipublikasikan pada 19 Februari di jurnal PNAS ini mengungkap bahwa jumlah pria modern yang benar-benar memiliki hubungan garis ayah dengan sang penakluk legendaris ternyata jauh lebih sedikit dari yang diasumsikan sebelumnya.

**Pencarian DNA di Mausoleum Kazakhstan**

Menurut legenda rakyat Kazakhstan, jasad Jochi—putra sulung Genghis Khan—dimakamkan di sebuah mausoleum di wilayah Ulytau, dataran tinggi Kazakhstan bagian tengah. Namun ketika para arkeolog meneliti kerangka dari makam abad pertengahan tersebut, mereka tidak menemukan bukti bahwa itu adalah Jochi.

Sebaliknya, mereka menemukan sesuatu yang tak kalah menarik: jejak garis keturunan genetik langka yang mungkin diturunkan langsung dari Genghis Khan.

**Warisan Kekaisaran Mongol**

Genghis Khan, yang lahir dengan nama Temüjin di Pegunungan Khentii, Mongolia timur laut, mendirikan Kekaisaran Mongol pada tahun 1206. Berkat kemampuan luar biasa dalam berkuda dan memanah, pasukan Mongol menaklukkan wilayah yang membentang dari Samudra Pasifik hingga Eropa Tengah.

Bersama istrinya, Börte, Genghis Khan memiliki empat putra dan lima putri. Putra sulungnya, Jochi (juga dieja Joshi, Zhoshi, atau Jüshi), lahir sekitar tahun 1182 dan wafat sekitar 1227, tak lama sebelum ayahnya meninggal.

Wilayah barat laut Kekaisaran Mongol yang diperintah Jochi kemudian dikenal sebagai Golden Horde.

**Analisis Kromosom Y Kuno**

“Golden Horde diperintah oleh putra sulung Genghis Khan dan keturunannya selama banyak generasi,” kata Ayken Askapuli, antropolog biologis dari University of Wisconsin-Madison. “Dan sejauh ini, belum ada data DNA kuno yang diperoleh dari individu-individu tersebut.”

Untuk menelusuri jejak genetik keluarga dekat Genghis Khan, Askapuli dan timnya menganalisis kerangka pria dari tiga mausoleum abad pertengahan di wilayah Ulytau. Makam-makam itu diyakini sebagai tempat peristirahatan Jochi dan elit Golden Horde lainnya.

Para peneliti memeriksa DNA, khususnya kromosom Y—materi genetik yang diwariskan dari ayah ke anak laki-laki.

**Temuan Garis Keturunan Langka**

Dua dari kerangka pria tersebut, berdasarkan penanggalan karbon, hidup antara tahun 1286 hingga 1398. Artinya, mereka bukan anak langsung Genghis Khan, tetapi kemungkinan keturunannya.

Hasil analisis menunjukkan bahwa dua pria tersebut berbagi garis keturunan paternal (garis ayah) yang sama. Menariknya, garis yang sama juga ditemukan pada seorang pria dari abad ke-18.

Garis keturunan ini diduga berkaitan dengan Genghis Khan. Namun ada kendala besar dalam memastikan hal itu: hingga kini, jasad Genghis Khan belum pernah ditemukan.

“Tidak ada yang tahu persis seperti apa DNA kromosom Y miliknya,” ujar Askapuli. “Bukan hanya dari dia, tetapi juga putra-putra, cucu-cucu, dan kerabat dekatnya—tidak ada yang diketahui. Jadi ini adalah upaya untuk menjawab pertanyaan tersebut.”

**Koreksi terhadap Klaim Lama**

Klaim bahwa 1 dari 200 pria di dunia adalah keturunan Genghis Khan berasal dari studi tahun 2003 yang diterbitkan di American Journal of Human Genetics. Penelitian itu menemukan garis keturunan kromosom Y yang tidak biasa, disebut C3*, yang muncul di Mongolia sekitar 1.000 tahun lalu dan kini tersebar luas di wilayah bekas Kekaisaran Mongol.

Para peneliti saat itu menyimpulkan bahwa garis C3* kemungkinan besar dibawa oleh keturunan laki-laki Genghis Khan, sehingga sekitar 0,5% pria dunia diduga memiliki hubungan darah dengannya.

**Kompleksitas Kluster Genetik**

Namun studi terbaru menemukan fakta yang lebih kompleks. Askapuli dan timnya mendapati bahwa ketiga pria dari mausoleum Golden Horde memang memiliki haplotipe kromosom Y dalam kluster C3*—kluster yang sebelumnya dihipotesiskan sebagai milik Genghis Khan.

“Kromosom Y yang mereka miliki termasuk dalam kluster C3* yang sebelumnya diduga sebagai milik Genghis Khan,” kata Askapuli, “tetapi cabang yang ini sangat langka dalam populasi modern.”

Ternyata, kluster C3* merupakan keluarga genetik yang sangat besar dengan banyak cabang berbeda—sesuatu yang belum sepenuhnya dipahami pada tahun 2003.

**Cabang Langka yang Berbeda**

“Kluster ini memiliki banyak cabang,” jelas Askapuli, “dan elit Golden Horde memiliki salah satu cabang tersebut.”

Cabang spesifik yang ditemukan pada kerangka di mausoleum itu jauh lebih jarang dibandingkan cabang yang menjadi dasar klaim “1 dari 200 pria” pada studi 2003.

Artinya, jumlah pria modern yang benar-benar memiliki hubungan langsung dengan garis ayah Genghis Khan kemungkinan jauh lebih sedikit dari perkiraan sebelumnya.

**Percampuran Etnis di Golden Horde**

Selain menelusuri garis paternal, para ilmuwan juga mempelajari latar belakang genetik keseluruhan dari individu-individu tersebut. Mereka menemukan bahwa elit Golden Horde ini sebagian besar memiliki nenek moyang dari populasi Ancient Northeast Asian (ANA) atau Asia Timur Laut Kuno.

Selain itu, terdapat kontribusi genetik dari Kipchak—kelompok nomaden yang berkerabat dengan bangsa Skithia timur dan hidup di Stepa Eurasia sebelum akhirnya terintegrasi ke dalam Golden Horde pada Abad Pertengahan.

Temuan ini menegaskan bahwa Kekaisaran Mongol dan Golden Horde merupakan entitas multietnis dengan percampuran genetik yang kompleks.

**Misteri yang Belum Terpecahkan**

Meski studi ini mempersempit kemungkinan garis keturunan Genghis Khan,


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Yang Tak Terkatakan tentang Menuju Dewasa

Mencari Identitas: Orang Arab Hadrami di Indonesia

Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran