Tanah Makin Ambles, 75 Persen Pesisir Jawa Terancam Banjir Rob 2050

Ancaman banjir pesisir di Pulau Jawa selama ini kerap dikaitkan dengan naiknya permukaan air laut akibat perubahan iklim global. Namun, sebuah penelitian terbaru mengungkapkan fakta yang lebih mengkhawatirkan: penurunan muka tanah (land subsidence) jauh lebih dominan menenggelamkan Jawa dibandingkan kenaikan air laut itu sendiri.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances dengan judul “Sinking land drives coastal flood risk on densely populated Java Island” mengungkap bahwa aktivitas manusia di tingkat lokal menjadi pemicu utama bencana masa depan ini.

**Teknologi Canggih Ungkap Kenyataan Mengkhawatirkan**

Tim peneliti yang dipimpin oleh Leonard Ohenhen dari Department of Earth Systems Science University of California, serta pakar geosains Manoochehr Shirzaei dari Virginia Tech mengungkap bahwa amblasnya tanah di Jawa disebabkan oleh kombinasi faktor alam dan manusia. Arif Aditya dari Badan Informasi Geospasial (BIG) juga terlibat dalam penelitian ini.

Tim menggunakan data radar satelit canggih dan teknik machine learning untuk memetakan penurunan tanah di seluruh Pulau Jawa dengan detail yang belum pernah ada sebelumnya.

**Fakta Mengejutkan dari Hasil Penelitian**

Hasilnya mengejutkan. Penurunan muka tanah di berbagai titik di Jawa tercatat mencapai 1 hingga 15 sentimeter per tahun. Angka ini jauh melampaui laju kenaikan permukaan air laut global yang rata-rata “hanya” beberapa milimeter per tahun.

“Kita sering membingkai bahaya kenaikan permukaan laut sebagai proses yang didorong oleh iklim. Namun, di banyak wilayah paling rentan di dunia, penurunan tanah akibat ulah manusia adalah pendorong utamanya,” ujar Shirzaei, dikutip dari EurekAlert.

**Faktor Penyebab Utama Amblasnya Tanah**

Temuan kunci menunjukkan bahwa pengambilan air tanah di kawasan perkotaan, penggunaan air untuk pertanian, ekstraksi industri, serta pemadatan sedimen alami di wilayah delta sungai menjadi biang keladi utamanya.

Meskipun perubahan iklim global menaikkan level samudra, aktivitas lokal—terutama ekstraksi air tanah—justru mempercepat penurunan tanah dan memperparah risiko banjir.

**Proyeksi Mengerikan Tahun 2050**

Dengan mengintegrasikan pengamatan satelit dan proyeksi kenaikan permukaan laut, para peneliti mendemonstrasikan beberapa fakta krusial:

**Dominasi Penurunan Tanah:** Penurunan muka tanah akan menyumbang hingga 85 persen dari kenaikan permukaan laut relatif di sepanjang sebagian besar garis pantai Jawa pada tahun 2050.

**Risiko Jangka Pendek:** Lebih dari 75 persen garis pantai Jawa akan didominasi oleh risiko banjir yang dipicu oleh penurunan tanah dalam 25 tahun ke depan.

**Inovasi Metodologi Penelitian**

Untuk mengatasi kurangnya pemantauan berbasis darat di banyak wilayah, para peneliti mengembangkan pendekatan inovatif menggunakan data satelit untuk membuat “alat pengukur pasang surut virtual” setiap 5 kilometer di sepanjang garis pantai.

**Peringatan Global dari Kasus Jawa**

Meskipun fokus penelitian pada Pulau Jawa, temuan ini memiliki implikasi global. Apa yang terjadi di Jawa dianggap sebagai cermin bagi wilayah pesisir lain di dunia yang menghadapi dinamika serupa namun sering kali tidak terlihat.

“Apa yang kita lihat di Jawa kemungkinan besar adalah pratinjau dari apa yang bisa terjadi di tempat lain jika penurunan tanah tidak dipantaui dan dikelola dengan benar,” ujar Leonard Ohenhen, penulis utama studi tersebut.

**Dampak Sosial-Ekonomi yang Masif**

Pulau Jawa sebagai rumah bagi lebih dari 140 juta penduduk Indonesia menghadapi risiko yang sangat serius. Wilayah-wilayah pesisir yang menjadi pusat ekonomi dan pemukiman padat akan mengalami dampak paling signifikan.

Infrastruktur penting seperti pelabuhan, bandara, dan kawasan industri di pesisir berpotensi mengalami kerusakan permanen akibat kombinasi penurunan tanah dan kenaikan air laut.

**Solusi Lokal untuk Masalah Global**

Manoochehr Shirzaei menekankan bahwa adaptasi iklim yang efektif harus melampaui sekadar mengelola kenaikan laut, tetapi juga mencakup pemantauan aktif dan mitigasi penurunan tanah.

Berita baiknya, penurunan tanah adalah komponen risiko pesisir yang paling mungkin untuk segera ditindaklanjuti secara mandiri.

**Keunggulan Pengelolaan Lokal**

“Berbeda dengan kenaikan air laut global yang memerlukan solusi global, penurunan tanah sering kali dapat dikelola secara lokal melalui kebijakan, infrastruktur, dan penggunaan sumber daya yang berkelanjutan,” tegas Shirzaei.

Hal ini menjadikan pengelolaan tanah sebagai tuas kritis untuk membangun ketahanan wilayah pesisir di masa depan.

**Strategi Mitigasi yang Diperlukan**

Para ahli merekomendasikan beberapa langkah strategis untuk mengatasi masalah penurunan tanah di Jawa, antara lain:

1. Pengendalian ekstraksi air tanah melalui regulasi yang ketat
2. Pengembangan sumber air alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada air tanah
3. Implementasi sistem monitoring penurunan tanah secara real-time
4. Perencanaan tata ruang pesisir yang mengintegrasikan risiko penurunan tanah

**Urgensi Tindakan Segera**

Dengan proyeksi yang menunjukkan percepatan penurunan tanah dalam dua dekade mendatang, tindakan mitigasi perlu dilakukan segera. Keterlambatan dalam pengambilan kebijakan akan mengakibatkan kerugian ekonomi dan sosial yang jauh lebih besar.

**Teknologi Monitoring Berkelanjutan**

Penggunaan teknologi satelit dan kecerdasan buatan dalam penelitian ini menunjukkan potensi besar untuk monitoring berkelanjutan. Sistem peringatan dini berbasis teknologi canggih dapat membantu mengantisipasi wilayah-wilayah yang berisiko tinggi mengalami penurunan tanah drastis.

**Pelajaran untuk Indonesia dan Dunia**

Kasus Pulau Jawa memberikan pelajaran berharga bagi Indonesia dan negara-negara lain dengan wilayah pesisir padat penduduk. Pengelolaan sumber daya air dan tata ruang yang berkelanjutan menjadi kunci utama untuk mencegah bencana serupa di masa depan.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Manusia dan Air dalam Senjang Pembangunan di Indonesia

Seri Tempo: Kisah Berdesir dari Pesisir Laut