Ternyata Belum Punah! Ilmuwan Temukan Dua Marsupial dari Zaman Es di Hutan Papua

Dua jenis marsupial yang selama ini dipercaya telah lenyap sejak berakhirnya Zaman Es rupanya masih bertahan hidup di kedalaman hutan Papua. Temuan ini mengguncang dunia zoologi dan membuktikan bahwa kekayaan hayati Papua masih menyimpan rahasia yang belum terungkap.

Studi yang terbit pada 6 Maret dalam jurnal Records of the Australian Museum memastikan bahwa kusu kerdil jari panjang (Dactylonax kambuayai) dan kusu layang ekor cincin (Tous ayamaruensis) masih menghuni hutan hujan Semenanjung Vogelkop di Papua Barat Daya.

Kedua satwa ini sebelumnya hanya dikenal melalui fosil berumur sekitar 6.000 tahun dari periode peralihan Zaman Es menuju Holosen. Ditemukannya mereka dalam keadaan hidup menjadi peristiwa langka dalam sejarah ilmu pengetahuan modern.

“Menemukan satu spesies Lazarus saja sudah luar biasa, tetapi menemukan dua spesies yang diduga musnah selama ribuan tahun benar-benar mencengangkan,” ujar Tim Flannery, peneliti utama dari Melbourne Sustainable Society Institute.

**Konsep “Spesies Lazarus”**

Kedua hewan ini tergolong dalam kategori Lazarus taxa—sebutan untuk makhluk hidup yang menghilang dari rekam fosil dalam kurun waktu sangat panjang hingga dianggap punah, kemudian tiba-tiba ditemukan masih eksis di alam.

Fenomena semacam ini tergolong jarang, khususnya pada kelompok mamalia. Penemuan di Papua juga memberikan wawasan berharga mengenai riwayat evolusi wilayah tersebut.

Flannery menjelaskan, kawasan Vogelkop memiliki kaitan geologis dengan Australia. “Vogelkop adalah fragmen purba benua Australia yang kemudian terpisah menjadi bagian dari kepulauan. Hutan di area ini mungkin masih menyimpan jejak-jejak masa lalu Australia yang tersembunyi,” terangnya.

**Kusu Kerdil dengan Jari Istimewa**

Dactylonax kambuayai atau kusu kerdil jari panjang adalah marsupial berukuran mungil dengan panjang tubuh sekitar 17,6 sentimeter dan ekor 18 sentimeter. Kepalanya dihiasi motif garis-garis hitam putih yang kontras.

Ciri paling istimewa terletak pada ekstremitasnya. Jari keempat hewan ini memiliki panjang dua kali lipat dibanding jari lainnya, berfungsi sebagai perangkat khusus untuk berburu makanan.

Menggunakan jari yang memanjang itu, kusu dapat menggali larva kumbang dari batang kayu lapuk. Teknik perburuan ini menyerupai strategi primata aye-aye di Madagaskar yang memanfaatkan jari elongasi untuk mengekstrak serangga dari dalam kayu.

Riset juga mengindikasikan bahwa telinga kusu ini mampu menangkap gelombang suara berfrekuensi rendah, termasuk bunyi larva yang bergerak di dalam batang pohon.

**Genus Baru yang Mengejutkan**

Spesies kedua bahkan lebih mencengangkan. Para ahli tidak sekadar menemukan kembali satwa ini, melainkan juga menetapkannya sebagai genus baru dengan nama Tous. Dalam taksonomi mamalia kontemporer, penetapan genus baru termasuk kejadian yang amat jarang.

Tous ayamaruensis memiliki kekerabatan dengan greater glider Australia—marsupial yang dapat meluncur antarpepohonan menggunakan membran kulit yang membentang dari siku ke pergelangan kaki.

Namun, Tous berukuran lebih kompak dan memiliki karakteristik khas: telinga tanpa bulu, ekor yang dapat mencengkeram dahan, serta mata besar yang menunjukkan aktivitas nokturnal.

Satwa ini mendiami kanopi hutan primer dan memakan getah pohon yang diperoleh dengan cara menyayat kulit batang menggunakan cakar. Layaknya kerabatnya di Australia, kusu ini juga bermukim di rongga pohon dan umumnya hidup berpasangan seumur hidup.

Reproduksi mereka berlangsung lambat dengan hanya melahirkan satu anak per tahun. Ketergantungan tinggi pada pohon tua membuat spesies ini amat rentan terhadap aktivitas penebangan hutan.

**Kontribusi Kearifan Lokal**

Rediscovery kedua spesies langka ini bukan semata hasil kerja peneliti internasional, tetapi juga berkat pengetahuan masyarakat adat Papua. Tim peneliti menjalin kerjasama dengan suku Tambrauw dan Maybrat yang telah lama mengenal satwa tersebut dengan sebutan lokal Tous wan atau Tous wansai.

Bagi komunitas adat tertentu, kusu layang dianggap binatang suci. Dalam pandangan kosmologis mereka, hutan habitat satwa ini dipercaya sebagai pusat semesta atau sumber kehidupan.

Di beberapa daerah, masyarakat bahkan menerapkan tabu untuk berburu atau menyebut nama satwa tersebut. Keyakinan ini tanpa disadari telah membantu preservasi spesies selama ribuan tahun.

**Strategi Perlindungan Lokasi**

Meskipun menjadi berita gembira bagi komunitas saintifik, keberadaan kedua marsupial ini masih sangat fragil. Ancaman primer yang mereka hadapi meliputi deforestasi, fragmentasi habitat, dan perdagangan fauna ilegal.

Atas dasar itu, para peneliti sengaja merahasiakan koordinat tepat penemuan untuk mencegah perburuan atau trafficking ilegal.

“Temuan ini menekankan urgensi pelestarian wilayah bioregion unik seperti Papua dan membuktikan krusialnya kolaborasi dengan komunitas lokal dalam membuka tabir keanekaragaman hayati yang tersembunyi,” kata Flannery.

Penemuan dua spesies yang dikira telah punah ini mengingatkan para saintis bahwa biodiversitas Papua masih menyimpan banyak teka-teki. Kawasan hutan hujan di Semenanjung Vogelkop yang relatif belum terjamah eksplorasi berpotensi menjadi habitat spesies langka lainnya yang belum dikenali sains.

Bila asumsi ini benar, hutan Papua bukan hanya vital bagi Indonesia, tetapi juga bagi kronologi evolusi kehidupan di planet ini.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Kembali ke Kampung Adat: Meniti Jalan Perubahan di Tanah Papua

Genom: Kisah Spesies Manusia dalam 23 Bab